Wartawan Buka Catatan Lama di Hadapan Kapolres Baru, Naim Ishak Janjikan Keterbukaan

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 23 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Wartawan Buka Catatan Lama di Hadapan Kapolres Baru, Naim Ishak Janjikan Keterbukaan

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Suasana nongkrong bersama insan pers di Cafe Kopi Paste, Sabtu malam, 22 Agustus, tidak sekadar diisi perkenalan. Di hadapan Kapolres Fakfak yang baru, AKBP Naim Ishak, S.H., S.I.K., M.H., sejumlah wartawan justru membuka kembali catatan tentang hubungan pers dan kepolisian pada masa sebelumnya.

Ketua PWI Fakfak, Enrico Letsoin, S.H., mengatakan hubungan sejumlah wartawan dengan kepolisian sempat mengalami dinamika. Situasi politik pada masa pemilihan kepala daerah, menurut dia, ikut memengaruhi hubungan antar sesama insan pers.

Namun, fase itu dinilainya telah berlalu.

“Sekarang semuanya sudah kembali. Kita semua bekerja dan membantu pembangunan daerah,” kata Enrico dalam pertemuan tersebut.

Ia berharap kepemimpinan AKBP Naim Ishak dapat membangun hubungan yang lebih terbuka dengan seluruh media tanpa sekat dan pengelompokan.

Menurut Enrico, kepolisian juga tidak perlu alergi terhadap kritik. Kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab, kata dia, seharusnya dipandang sebagai masukan untuk memperbaiki pelayanan dan kinerja institusi.

Enrico turut menyoroti sejumlah perkara yang dinilai perlu mendapat perhatian serius, terutama laporan masyarakat yang belum memperoleh kejelasan perkembangan penanganannya.

Menurut dia, persoalan yang tampak kecil tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Keterlambatan mengambil langkah justru dapat membuat masalah berkembang dan memicu ketidakpercayaan publik.

Hal senada disampaikan wartawan KabarsulselIndonesia.web.id, Denny. Ia mengungkapkan pengalamannya dalam berhubungan dengan kepemimpinan Polres Fakfak sebelumnya.

Denny mengaku pernah merasa mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan setelah pemberitaan yang dilakukannya mengkritisi institusi kepolisian. Pengalaman itu, menurut dia, menjadi alasan untuk berharap agar pola komunikasi di bawah kepemimpinan baru dapat berjalan lebih profesional.

Ia juga menyinggung pentingnya akses konfirmasi bagi wartawan, terutama ketika terjadi peristiwa yang menjadi perhatian masyarakat.

Menurut Denny, tertutupnya ruang komunikasi justru berpotensi memperlebar jarak antara institusi kepolisian dan pers.

“Kalau ada ruang komunikasi, wartawan juga memahami batas-batas dan bisa memperoleh informasi yang benar,” kurang lebih demikian pesan yang ia sampaikan.

Ia berharap jajaran Humas Polres Fakfak dapat membangun komunikasi yang setara dengan seluruh media.

Tidak boleh ada media tertentu yang lebih diutamakan, sementara media lain kesulitan memperoleh informasi.

Dalam pertemuan itu, AKBP Naim Ishak menerima berbagai catatan dan kritik yang disampaikan insan pers sebagai bahan evaluasi.

Ia menekankan pentingnya tidak menganggap remeh persoalan yang terlihat kecil. Sebab, persoalan yang tidak segera ditangani dapat berkembang menjadi lebih besar.

Kapolres juga menyoroti pentingnya transparansi dalam penanganan perkara, termasuk memberikan perkembangan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Pertemuan di Cafe Kopi Paste itu pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda nongkrong dan minum kopi.

Wartawan menyampaikan kritik secara terbuka. Kapolres baru mendengarkan catatan yang selama ini tersimpan.

Bagi insan pers, pergantian kepemimpinan di Polres Fakfak diharapkan bukan sekadar pergantian figur.

Yang lebih penting adalah perubahan cara membangun komunikasi.

Sebab hubungan yang sehat antara pers dan kepolisian tidak dibangun dengan membungkam kritik. Ia tumbuh ketika institusi berani membuka ruang informasi dan pers menjalankan fungsi kontrol secara profesional dan bertanggung jawab.

Di titik itulah AKBP Naim Ishak memulai kepemimpinannya di Fakfak: dari sebuah meja nongkrong, dengan secangkir kopi dan sederet catatan yang menunggu untuk dibuktikan dalam kerja nyata.
 

Writter & Editor.: Den