Dari Kobaran Api hingga Podium Juara, Cerita 15 Bhayangkara di Bawah Komando AKBP Naim Ishak

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 08 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Dari Kobaran Api hingga Podium Juara, Cerita 15 Bhayangkara di Bawah Komando AKBP Naim Ishak

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Pagi belum terlalu tinggi ketika barisan personel Polres Fakfak berdiri rapi di Lapangan Apel, Senin, 7 September 2026. Seragam cokelat mereka tampak seragam dari kejauhan. Namun di balik barisan itu, ada cerita yang berbeda-beda.

Ada yang sehari-hari bergulat dengan laporan dan persoalan hukum. Ada yang turun ke wilayah rawan kebakaran ketika hutan dan lahan mulai dilalap api. Ada pula yang meninggalkan meja kerja untuk berdiri di atas matras, bertanding membawa nama Fakfak.

Pagi itu, cerita-cerita tersebut bertemu di satu tempat.

Kapolres Fakfak AKBP Naim Ishak, S.H., S.I.K., M.H., berdiri di hadapan mereka. Bukan untuk sekadar memimpin upacara, melainkan menyerahkan penghargaan kepada 15 personel yang dinilai menunjukkan dedikasi dan prestasi.

Satu per satu nama dipanggil.

Penghargaan itu mungkin hanya berupa piagam. Tetapi jalan menuju selembar kertas tersebut tidak sesederhana bentuknya.

Di baliknya ada waktu yang dikorbankan, medan yang ditempuh, latihan yang dijalani, serta pekerjaan yang harus diselesaikan ketika sebagian orang mungkin sudah meninggalkan tempat tugas.

Ketika Polisi Berhadapan dengan Api

Di Bomberay, Kokas dan Karas, pekerjaan polisi kadang membawa mereka ke tempat yang jauh dari kenyamanan kantor.

Ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi, mereka harus bergerak. Api tidak menunggu laporan selesai diketik. Asap tidak mengenal jam kerja. Dan masyarakat yang berada di sekitar lokasi kebakaran tidak bisa diminta menunggu sampai situasi menjadi lebih baik.

Personel Polsek Bomberay, Kokas dan Karas mendapat penghargaan atas peran mereka dalam penanggulangan Karhutla di wilayah masing-masing.

Medannya tidak selalu mudah. Sarana dan prasarana pun tidak selalu ideal.

Namun di tengah keterbatasan itu, mereka tetap berada di lapangan.

Ada pekerjaan yang mungkin tidak masuk dalam foto penghargaan. Tidak ada podium untuk mereka. Tidak ada medali yang dikalungkan. Tetapi ketika api harus dihadapi dan masyarakat membutuhkan bantuan, mereka hadir.

Di situlah makna pengabdian menemukan bentuknya yang paling sederhana: datang ketika dibutuhkan.

Dari Matras, Nama Fakfak Dibawa Pulang sebagai Juara

Cerita berbeda datang dari arena olahraga.

AIPTU Rizal Rusli, S.H. dan AIPTU Aladin tidak hanya dikenal sebagai personel kepolisian. Mereka juga menjadi bagian dari Tim Taekwondo Kota Pala Fakfak yang berhasil meraih Juara Umum Turnamen Kejuaraan Taekwondo Junior Pelajar se-Papua Barat dan Papua Barat Daya Tahun 2026.

Di atas matras, seragam kepolisian berganti dengan pakaian pertandingan. Yang tersisa adalah konsentrasi, teknik, keberanian dan disiplin.

Setiap gerakan memiliki konsekuensi. Setiap pertandingan menguji mental.

Prestasi itu kemudian membawa nama Fakfak ke panggung yang lebih luas.

Cerita lain datang dari BRIGPOL Radiah Hindom. Ia meraih Juara I kategori Dewasa Kelas G pada Turnamen Pencak Silat Piala Gubernur Papua Barat Daya.

Medali memang menjadi hasil akhirnya.

Tetapi seperti semua kemenangan, ada sesuatu yang tidak terlihat di atas podium: latihan berulang, tubuh yang ditempa, disiplin menjaga kemampuan, dan keberanian menghadapi lawan.

Bagi kepolisian, prestasi semacam itu memiliki arti tambahan. Sebab kedisiplinan yang dibutuhkan seorang atlet tidak jauh berbeda dengan karakter yang dibutuhkan seorang anggota Polri.

Prestasi yang Tidak Berhenti pada Individu

Penghargaan pagi itu tidak hanya menjadi milik 15 personel.

Bag Ops, Sat Reskrim dan SPKT Polres Fakfak juga menerima penghargaan setelah masing-masing meraih peringkat pertama tingkat Polres jajaran Polda Papua Barat dalam pelaksanaan Gelar Operasional Triwulan II Tahun 2026.

Di sini, cerita bergeser dari individu menjadi organisasi.

Bag Ops bekerja memastikan fungsi operasional berjalan. Sat Reskrim berhadapan dengan persoalan penegakan hukum. Sementara SPKT menjadi salah satu pintu pertama masyarakat ketika membutuhkan pelayanan kepolisian.

Tiga fungsi berbeda.

Tetapi hasilnya bertemu pada satu titik: prestasi organisasi.

Bagi AKBP Naim Ishak, capaian tersebut layak diapresiasi. Namun ia tidak ingin anak buahnya berhenti di sana.

Sebab penghargaan, dalam pandangannya, bukanlah garis akhir.

“Yang lebih penting adalah bagaimana prestasi tersebut dapat dipertahankan dan ditingkatkan pada TW III,” kata Naim.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun bagi sebuah organisasi, mempertahankan prestasi sering kali jauh lebih sulit daripada meraihnya untuk pertama kali.

Hari ini menjadi juara. Besok harus membuktikan kembali.

Hari ini mendapat penghargaan. Besok masyarakat kembali menunggu pelayanan.

Piagam dan Ujian Sesungguhnya

Ada kecenderungan dalam banyak organisasi untuk menjadikan penghargaan sebagai akhir cerita.

Nama diumumkan. Piagam diserahkan. Foto diambil. Setelah itu, semuanya kembali seperti biasa.

Naim tampaknya ingin menghindari pola tersebut.

Ia mengingatkan personelnya bahwa prestasi Polri tidak cukup diukur melalui angka dan peringkat. Sebab di luar pagar markas kepolisian, ada ukuran lain yang jauh lebih sulit dihitung: kepercayaan masyarakat.

Kekuatan utama Polri, kata Naim, berada pada personelnya.

Karena itu disiplin, loyalitas dan kekompakan harus terus dijaga. Pelayanan kepada masyarakat juga harus cepat, tepat dan humanis, termasuk melalui layanan kepolisian 110.

Di titik itu, penghargaan berubah makna.

Piagam bukan lagi sekadar bukti bahwa seseorang pernah melakukan sesuatu dengan baik. Ia menjadi pengingat bahwa standar tersebut harus dipertahankan.

Cerita yang Belum Selesai

Sekitar pukul 09.10 WIT, upacara berakhir. Barisan mulai bubar. Lapangan yang sebelumnya dipenuhi personel kembali lengang.

Tetapi cerita 15 Bhayangkara itu belum selesai.

Bagi mereka yang menangani Karhutla, ancaman kebakaran belum mengenal penghargaan.

Bagi mereka yang berprestasi di arena olahraga, kemenangan hari ini bukan jaminan kemenangan berikutnya.

Bagi Bag Ops, Sat Reskrim dan SPKT, peringkat pertama Triwulan II bukan tiket untuk berhenti berbenah.

Dan bagi AKBP Naim Ishak, penghargaan pagi itu adalah sebuah pesan kepada seluruh personel: prestasi harus melahirkan tanggung jawab yang lebih besar.

Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak akan bertanya berapa banyak piagam yang tergantung di dinding kantor polisi.

Mereka akan bertanya sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Ketika kebakaran datang, apakah polisi hadir?

Ketika masyarakat membutuhkan pelayanan, apakah polisi merespons?

Ketika hukum harus ditegakkan, apakah polisi berdiri di tempat yang benar?

Dan ketika nama Fakfak dipertaruhkan di arena olahraga, apakah ada Bhayangkara yang bersedia membawa nama daerah itu pulang sebagai juara?

Pagi itu, 15 nama mendapatkan penghargaan.

Namun sesungguhnya yang sedang diuji bukan hanya mereka.

Yang sedang diuji adalah konsistensi pengabdian setelah tepuk tangan berhenti.
 

Writter : Humas Polres | Editor : Den