Kemarau Tak Mematikan Bomberay, Petani Tetap Jaga Dapur Pangan Fakfak
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Musim kemarau panjang mulai menggerus aktivitas pertanian di kawasan Bomberay–Tomage, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Sumber air yang terbatas membuat sebagian petani mengurangi produksi. Sebagian lainnya bahkan memilih membiarkan lahannya kosong sembari menunggu hujan.
Namun, di tengah situasi itu, tidak semua lahan berhenti berproduksi. Sejumlah petani binaan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Serubur justru memilih bertahan dengan membangun sumber air sendiri.
Koordinator BPP Serubur, Kementerian Pertanian, Benyamin Unwakoli, S.P., M.Si., mengatakan sekitar enam hingga delapan petani telah membuat sumur bor secara swadaya. Langkah tersebut dilakukan dengan pendampingan penyuluh untuk mempertahankan produksi sekaligus menjaga rantai pasok sayuran ke pasar.
“Rantai pasoknya sudah ada. Itu yang kami dorong agar tetap berjalan untuk menyangga kebutuhan pangan di Fakfak,” kata Benyamin.
Menurut dia, Bomberay–Tomage memiliki posisi strategis dalam peta ketahanan pangan daerah. Kawasan itu dicadangkan sebagai buffer ketahanan pangan Kabupaten Fakfak sekaligus penyangga bagi kebutuhan pangan di tingkat Provinsi Papua Barat.
Posisi tersebut menjadi semakin penting ketika sejumlah kawasan sentra produksi lain ikut menghadapi kekeringan.
Benyamin mencontohkan kondisi Kinam yang juga mengalami keterbatasan sumber air selama kemarau. Dalam situasi seperti itu, Bomberay masih mampu mengirimkan sejumlah komoditas hortikultura ke pasar, terutama sayuran daun.
Bayam, kangkung, sawi, kacang panjang, hingga buncis tetap bergerak dari kebun menuju pasar.
Produksinya tidak kecil. Sejumlah petani, kata Benyamin, mampu menghasilkan hingga 1.600 ikat sayuran dalam sekali panen. Pengambilan hasil dilakukan sekitar tiga hari sekali sehingga pasokan dapat berlangsung secara berkala.
Di sinilah peran petani yang telah memiliki ekosistem pasar menjadi penting. Mereka tidak lagi sekadar menanam lalu mencari pembeli setelah panen. Produksi telah terhubung dengan permintaan pasar melalui rantai pasok yang terbentuk secara bertahap.
“Petani yang sistem pertaniannya sudah kami bina dengan baik tetap mampu bertahan karena ekosistem pasarnya sudah terbentuk,” ujarnya.
Kemarau sekaligus mengubah harga di tingkat petani. Harga sayuran yang sebelumnya berada di sekitar Rp5.000 per ikat kini dapat mencapai Rp6.000 hingga Rp7.000 per ikat.
Kenaikan tersebut dipengaruhi meningkatnya permintaan dari kota serta bertambahnya ongkos produksi. Petani yang menggunakan sumur bor harus mengoperasikan pompa untuk mengangkat air tanah. Biaya BBM pun ikut masuk ke dalam ongkos produksi.
Ironisnya, kekeringan yang menyulitkan sebagian petani justru menciptakan ruang ekonomi bagi petani yang mampu mempertahankan produksinya.
“Permintaan dari kota cukup tinggi, ditambah biaya produksi yang naik akibat penggunaan BBM untuk menyuplai air dari pompa air tanah,” kata Benyamin.
Karena itu, BPP Serubur mendorong petani yang telah memiliki pasar untuk terus meningkatkan produksi. Tujuannya bukan semata menjaga aktivitas pertanian, melainkan memastikan kebutuhan pangan masyarakat Fakfak tidak terlalu bergantung pada pasokan dari luar wilayah.
Menahan Lonjakan Harga Cabai
Strategi yang sama mulai diarahkan pada komoditas cabai.
Benyamin mengatakan BPP Serubur mendapat dorongan dari Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian untuk mengembangkan kawasan cabai. Program tersebut mulai dijalankan tahun ini dengan dukungan benih cabai, mulsa, serta sarana produksi pertanian lainnya.
Pengembangan dilakukan pada lahan potensial milik petani dengan target sekitar 10 hektare. Lahan itu tidak berada dalam satu hamparan, melainkan tersebar pada sejumlah petani.
Model tersebut sengaja dipilih agar semakin banyak petani terlibat dan lahan-lahan yang selama ini tidak produktif dapat kembali diusahakan.
Targetnya tidak berhenti pada produksi. Program itu juga diarahkan untuk menjaga harga cabai menjelang akhir tahun.
Benyamin menyebut harga cabai pada periode tertentu dapat melonjak hingga Rp200 ribu per kilogram. Melalui peningkatan produksi lokal, ia menargetkan harga tersebut dapat ditekan hingga sekitar Rp100 ribu–Rp110 ribu per kilogram.
“Semakin banyak petani yang kami jangkau, semakin besar minat mereka untuk terus mengusahakan lahan. Jadi tidak ada lahan-lahan tidur,” ujarnya.
Di tengah kemarau dan ancaman kebakaran hutan dan lahan, Bomberay–Tomage kini menghadapi ujian yang lebih besar: bagaimana mempertahankan produksi ketika air menjadi barang yang semakin mahal.
Jawabannya, menurut Benyamin, bukan sekadar menunggu hujan. Petani perlu memiliki sumber air alternatif, pasar yang pasti, teknologi produksi, serta dukungan lintas sektor.
Bomberay–Tomage dengan demikian bukan sekadar kawasan pertanian di pinggiran Fakfak. Ia sedang diuji untuk menjadi salah satu benteng pasokan pangan daerah ketika cuaca tidak lagi bisa dijadikan sandaran tunggal.
Writter & Editor : Den

























Komentar via Facebook