Terumbu Karang Maluku: Aset Dunia Penahan Pemanasan Global, Kini Diteliti Potensi Besarnya untuk Kesehatan dan Kosmetik
AMBON,Kabarsulsel-Indonesia.web.id. Terumbu karang yang menghiasi perairan Maluku ternyata memiliki peran jauh lebih besar dari sekadar keindahan alam semata. Ekosistem ini menjadi tumpuan penting bagi keseimbangan bumi dan menjadi benteng alami yang krusial bagi seluruh masyarakat dunia. Hal ini dikemukakan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku, Dr. Ir. Erawan Asikin, M.Si., saat memberikan tanggapan terkait penelitian mendalam yang sedang dilakukan para akademisi di wilayah tersebut, Selasa (19/5/2026).
Menurut Erawan, posisi Indonesia yang berada di kawasan Segitiga Terumbu Karang menjadikan perairan nusantara, termasuk Maluku, sebagai kawasan terumbu karang terluas dan terpenting di dunia. Karang-karang di Maluku dikenal memiliki daya tahan tinggi serta menjadi referensi utama dunia dalam studi kelautan. Keberadaannya sangat berpengaruh besar terhadap fenomena iklim global.
"Ketika dunia berbicara soal pemanasan global, kenaikan suhu permukaan laut, dan perubahan iklim, terumbu karang Maluku terbukti mampu bertahan dan berfungsi menjaga keseimbangan tersebut. Bahkan negara besar seperti Amerika Serikat pun menyadari betapa pentingnya melindungi kawasan ini. Jika terumbu karang di Maluku terjaga dengan baik, maka keseimbangan alam seluruh dunia pun terjaga," tegas Erawan.
Lebih jauh, Erawan menyoroti kegiatan penelitian besar yang sedang berlangsung di wilayah Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, dan Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Penelitian ini digagas oleh Lembaga Pengabdian dan Penelitian Kepada Masyarakat (LPPM), bekerja sama dengan Tim Teknologi Hasil Perikanan (TPH) dan Ilmu Kelautan (IK), Fakultas Perikanan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon.
Dipimpin oleh Prof. Dr. Max Robinson Wenno, SPi., M.Si., tim peneliti tengah menggali kekayaan sumber daya alam pesisir Maluku yang menyimpan potensi luar biasa. Fokus utama riset ini adalah mengungkap kandungan alam yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan kesehatan, bahan baku kosmetik, hingga obat-obatan.
"Penelitian yang dilakukan Unpatti ini bertujuan mendalami, menganalisis, dan menarik kesimpulan ilmiah mengenai potensi tersebut. Hasil kajian ini nantinya akan diserahkan kepada pemerintah sebagai dasar pengelolaan dan pemanfaatan yang tepat. Riset ini direncanakan berjalan selama 18 bulan, terhitung mulai tahun 2026 hingga 2027," jelas Erawan.
Ia menambahkan, langkah ini membuktikan bahwa kekayaan laut Maluku bukan hanya bernilai ekologis, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan ilmiah yang tinggi. Perlindungan terhadap terumbu karang bukan sekadar kewajiban daerah, melainkan tanggung jawab bersama demi menjaga kestabilan bumi sekaligus membuka peluang manfaat besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan umat manusia.
(M.N)

























Komentar via Facebook