Pala Mati karena Kemarau Akan Didata, Pemkab Fakfak Siapkan Rehabilitasi

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 29 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Pala Mati karena Kemarau Akan Didata, Pemkab Fakfak Siapkan Rehabilitasi

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Pemerintah Kabupaten Fakfak tidak ingin tanaman pala yang mati akibat kemarau berubah menjadi titik kosong di kebun-kebun masyarakat. Dinas Perkebunan menyiapkan pendataan tanaman terdampak sebagai pijakan untuk rehabilitasi setelah kondisi cuaca kembali memungkinkan.

Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmorojati, S.T., M.T mengatakan pemerintah perlu mengetahui terlebih dahulu skala kerusakan sebelum menentukan bentuk penanganan.

“Setelah musim ini berlalu, kami akan melakukan pendataan secara lebih menyeluruh. Kita harus tahu berapa luas kebun yang terdampak, berapa tanaman yang mati dan berapa yang masih bisa dipulihkan,” ujar Widhi saat menemui petani pekebun pala di sejumlah wilayah.

Pendataan akan mencakup lokasi kebun, luas areal terdampak, jumlah tanaman yang mengalami kematian serta kondisi tanaman yang masih memiliki peluang untuk diselamatkan.

Bagi Dinas Perkebunan, data tersebut penting agar rehabilitasi tidak dilakukan berdasarkan perkiraan. Pemerintah ingin mengetahui secara lebih jelas kampung mana yang terdampak, seberapa luas kerusakannya dan berapa kebutuhan tanaman pengganti.

Sejumlah wilayah telah mendapat perhatian, antara lain Teluk Patipi, Furwagi, Kokas, Kayauni, Mbahamdandara, beberapa kampung di Fakfak bagian timur dan Karas.

Widhi mengatakan tingkat kekeringan di wilayah-wilayah tersebut berbeda. Sebagian kebun masih relatif aman, sementara tanaman pala di wilayah yang lebih dahulu mengalami kekurangan air mulai menunjukkan gejala stres.

Tanaman pala remaja menjadi perhatian khusus. Pada fase pertumbuhan, tanaman membutuhkan air untuk menopang perkembangan akar, batang dan tajuk. Ketika tekanan kekeringan berlangsung terlalu lama, tanaman dapat mengalami penurunan pertumbuhan hingga kematian.

Pemerintah kemudian menghadapi dua pekerjaan sekaligus: menyelamatkan tanaman yang masih hidup dan menyiapkan pengganti bagi tanaman yang sudah tidak dapat dipulihkan.

Widhi mengatakan rehabilitasi nantinya akan diarahkan pada penanaman kembali tanaman pala yang mati dengan bibit yang sesuai.

“Tanaman yang mati jangan dibiarkan menjadi lahan kosong. Setelah kondisi memungkinkan, kita harus tanam kembali,” katanya.

Rehabilitasi, menurut dia, bukan semata-mata membagikan bibit. Pemerintah perlu memastikan populasi tanaman di kebun masyarakat tetap terjaga sehingga kehilangan tanaman pada masa remaja tidak berkembang menjadi penurunan produktivitas pada masa mendatang.

Tanaman pala membutuhkan waktu panjang untuk mencapai fase produksi. Karena itu, setiap tanaman yang hilang pada masa pertumbuhan memiliki konsekuensi terhadap keberlanjutan kebun.

Di tengah persiapan rehabilitasi itu, Dinas Perkebunan juga mengingatkan petani mengenai bahaya kebakaran. Kondisi vegetasi yang kering membuat api lebih mudah menjalar.

Widhi secara khusus meminta masyarakat menghentikan kebiasaan membersihkan kebun dengan cara membakar.

“Jangan membersihkan kebun dengan cara membakar, apalagi pada kondisi kemarau seperti sekarang,” ujarnya.

Semak, rumput kering, sisa tebangan dan daun yang menumpuk memang perlu dikelola. Namun, menurut dia, pembakaran di tengah kondisi lahan yang kering berisiko menimbulkan kerusakan yang jauh lebih besar.

Api yang semula dimaksudkan untuk membersihkan satu bagian kebun dapat merambat ke tanaman pala atau kebun masyarakat di sekitarnya.

Karena itu, pemerintah meminta petani mengutamakan pencegahan. Jika terdapat aktivitas yang menggunakan api, sumber api tidak boleh ditinggalkan dan harus dipastikan benar-benar padam.

“Jangan sampai karena kelalaian kita, kebun yang selama ini dirawat bertahun-tahun justru rusak karena kebakaran,” kata Widhi.

Selain pencegahan kebakaran, petani juga diminta tetap melakukan perawatan terhadap tanaman yang masih bertahan. Menjaga bahan organik, mempertahankan tutupan tanah dan menghindari pembersihan lahan secara berlebihan merupakan langkah sederhana yang dapat membantu mempertahankan kelembapan tanah.

Dinas Perkebunan juga meminta petani segera menyampaikan laporan apabila menemukan tanaman pala yang mati atau mengalami kerusakan serius akibat kekeringan. Informasi dari tingkat kebun akan menjadi bagian penting dalam proses pendataan pemerintah.

Bagi Widhi, penanganan dampak kemarau harus dimulai dari kondisi nyata di lapangan. Pemerintah kampung, kelompok tani, penyuluh dan masyarakat pekebun diharapkan ikut memantau perubahan kondisi tanaman selama musim kering.

Langkah tersebut sekaligus memperkuat komunikasi antara pemerintah dan masyarakat pekebun. Pemerintah memperoleh gambaran mengenai kondisi kebun, sementara petani memiliki ruang untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi secara langsung.

Setelah kondisi cuaca membaik, Dinas Perkebunan berharap rehabilitasi dapat segera dilakukan secara bertahap, terutama di kebun yang mengalami kehilangan tanaman dalam jumlah cukup besar.

Upaya itu menjadi bagian dari agenda yang lebih panjang: menjaga agar Pala Tomandin tidak hanya bertahan menghadapi satu musim kemarau, tetapi tetap memiliki basis tanaman yang cukup untuk menopang produktivitas dan ekonomi masyarakat Fakfak pada tahun-tahun berikutnya.
 

Writter & Editor : Den