Kemarau Mengeringkan Sumber Air, RSUD Fakfak Berjuang Menjaga Pelayanan Pasien
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Di tengah kemarau panjang yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Fakfak menghadapi tantangan yang tidak sederhana: memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan ketika pasokan air bersih kian terbatas.
Penurunan debit distribusi air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Fakfak memaksa rumah sakit mengandalkan pasokan air dari luar untuk memenuhi kebutuhan operasional. Setiap tiga hari, sekitar 30.000 liter air harus didatangkan dan ditampung di bak penampungan yang tersedia di lingkungan rumah sakit.
Bagi fasilitas pelayanan kesehatan, air bersih bukan sekadar kebutuhan penunjang. Air merupakan bagian penting dari upaya menjaga kebersihan lingkungan, sanitasi, serta mendukung pelayanan kepada pasien. Karena itu, ketika kemarau berkepanjangan menekan ketersediaan air, menjaga pasokan menjadi pekerjaan yang tidak bisa ditunda.
Di tengah situasi tersebut, jajaran RSUD Fakfak memilih mencari jalan keluar agar pelayanan kepada masyarakat tidak ikut tersendat oleh krisis air.
Kepala Bidang Penunjang dan Kepala Seksi Nonpenunjang bersama staf turun menangani kebutuhan pasokan air, termasuk mengupayakan pemesanan air untuk mengisi bak penampungan rumah sakit. Langkah ini dilakukan secara berulang untuk memastikan ketersediaan air tetap terjaga di tengah menurunnya kemampuan distribusi PDAM.
Kebutuhan sekitar 30.000 liter setiap tiga hari menggambarkan besarnya tantangan yang harus dihadapi rumah sakit selama krisis berlangsung. Dalam kondisi normal, ketersediaan air mungkin tidak banyak mendapat perhatian. Namun, ketika kemarau mengurangi pasokan, air menjadi salah satu penentu penting kelancaran operasional pelayanan kesehatan.
Menjaga pelayanan di tengah keterbatasan
Direktur RSUD Fakfak, Fahri F. Mahubessy, membenarkan kondisi tersebut ketika dikonfirmasi melalui sambungan WhatsApp.
Fahri menyampaikan apresiasi kepada Kepala Bidang Penunjang, Kepala Seksi Nonpenunjang, beserta staf yang berjibaku di lapangan untuk memastikan kebutuhan air rumah sakit tetap terpenuhi.
Di tengah keterbatasan pasokan, upaya tersebut menjadi bagian dari kerja bersama untuk menjaga agar kebutuhan dasar rumah sakit tetap tersedia. Persoalan air tidak dapat diselesaikan hanya dengan menunggu kondisi cuaca membaik. Diperlukan langkah operasional yang terus dilakukan selama krisis belum berakhir.
Fahri juga menyampaikan permohonan maaf kepada pasien dan keluarga pasien atas kondisi yang dihadapi rumah sakit. Ia berharap masyarakat dapat memahami situasi yang terjadi di tengah kemarau panjang dan keterbatasan distribusi air bersih.
Permohonan maaf itu sekaligus menunjukkan bahwa persoalan pasokan air bukan hanya urusan internal pengelola rumah sakit. Dampaknya dapat dirasakan oleh pasien dan keluarga yang datang untuk memperoleh pelayanan kesehatan, terutama ketika kebutuhan air harus dipenuhi di tengah keterbatasan.
Ketahanan pelayanan diuji oleh krisis air
Kemarau yang berlangsung lebih dari tiga bulan telah menempatkan masyarakat Fakfak dalam tekanan akibat berkurangnya ketersediaan air bersih. Dalam situasi seperti ini, rumah sakit menjadi salah satu fasilitas publik yang harus tetap menjaga keberlangsungan pelayanannya.
Upaya mendatangkan air hingga puluhan ribu liter setiap tiga hari memperlihatkan besarnya kebutuhan yang harus dipenuhi RSUD Fakfak agar kegiatan operasional tetap berjalan. Namun, langkah tersebut juga memperlihatkan bahwa keberlangsungan pelayanan kesehatan membutuhkan dukungan sistem penyediaan air yang dapat diandalkan, terutama ketika kondisi cuaca berada di luar keadaan normal.
Pemenuhan air melalui pemesanan dari luar menjadi solusi sementara yang patut diapresiasi. Meski demikian, keberlanjutan pelayanan dalam situasi darurat membutuhkan kesiapan yang lebih luas, mulai dari pengelolaan cadangan air, kepastian pasokan, hingga koordinasi dengan pihak terkait untuk mengantisipasi apabila kemarau berlangsung lebih lama.
Di tengah krisis tersebut, kerja jajaran RSUD Fakfak menjadi bagian penting dari upaya mempertahankan pelayanan kepada masyarakat. Kepala bidang, kepala seksi, dan staf yang menangani pasokan air berada di garis operasional yang memastikan kebutuhan dasar rumah sakit terus diupayakan.
Tantangannya kini bukan semata-mata bagaimana memenuhi kebutuhan air untuk hari ini, melainkan bagaimana memastikan ketersediaannya tetap terjaga selama kemarau belum berakhir.
Sebab, ketika masyarakat datang ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan, pelayanan kesehatan harus tetap menjadi prioritas. Dan di tengah kemarau yang menguji ketahanan Fakfak, ketersediaan air bersih menjadi salah satu kebutuhan mendasar yang tidak boleh luput dari perhatian.
Writter & Editor : Den

























Komentar via Facebook