Ekspedisi Patriot Unhas Dorong Pala Weri-Saharey Naik Kelas

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 09 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Ekspedisi Patriot Unhas Dorong Pala Weri-Saharey Naik Kelas

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Cangkang pala yang selama ini dianggap limbah mulai mendapat cerita baru di Weri-Saharey. Benda yang biasanya dibuang atau dibakar itu dibidik untuk diolah menjadi briket biomassa dan biochar. Sementara biji pala didorong melewati satu tahap penting: dari hasil kebun menjadi produk bernilai tambah.

Gagasan itu mengemuka dalam Forum Group Discussion (FGD) Tim 15 Ekspedisi Patriot Unhas di Kantor Distrik Fakfak Timur, Kabupaten Fakfak. Forum bertema “Implementasi Agroindustri Pala Terintegrasi: Pembangunan Sarana Pascapanen dan Pengolahan Biomassa untuk Energi Terbarukan” tersebut mempertemukan kelompok tani, kelembagaan kampung, pemuda, aparat keamanan dan masyarakat Weri-Saharey.

Moderator FGD, Muh. Alif Fajrin Akbar, mengarahkan diskusi pada satu persoalan utama: bagaimana komoditas pala dapat memberi nilai ekonomi yang lebih besar kepada petani.

Kepala Distrik Fakfak Timur mengapresiasi keterbukaan masyarakat dalam menerima Tim Ekspedisi Patriot. Ia meminta warga menyampaikan kondisi kampung secara jujur, termasuk persoalan yang selama ini dihadapi.

Pesan itu penting. Sebab, pembangunan tidak akan banyak bergerak jika persoalan hanya disampaikan dalam bahasa laporan, sementara kenyataan di lapangan berbeda.

Dari forum tersebut, satu kesepakatan penting lahir. Alat uji coba pengering pala akan dikelola BUMKam. Lembaga kampung itu diharapkan tidak hanya menggunakan alat, tetapi memastikan pemanfaatan dan pemeliharaannya berkelanjutan.

Gagasan berikutnya bahkan lebih jauh: mengolah cangkang pala menjadi sumber ekonomi baru.

Selama ini cangkang lebih sering menjadi limbah. Tim Patriot dan masyarakat melihat peluang lain melalui pengembangan briket biomassa dan biochar. Dengan pendekatan itu, limbah tidak lagi sekadar sisa produksi, melainkan bagian dari rantai ekonomi pala.

Persoalan pemasaran juga menjadi perhatian.

Masyarakat mendorong BUMKam dan Kopdes Weri-Saharey diperkuat sebagai lembaga pengelola dan pemasaran hasil pala. Tujuannya agar petani tidak terus menjual hasil kebun sebagai bahan mentah kepada pengepul secara sendiri-sendiri.

Jika kelembagaan kampung mampu menghimpun hasil, memperbaiki pascapanen dan membangun pemasaran kolektif, posisi tawar petani berpeluang meningkat. Nilai tambah pun diharapkan tidak seluruhnya keluar dari kampung.

Di sinilah FGD Ekspedisi Patriot menemukan maknanya.

Yang dibicarakan bukan sekadar mesin pengering. Bukan pula sekadar cangkang pala.

Yang sedang dibangun adalah cara baru melihat pala: dari komoditas menjadi ekosistem ekonomi.

Tim 15 Ekspedisi Patriot Unhas diharapkan terus menjadi penghubung antara petani, BUMKam, Kopdes dan pemerintah daerah agar gagasan tersebut tidak berhenti sebagai hasil diskusi.

Sebab ukuran keberhasilan sebuah program bukan seberapa meriah forum digelar, melainkan seberapa lama manfaatnya bertahan setelah forum berakhir.

Dan di Weri-Saharey, perubahan itu sedang dicoba dimulai dari pala yang dipanen, cangkang yang selama ini terbuang, hingga keberanian masyarakat mengambil kendali lebih besar atas hasil kebunnya sendiri.

 

Writter & Editor : Den