PELETAKAN BATU PERTAMA HONAI HAPAK: TITIK KEBANGKITAN PEMUDA ADAT AMUNGME, KAMORO DAN LIMA SUKU KERABAT DI MIMIKA

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 19 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

PELETAKAN BATU PERTAMA HONAI HAPAK: TITIK KEBANGKITAN PEMUDA ADAT AMUNGME, KAMORO DAN LIMA SUKU KERABAT DI MIMIKA

Kabarsulsel-Indonesia.web.id. TIMIKA, PAPUA TENGAH. Sebuah tonggak sejarah baru resmi ditorehkan oleh para pemuda adat di Kabupaten Mimika. Melalui perjuangan panjang, doa, dan semangat persatuan, pemuda suku Amungme, Kamoro, serta lima suku kerabat yang tergabung dalam HAPAK akhirnya memulai pembangunan Honai bersama sebagai simbol kebangkitan, persatuan, dan harga diri masyarakat adat.

Peletakan batu pertama Honai HAPAK bukan sekadar seremoni pembangunan fisik. Lebih dari itu, momentum ini menjadi penegasan bahwa generasi muda asli Papua di Mimika mulai membangun kembali pondasi adat, identitas budaya, dan ruang perjuangan yang selama ini perlahan tergerus zaman.

Honai yang dalam bahasa Amungme disebut Tongoi memiliki makna yang sangat sakral. Bagi masyarakat Amungme, Tongoi bukan hanya rumah tidur kaum pria, tetapi pusat pendidikan adat dan tempat lahirnya karakter generasi penerus.

Di dalam Tongoi, para tetua adat menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak muda. Dari tempat inilah generasi diajarkan tentang cara berburu, berkebun, berdagang, menjaga kehormatan perempuan melalui adat mahar, menghargai sesama, hingga strategi mempertahankan tanah ulayat dan martabat suku.

Tongoi juga menjadi ruang pewarisan sejarah leluhur agar identitas orang asli Papua tidak hilang ditelan modernisasi dan kepentingan luar yang terus masuk ke tanah adat.

Karena itu, pembangunan Honai HAPAK dipandang sebagai langkah penting untuk menghidupkan kembali roh perjuangan pemuda adat. Kehadirannya diharapkan menjadi rumah bersama tempat lahirnya gagasan, konsolidasi, dan suara kritis masyarakat adat dalam memperjuangkan hak-hak orang asli Papua di Mimika.

Prosesi peletakan batu pertama berlangsung penuh khidmat dan sarat makna spiritual. Batu yang diletakkan diyakini bukan sekadar pondasi bangunan, melainkan simbol ikatan suci antara generasi hari ini dengan arwah para leluhur yang menjaga Tanah Amungsa.

Momentum ini sekaligus menjadi pesan kuat bahwa pemuda Amungme, Kamoro, dan lima suku kerabat tidak ingin tercerabut dari akar budaya mereka. Di tengah derasnya perubahan sosial, mereka memilih berdiri tegak menjaga adat, merawat warisan leluhur, dan memastikan identitas Papua tetap hidup di tanahnya sendiri.

Dengan berdirinya Tongoi HAPAK, lahir harapan baru bagi kebangkitan pemuda adat Mimika: bergerak maju, bersatu, dan tetap berpijak kuat pada nilai-nilai leluhur.

(Dianu Omaleng)