KSAD Soroti Film “Pesta Babi”, Pertanyakan Sumber Dana hingga Sebut Isi Film Belum Tentu Benar

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 20 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

KSAD Soroti Film “Pesta Babi”, Pertanyakan Sumber Dana hingga Sebut Isi Film Belum Tentu Benar

KSAD Soroti Film “Pesta Babi”, Pertanyakan Sumber Dana hingga Sebut Isi Film Belum Tentu Benar

JAKARTA Kabarsulselindonesia.web.id — Polemik pembubaran pemutaran film Pesta Babi makin memanas setelah Maruli Simanjuntak ikut angkat bicara. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) itu bukan hanya membantah TNI berada di balik pembubaran nonton bareng film karya Dhandy Laksono, tetapi juga secara terbuka mempertanyakan sumber pendanaan produksi film tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Maruli kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (19/5). Dengan nada penuh tanda tanya, KSAD menyinggung besarnya biaya produksi film dokumenter yang dinilai sarat kritik terhadap situasi di Papua.

“Sekarang permasalahannya, orang sampai membuat video, bagaimana ceritanya seperti ini segala macam, duitnya dari mana? Ya, coba saja, ya kan?” kata Maruli.

Ucapan itu langsung memantik spekulasi soal kemungkinan adanya pihak tertentu di balik pendanaan film tersebut. Namun saat wartawan menanyakan apakah dirinya menuding ada sponsor atau aktor tertentu, Maruli buru-buru membantah.

“Anda yang bilang mendanai kan? Bukan saya,” jawabnya singkat.

Tak berhenti di situ, Maruli juga menepis tudingan bahwa TNI memerintahkan pembubaran pemutaran film Pesta Babi di sejumlah daerah. Ia menegaskan langkah itu dilakukan atas permintaan pemerintah daerah demi menghindari potensi konflik dan gangguan keamanan.

“Itu kan pembubaran dari pemerintah daerah untuk keamanan wilayah. Pejabat pemerintahan di sana menganggap ada risiko keributan,” ujarnya.

KSAD juga mempertanyakan akurasi narasi yang dibangun dalam film tersebut. Menurutnya, kondisi Papua tidak bisa dilihat hanya dari sudut pandang tertentu, apalagi tanpa memahami realitas masyarakat di lapangan.

“Masyarakat di sana banyak yang tidak punya air bersih, ada yang tidak sekolah. Kehadiran kami di sana justru banyak membantu mereka,” ungkap Maruli.

Pernyataan KSAD ini menambah panjang daftar kontroversi seputar film Pesta Babi, yang sejak awal menuai pro dan kontra. Di satu sisi dipandang sebagai karya kritik sosial, namun di sisi lain dianggap berpotensi memicu keresahan dan membangun opini sepihak terhadap situasi di Papua.

Editor: Bruce Elang