Dari 1,6 Ton Menuju 5 Ton, Bomberay-Tomage Menantang Kemarau dan Mengejar Lompatan Padi

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 29 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Dari 1,6 Ton Menuju 5 Ton, Bomberay-Tomage Menantang Kemarau dan Mengejar Lompatan Padi

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Hamparan sawah di Bomberay–Tomage menyimpan persoalan yang lebih besar daripada sekadar soal panen. Di kawasan yang diproyeksikan sebagai penyangga ketahanan pangan Fakfak itu, produktivitas padi masih tertahan oleh satu masalah klasik: air.

Musim kemarau membuat hasil panen turun tajam. Lahan yang seharusnya dapat menghasilkan 2,5 hingga 3 ton per hektare kini hanya mampu menghasilkan sekitar 1,1 hingga 1,5 ton berdasarkan pengukuran ubinan.

Namun, bagi Koordinator BPP Serubur, Kementerian Pertanian, Benyamin Unwakoli, S.P., M.Si., angka tersebut bukan alasan untuk menyerah. Justru sebaliknya, hasil panen itu menjadi titik awal untuk memperbaiki sistem pertanian di Bomberay–Tomage.

“Kalau irigasi teknis sudah tersedia, kita harus mulai bermain di kelas bukan lagi dua ton, tetapi tiga, empat, bahkan lima ton,” kata Benyamin.

Panen perdana di SP1 Bimajaya dan Wamar menjadi gambaran nyata persoalan tersebut.

Dalam kondisi kemarau, petani mengelola sekitar 9 hektare lahan. Selain itu, terdapat 2 hektare lahan yang dikelola oleh Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 808/Mbaham Matta. Total luas lahan yang telah dikelola mencapai 11 hektare.

Untuk lahan petani, panen perdana dilakukan pada musim tanam kedua. Hasilnya memang menurun dibandingkan kondisi normal. Berdasarkan sistem ubinan, produktivitas berada di kisaran 1,2 hingga 1,6 ton per hektare.

Pada pengukuran lain yang dilakukan bersama Badan Pusat Statistik, hasil berada pada kisaran 1,2 hingga 1,6 ton per hektare.

Angka itu tidak berdiri sendiri. Ia merupakan konsekuensi dari pola pertanian yang selama ini sangat bergantung pada curah hujan.

Petani Bomberay–Tomage belum sepenuhnya menggunakan sistem irigasi teknis. Padahal, tanaman padi membutuhkan pengaturan air yang presisi. Ada fase pertumbuhan yang membutuhkan genangan dan ada fase yang justru membutuhkan kondisi lahan lebih kering.

Sistem tersebut dikenal sebagai Alternate Wetting and Drying atau AWD.

“Selama ini teman-teman petani lebih banyak menggunakan sistem pertanian yang bergantung pada hujan. Padahal dalam budidaya padi ada fase tertentu yang harus tergenang dan ada fase tertentu yang harus kering,” ujar Benyamin.

Pompa, BBM, dan Biaya Produksi

Upaya mengatasi persoalan air sebenarnya sudah dilakukan. Petani mendapatkan dukungan irigasi pompa. Masalahnya bergeser ke biaya operasional.

Harga BBM yang tinggi di wilayah tersebut membuat pengoperasian pompa menjadi beban tambahan bagi petani.

Karena itu, BPP Serubur telah berdiskusi dengan dinas terkait agar petani dapat mengakses BBM bersubsidi sesuai ketentuan yang berlaku.

Menurut Benyamin, dukungan tersebut penting karena air bukan lagi sekadar persoalan teknis. Ia telah menjadi faktor yang menentukan apakah petani dapat terus menanam atau memilih berhenti.

Di sisi lain, pemerintah juga mulai mendorong pembangunan irigasi yang lebih permanen.

Melalui program yang dikawal BPP, lahan sawah telah mendapatkan penetapan untuk menerima bantuan irigasi saluran tertutup. Nilai usulannya sekitar Rp159 juta.

Sistem pengairan tersebut dirancang menggunakan mesin pompa bertenaga surya dan dilaksanakan secara padat karya.

Dana bantuan nantinya dikelola melalui rekening kelompok tani dengan pendampingan dan pengawalan. Kelompok tani juga diberi tanggung jawab terhadap pembelian, pemanfaatan, serta perawatan peralatan.

Bagi Benyamin, pendekatan tersebut penting agar bantuan tidak berhenti sebagai proyek pemerintah. Petani harus menjadi pemilik sekaligus pengelola sistem yang dibangun.

Ketahanan Pangan Tak Cukup dengan Menanam

Bomberay–Tomage juga mulai menjadi ruang eksperimen untuk berbagai inovasi.

Bersama tim Patriot, BPP Serubur tengah mendorong pengembangan sistem minapadi. Model ini menggabungkan budidaya ikan dengan tanaman padi dalam satu ekosistem produksi.

Kolaborasi tersebut diharapkan membuka sumber pendapatan baru bagi petani sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan.

Benyamin melihat ketahanan pangan tidak cukup dibangun hanya dengan memperluas areal tanam. Yang lebih penting adalah memastikan petani memperoleh hasil yang layak dari lahan yang mereka kelola.

Sebab, produktivitas yang rendah pada akhirnya akan memukul minat petani.

“Selama ini, kalau panennya cuma segitu-segitu, orang berpikir rugi,” katanya.

Karena itu, target tiga hingga lima ton per hektare bukan sekadar angka produksi. Di baliknya ada upaya mengembalikan keyakinan petani bahwa sawah masih layak diusahakan.

Jika irigasi teknis tersedia, sistem AWD diterapkan, biaya BBM dapat ditekan, benih dan sarana produksi tersedia, serta pasar terjamin, maka persoalan sawah Bomberay–Tomage tidak lagi semata-mata tentang bertahan dari kemarau.

Ia berubah menjadi pertanyaan tentang seberapa jauh kawasan ini mampu melompat.

Dari 1,1–1,6 ton per hektare hari ini menuju tiga, empat, bahkan lima ton.

Bagi Benyamin, lompatan produktivitas itu merupakan jalan menuju tujuan yang lebih besar: produksi pangan meningkat, kesejahteraan petani tumbuh, dan Bomberay–Tomage benar-benar berdiri sebagai salah satu penyangga ketahanan pangan Fakfak dan Papua Barat.
 

Writter & Editor : Den