Wisuda Polikant XXI: Direktur Dorong Lulusan Jadi Talenta Maritim dan Penggerak Ekonomi Biru Kepulauan Kei
Wisuda Polikant XXI: Direktur Dorong Lulusan Jadi Talenta Maritim dan Penggerak Ekonomi Biru Kepulauan Kei
LANGGUR, MALUKU Kabarsulselindonesia.web.id TENGGARA — Direktur Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant), Dr. Usman Madubun, S.Pi., M.Si., menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan, melainkan awal bagi para lulusan untuk membuktikan kompetensi, integritas, dan kemampuan mereka di tengah masyarakat serta dunia kerja.
Pesan tersebut disampaikan Usman dalam sambutannya pada Wisuda Politeknik Perikanan Negeri Tual Angkatan XXI Tahun 2026, yang berlangsung di Langgur, Sabtu, 26 September 2026.
Menurut Usman, para lulusan tidak cukup hanya membawa ijazah dan gelar akademik. Mereka ditantang mampu menerjemahkan ilmu vokasi perikanan dan kelautan menjadi karya nyata yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat, daerah, dan bangsa.
“Atas nama pimpinan dan seluruh civitas akademika Politeknik Perikanan Negeri Tual, saya menyampaikan selamat dan rasa bangga yang setinggi-tingginya kepada para wisudawan dan wisudawati,” demikian pesan Direktur dalam sambutannya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada orang tua dan keluarga para wisudawan yang telah memberikan doa, pengorbanan, serta kepercayaan kepada Polikant selama proses pendidikan berlangsung.
Potensi Laut Besar, Tantangan Kesejahteraan Masih Nyata
Dalam sambutannya, Usman menyoroti besarnya potensi perikanan dan kelautan di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara, dan Kota Tual.
Menurut dia, wilayah tersebut memiliki potensi sumber daya perikanan yang besar dan berada pada Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 714 Laut Seram, 715 Laut Banda, dan 718 Laut Arafura.
Potensi tersebut mencakup berbagai komoditas bernilai ekonomi, antara lain ikan pelagis dan demersal seperti kerapu dan kakap, teripang, rumput laut, tiram mutiara, lobster, serta udang.
Namun, besarnya potensi tersebut dinilai belum sepenuhnya berbanding lurus dengan tingkat pemanfaatan dan kesejahteraan masyarakat.
Usman menyebut masih terdapat berbagai keterbatasan, mulai dari alat tangkap, sarana budidaya, jenis biota yang dibudidayakan, modal, hingga kualitas sumber daya manusia nelayan, pembudidaya, dan pengolah produk perikanan.
Kondisi tersebut berdampak terhadap rendahnya pendapatan sektor perikanan dan kelautan yang pada akhirnya turut memengaruhi kesejahteraan rumah tangga dan perkembangan ekonomi daerah.
Menurut Usman, kondisi ketika kekayaan sumber daya alam yang melimpah belum mampu sepenuhnya dikonversi menjadi kesejahteraan masyarakat merupakan sebuah paradoks sumber daya.
Karena itu, keberadaan pendidikan vokasi perikanan dinilai memiliki posisi strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengelola potensi laut secara produktif.
Polikant Lahir dari Semangat Mengubah Potensi Laut Menjadi Kesejahteraan
Usman juga mengingatkan kembali sejarah berdirinya Polikant.
Cikal bakal Polikant berasal dari Akademi Perikanan Larvul Ngabal Tual (Akperlanga) yang didirikan melalui Yayasan Larvul Ngabal pada 1997.
Perjuangan untuk menegerikan Akperlanga kemudian mendapat dukungan berbagai komponen masyarakat dan pemuda Maluku Tenggara. Proses tersebut berlanjut hingga pada 18 Agustus 2004 terjadi penyerahan aset Akperlanga dari Yayasan Larvul Ngabal kepada Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang diwakili oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Momentum tersebut menjadi tonggak berdirinya Polikant dan kemudian diperingati setiap tahun sebagai Dies Natalis Polikant.
Sejak awal, institusi pendidikan tersebut diharapkan menjadi salah satu jalan keluar dari paradoks sumber daya laut.
Lulusan Polikant diharapkan mampu mengubah potensi perikanan menjadi produk ekonomi bernilai tambah, meningkatkan pendapatan, memperkuat kesejahteraan keluarga, serta memberikan kontribusi terhadap kemajuan daerah dan negara.
Renstra 2025–2029 Perkuat Talenta, Inovasi dan Tata Kelola
Dalam menghadapi dinamika global dan perkembangan industri maritim, Polikant telah menetapkan Rencana Strategis (Renstra) 2025–2029 dengan empat sasaran utama.
Pertama, talenta, yakni melahirkan lulusan berdaya saing melalui penerapan Outcome-Based Education (OBE) dan penguatan sertifikasi kompetensi industri.
Kedua, inovasi, dengan mendorong riset terapan bidang perikanan dan kelautan yang memiliki dampak serta dapat dikembangkan hingga tahap hilirisasi.
Ketiga, kontribusi dan dedikasi kepada masyarakat, melalui dukungan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) dan pemberdayaan masyarakat pesisir.
Keempat, tata kelola berintegritas, melalui penguatan tata kelola institusi, SAKIP, Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK), serta akuntabilitas keuangan.
Pada aspek pembelajaran, Polikant juga terus memperkuat metode Case Method, Project Based Learning (PBL), dan ekosistem Teaching Factory (TEFA) untuk menyelaraskan kompetensi mahasiswa dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
Sementara di bidang penelitian, fokus diarahkan pada komoditas unggulan lokal seperti rumput laut, teripang, mangrove, serta teknologi pengolahan hasil perikanan yang diarahkan untuk menghasilkan inovasi dan publikasi.
Dorong Kolaborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Direktur Polikant juga mendorong penguatan kolaborasi antara kampus, Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara, Pemerintah Kota Tual, instansi terkait, perusahaan perikanan, perhotelan, BUMN, BUMD, serta perbankan.
Menurutnya, Polikant tidak boleh hanya menjadi “menara gading”, tetapi harus menjadi institusi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Untuk itu, Polikant menawarkan tiga fokus kolaborasi strategis.
Pertama, pembukaan kelas khusus dan beasiswa daerah yang dirancang sesuai kebutuhan pembangunan daerah, termasuk peningkatan kapasitas ASN serta penyiapan tenaga terampil putra-putri daerah hingga pelosok desa dan ohoi.
Kedua, optimalisasi Teaching Factory (TEFA) sebagai pusat pelatihan masyarakat dalam bidang pengolahan hasil laut, teknologi budidaya, penangkapan, kepariwisataan bahari, promosi, pemasaran, dan pengelolaan keuangan.
Ketiga, penumbuhan wirausaha muda sektor perikanan, melalui sinergi program inkubasi bisnis kampus dengan program pemberdayaan ekonomi pemerintah daerah, perbankan, dan BUMN.
Lulusan Polikant diharapkan dapat diarahkan menjadi pelaku startup maupun UMKM sektor perikanan berbasis inovasi yang mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan daerah.
Lulusan Ditantang Jadi Pencipta Lapangan Kerja
Kepada para wisudawan dan wisudawati, Usman menyampaikan tiga pesan penting.
Pertama, menjadi talenta maritim yang adaptif dan tangguh. Lulusan diminta tidak berhenti belajar dan terus mengikuti perkembangan teknologi kelautan serta kebutuhan dunia kerja.
Kedua, mengembangkan jiwa kewirausahaan bahari atau blue entrepreneurship.
Menurutnya, laut Kepulauan Kei dan Indonesia tidak hanya membutuhkan tenaga kerja, tetapi juga generasi muda yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan.
Ketiga, menjaga integritas, etika, dan kehormatan almamater.
Para lulusan diminta memegang teguh kejujuran dan etika profesi di mana pun mereka berkarya, baik di instansi pemerintah, perusahaan swasta, dunia usaha, maupun lembaga penelitian.
“Saudara adalah cermin dari Politeknik Perikanan Negeri Tual. Dedikasikan kepakaran Saudara untuk kesejahteraan masyarakat pesisir dan kemajuan bangsa,” pesan Usman.
Wisuda Bukan Akhir, tetapi Awal Pengabdian
Menutup sambutannya, Direktur Polikant menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, pemerintah daerah, dunia usaha dan dunia industri, dosen, tenaga kependidikan, serta orang tua dan keluarga wisudawan.
Menurutnya, pencapaian Polikant hingga saat ini tidak terlepas dari kolaborasi dan dukungan berbagai pihak.
Kepada para wisudawan, Usman kembali menegaskan bahwa gelar yang diperoleh pada hari wisuda bukanlah akhir perjalanan.
Sebaliknya, gelar tersebut menjadi awal pembuktian di tengah masyarakat dan dunia kerja.
Ia mengajak para lulusan untuk membawa nama baik almamater sekaligus mengabdikan kompetensi mereka bagi masyarakat pesisir dan pembangunan bangsa.
“Berlayarlah dengan gagah berani di samudra kehidupan. Kibarkan panji-panji kebanggaan almamater Politeknik Perikanan Negeri Tual!” pesan Usman.
Polikant menegaskan visi besarnya untuk menjadi “Politeknik Unggul Dalam Bidang Perikanan dan Kelautan Tahun 2035.”
Dengan demikian, tantangan Polikant ke depan bukan hanya menghasilkan lulusan secara kuantitatif, tetapi memastikan kompetensi yang dimiliki para lulusan mampu menjawab kebutuhan dunia kerja, mendorong kewirausahaan bahari, memperkuat masyarakat pesisir, serta membantu mengubah potensi sumber daya laut Kepulauan Kei menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Editor: Bruce Elang

























Komentar via Facebook