Saat Kabut Asap Menghambat Penerbangan, KSOP Fakfak Pastikan Layanan Laut Tetap Berjalan

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 09 Oktober 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Saat Kabut Asap Menghambat Penerbangan, KSOP Fakfak Pastikan Layanan Laut Tetap Berjalan

Di tengah gangguan penerbangan akibat karhutla, Pelabuhan Fakfak menjadi tumpuan mobilitas masyarakat dan distribusi logistik. KSOP mengingatkan pentingnya keselamatan pelayaran, sekaligus mendorong dukungan bagi pengembangan kawasan pelabuhan.
 

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Ketika kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu jarak pandang dan membatasi layanan penerbangan di Kabupaten Fakfak, transportasi laut kembali memperlihatkan perannya sebagai jalur penting yang menghubungkan masyarakat dengan daerah lain.

Di tengah situasi tersebut, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Fakfak memastikan pelayanan kapal penumpang, kapal perintis, dan angkutan laut lainnya tetap berjalan sesuai rute serta jadwal pelayaran, dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan dan keamanan.

Kepala KSOP Kelas IV Fakfak, Rudi, S.Sos., M.AP., mengatakan gangguan penerbangan akibat kabut asap membuat sebagian masyarakat harus mempertimbangkan transportasi laut sebagai alternatif perjalanan.

“Memang kondisi ini memengaruhi penerbangan. Salah satu alternatifnya adalah transportasi laut,” kata Rudi saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat, 9 Oktober 2026.

Menurut dia, Pelabuhan Fakfak memiliki peran penting karena melayani beragam kebutuhan transportasi, mulai dari kapal penumpang dan kapal perintis hingga kapal kargo yang mengangkut barang kebutuhan masyarakat.

Keberadaan layanan tersebut menjadi semakin penting ketika jalur udara tidak dapat beroperasi secara optimal. Namun, bagi Rudi, keberlanjutan pelayanan laut tidak boleh membuat aspek keselamatan diabaikan.

Keselamatan Tetap Menjadi Prioritas

Rudi mengatakan pihaknya terus mengimbau operator kapal, pelaut, dan para pemangku kepentingan di sektor pelayaran untuk memperhatikan perkembangan kondisi cuaca dan lingkungan, termasuk informasi kualitas udara serta kondisi jarak pandang.

Ia membedakan kondisi operasional kapal yang memiliki dukungan navigasi dan prosedur keselamatan dengan aktivitas pelayaran tradisional yang memiliki keterbatasan peralatan.

Kapal penumpang dan kapal perintis tetap melayani masyarakat sesuai ketentuan operasionalnya. Sementara itu, nelayan tradisional dan pelaut yang belum memiliki perangkat navigasi memadai diimbau lebih berhati-hati serta mengurangi aktivitas apabila kondisi lingkungan dinilai tidak mendukung.

“Prinsipnya, kami mengutamakan keselamatan dan keamanan pelayaran. Kami terus memberikan imbauan kepada operator dan seluruh pihak yang terlibat agar kegiatan pelayaran tetap aman, tertib, dan lancar,” ujarnya.

Imbauan tersebut penting karena keselamatan pelayaran tidak hanya ditentukan oleh kelayakan kapal, tetapi juga oleh kemampuan awak kapal mengenali situasi di sekitarnya dan mengambil keputusan sesuai kondisi aktual.

Dalam situasi kabut asap, kehati-hatian menjadi bagian penting dari upaya mencegah risiko kecelakaan, terutama bagi pengguna transportasi laut yang beroperasi dengan fasilitas navigasi terbatas.

Kapal Perintis Menjangkau Wilayah yang Sulit Diakses

Di luar situasi darurat akibat karhutla, Rudi menilai transportasi laut mempunyai arti strategis bagi Fakfak dan wilayah sekitarnya. Laut bukan semata jalur perjalanan, melainkan juga penghubung bagi masyarakat di kampung-kampung yang belum terjangkau secara memadai oleh layanan kapal komersial.

Salah satu layanan yang ia soroti adalah kapal rede atau rede transport yang membantu menjangkau wilayah dengan keterbatasan fasilitas pelabuhan. Dalam keterangannya, Rudi menyebut kapal Nusantara 04 melayani sejumlah titik, antara lain Weri, Antalisa, Mas, dan Malakuli.

Menurut dia, layanan tersebut memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mengangkut penumpang maupun barang, termasuk di wilayah yang belum memiliki fasilitas dermaga memadai.

Ia menjelaskan, kapal rede melengkapi peran kapal perintis. Jika kapal dengan ukuran dan karakteristik tertentu tidak dapat menjangkau lokasi tertentu, layanan yang lebih sesuai dapat membantu menghubungkan masyarakat dengan pusat aktivitas ekonomi dan pelayanan publik.

“Transportasi laut ini memberikan dampak besar bagi masyarakat. Kapal perintis dan layanan rede membantu menjangkau daerah-daerah yang belum dilayani kapal komersial,” kata Rudi.

Keberadaan layanan tersebut memperlihatkan bahwa konektivitas antarkampung tidak cukup hanya diukur dari tersedianya kapal. Kesesuaian rute, fasilitas tambatan, akses naik-turun penumpang, serta kemampuan masyarakat memanfaatkan layanan juga menentukan seberapa jauh transportasi laut menjawab kebutuhan warga.

Pelabuhan dan Rantai Pasok Kebutuhan Pokok

Rudi juga menekankan hubungan langsung antara kelancaran aktivitas pelabuhan dan kehidupan ekonomi masyarakat Fakfak.

Sebagian kebutuhan pokok dan barang perdagangan di daerah ini didatangkan dari luar wilayah. Karena itu, keterlambatan kedatangan kapal atau terhentinya layanan angkutan barang dapat memengaruhi ketersediaan komoditas di pasar.

Ia mencontohkan, ketika kapal yang biasanya membawa barang kebutuhan masyarakat menjalani perawatan atau docking, pasokan komoditas tertentu dapat terganggu. Kondisi tersebut berpotensi dirasakan pedagang maupun konsumen, terutama untuk barang yang sangat bergantung pada distribusi antardaerah.

“Kalau aktivitas pelabuhan terhenti dalam waktu lama, kita bisa membayangkan dampaknya terhadap perekonomian. Kebutuhan masyarakat banyak yang didatangkan dari luar daerah,” ujarnya.

Dalam konteks itu, pelabuhan berfungsi lebih dari sekadar tempat kapal bersandar. Pelabuhan merupakan simpul distribusi yang mempertemukan arus barang, jasa angkutan, kegiatan perdagangan, dan kebutuhan masyarakat.

Ketersediaan transportasi laut yang teratur turut memengaruhi biaya logistik, kesinambungan usaha, dan kemampuan pedagang menjaga persediaan barang.

Karena itu, kelancaran pelayanan pelabuhan menjadi kepentingan bersama, bukan hanya urusan operator kapal atau instansi yang mengelolanya.

Keterbatasan Lahan Menjadi Tantangan Pengembangan

Di balik peran strategis tersebut, Rudi mengakui pengembangan Pelabuhan Fakfak menghadapi tantangan keterbatasan lahan. Lokasinya yang berada di pusat kota membuat ruang untuk memperluas fasilitas operasional semakin terbatas.

Persoalan itu terasa ketika aktivitas pelabuhan meningkat, terutama pada periode padat penumpang dan saat kapal penumpang berukuran besar bersandar. Kepadatan kendaraan dan kebutuhan ruang untuk aktivitas embarkasi serta debarkasi menuntut pengaturan yang cermat.

Menurut Rudi, salah satu gagasan yang pernah disampaikan kepada pemerintah daerah adalah kemungkinan pemanfaatan kawasan Pasar Kelapa Dua untuk mendukung pengembangan pelabuhan, apabila memungkinkan secara administratif, tata ruang, dan kepemilikan aset.

Ia menjelaskan, apabila kawasan tersebut dapat dialokasikan sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku, sebagian kegiatan perkantoran yang saat ini menggunakan ruang di area pelabuhan berpotensi dipindahkan. Dengan demikian, ruang yang tersedia dapat dioptimalkan untuk lapangan penumpukan, parkir, atau kebutuhan operasional lainnya.

Namun, ia menegaskan keputusan mengenai pemanfaatan kawasan tersebut berada pada kewenangan pemerintah daerah.

“Kami hanya menyampaikan kebutuhan dan usulan. Harapannya, dengan dukungan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan, Pelabuhan Fakfak bisa berkembang dan memberikan pelayanan yang lebih baik,” katanya.

Gagasan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pelabuhan membutuhkan koordinasi lintas instansi. Penataan aset, kebutuhan ruang, kepentingan masyarakat, serta kelangsungan pelayanan publik perlu dipertimbangkan secara menyeluruh sebelum suatu keputusan diambil.

Menjaga Pelabuhan sebagai Pintu Gerbang Ekonomi

Kabut asap yang menghambat penerbangan memperlihatkan betapa pentingnya keberadaan jalur transportasi alternatif bagi daerah yang memiliki tantangan geografis seperti Fakfak.

Namun, peran pelabuhan tidak berhenti ketika pesawat kembali beroperasi normal. Konektivitas laut tetap dibutuhkan untuk mengangkut barang dalam jumlah besar, menjangkau kampung-kampung, dan menopang aktivitas perdagangan yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Bagi KSOP Fakfak, tantangan tersebut mencakup dua pekerjaan yang berjalan beriringan: memastikan keselamatan pelayaran di tengah kondisi lingkungan yang kurang mendukung dan mendorong peningkatan kualitas pelayanan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah, operator kapal, serta pemangku kepentingan lainnya.

Rudi berharap dukungan masyarakat dan pemerintah daerah dapat memperkuat pengembangan Pelabuhan Fakfak agar kapasitas pelayanan semakin memadai sejalan dengan kebutuhan daerah.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah pelabuhan tidak hanya terletak pada banyaknya kapal yang datang dan pergi. Ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana pelabuhan menjaga keselamatan perjalanan, memastikan barang kebutuhan masyarakat tetap bergerak, dan membuka akses yang lebih baik bagi warga di wilayah yang selama ini bergantung pada transportasi laut.
 

Writter & Editor : Den