Darah di Mile 69: Nalince Wamang Tumbang, Keadilan Papua Kembali Dipertanyakan Tembagapura kembali berdarah.
Darah di Mile 69: Nalince Wamang Tumbang, Keadilan Papua Kembali Dipertanyakan
Tembagapura kembali berdarah.
Mimika, Kabarsulselindonesia.web.id Di tengah dingin kabut pegunungan dan gemuruh tambang emas, seorang anak muda Papua bernama Nalince Wamang meregang nyawa diterjang timah panas. Peristiwa yang terjadi di kawasan Mile 69 itu bukan sekadar kabar duka—ia menjelma menjadi jeritan keras tentang nyawa rakyat kecil yang seolah semakin murah di tanah sendiri.
Nalince kini telah tiada. Namun kematiannya meninggalkan pertanyaan besar yang menggantung di langit Papua: sampai kapan darah anak negeri terus tumpah tanpa jawaban yang jelas? 12/5/2026
Bagi masyarakat Papua, ini bukan hanya kehilangan satu jiwa. Ini adalah luka lama yang kembali disayat. Seorang remaja yang seharusnya menata masa depan, justru pulang dalam sunyi, meninggalkan tangis keluarga dan amarah masyarakat yang semakin sulit dibendung.
Mile 69 yang selama ini dikenal sebagai jalur operasional tambang, kini berubah menjadi simbol duka. Tanah yang setiap hari dipijak alat berat itu kembali menyerap darah anak bangsa. Dan di balik dentuman aktivitas tambang yang tak pernah berhenti, terdengar suara rakyat kecil yang terus meminta satu hal sederhana: keadilan.
Warga mendesak aparat dan pemerintah membuka fakta sebenarnya di balik insiden tersebut. Mereka menolak kematian Nalince berlalu begitu saja tanpa pertanggungjawaban yang terang. Sebab ketika nyawa melayang akibat peluru, publik berhak mengetahui siapa yang menembak, mengapa itu terjadi, dan siapa yang harus bertanggung jawab.
“Peluru mungkin bisa menghentikan napas seseorang, tetapi tidak akan pernah menghentikan tuntutan keadilan,” ujar seorang warga Tembagapura.
Tragedi ini kembali memperlihatkan wajah Papua yang masih dibayangi kekerasan. Di saat masyarakat mendambakan kedamaian, suara tembakan justru kembali terdengar. Dan setiap kali peluru dilepaskan, kepercayaan rakyat perlahan ikut runtuh.
Kini nama Nalince Wamang bukan lagi sekadar identitas seorang remaja Papua. Ia telah menjadi simbol luka, simbol kemarahan, sekaligus simbol pertanyaan besar yang belum terjawab: apakah nyawa orang Papua benar-benar dihargai di negeri ini?
(*****)

























Komentar via Facebook