Saat Air Makin Sulit Didapat, Perkebunan Fakfak Salurkan 13 Ribu Liter ke Permukiman

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 09 Oktober 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Saat Air Makin Sulit Didapat, Perkebunan Fakfak Salurkan 13 Ribu Liter ke Permukiman

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Di tengah kemarau panjang yang membatasi akses masyarakat terhadap air bersih, Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak mengerahkan dua armada untuk mendistribusikan 13.000 liter air ke empat titik permukiman. Langkah ini menjadi bagian dari gerakan lintas organisasi perangkat daerah (OPD) yang diinisiasi Bupati Fakfak, Samaun Dahlan, untuk menjangkau warga yang menghadapi kesulitan memperoleh air bersih.

Memasuki hari ketiga pelaksanaan layanan, distribusi air menyasar permukiman di belakang Masjid Jami Kota, Kampung Firma, RT 09 Distrik Fakfak Utara, serta Jalan Napitupulu, RT 13, Wagom. Di empat lokasi tersebut, air didistribusikan menggunakan dua kendaraan pengangkut agar dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan pasokan untuk keperluan rumah tangga.

Bagi warga yang berhadapan dengan keterbatasan air, 13.000 liter bukan sekadar angka dalam laporan kegiatan. Air itu dibutuhkan untuk memasak, minum, membersihkan rumah, menjaga kebersihan diri, dan menopang aktivitas sehari-hari yang tetap harus berlangsung meskipun sumber air semakin sulit diperoleh.

Kehadiran armada distribusi di kawasan permukiman menjadi salah satu bentuk intervensi langsung pemerintah di tengah tekanan kemarau. Namun, di balik bantuan yang disalurkan, persoalan ketersediaan air bersih juga memperlihatkan pentingnya pelayanan yang mampu menjangkau warga secara cepat, terarah, dan berkelanjutan.

Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST., MT., mengatakan pihaknya mengambil bagian dalam gerakan tersebut untuk membantu masyarakat di kawasan yang rawan mengalami krisis air.

“Kami hadir untuk membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat di beberapa titik yang rawan krisis air. Dalam kondisi seperti ini, pemerintah harus hadir dan bergerak bersama untuk membantu masyarakat,” kata Widhi.

Menurut dia, pelayanan tersebut merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap warga yang terdampak kemarau panjang. Dukungan antarlembaga diperlukan agar penyaluran air tidak hanya terpusat pada satu kawasan, tetapi dapat menjangkau permukiman lain yang menghadapi kesulitan serupa.

Gerakan lintas OPD menghadapi kemarau

Aksi yang dilaksanakan Dinas Perkebunan ini merupakan bagian dari inisiatif Bupati Samaun Dahlan yang melibatkan sejumlah OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Fakfak. Melalui gerakan bersama tersebut, perangkat daerah mengambil peran dalam membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama kondisi kekeringan berlangsung.

Keterlibatan berbagai OPD menjadi penting karena dampak kemarau tidak berhenti pada persoalan lingkungan. Ketika pasokan air menurun, rumah tangga harus menghadapi tambahan beban untuk memperoleh air bagi kebutuhan sehari-hari. Dalam situasi demikian, kecepatan distribusi dan ketepatan menentukan lokasi sasaran menjadi bagian penting dari efektivitas pelayanan publik.

Pada hari ketiga, Dinas Perkebunan mencatat penyaluran sebanyak 13.000 liter air bersih dengan mengerahkan dua armada ke empat titik permukiman. Distribusi tersebut menambah jangkauan pelayanan pemerintah di tengah kondisi kemarau yang masih membebani masyarakat.

Meski demikian, bantuan melalui armada pengangkut pada dasarnya merupakan langkah tanggap untuk memenuhi kebutuhan mendesak. Keberlanjutan pasokan, pemetaan kawasan rawan kekeringan, serta penentuan prioritas distribusi tetap menjadi aspek penting agar warga yang paling membutuhkan tidak terlewatkan.

Bagi masyarakat Fakfak yang terdampak kemarau, setiap pasokan air memiliki arti langsung bagi keberlangsungan aktivitas rumah tangga. Karena itu, gerakan layanan air bersih tidak hanya diukur dari jumlah liter yang disalurkan, tetapi juga dari seberapa jauh pelayanan tersebut menjangkau warga dan membantu mengurangi kesulitan mereka.

Dinas Perkebunan Fakfak, melalui keterlibatannya dalam gerakan tersebut, mengambil bagian dalam upaya kolektif pemerintah daerah menghadapi dampak kemarau. Di tengah keterbatasan sumber air, pelayanan yang hadir langsung di lingkungan warga menjadi bentuk nyata tanggung jawab pemerintah dalam menjaga agar kebutuhan dasar masyarakat tetap mendapat perhatian.

 

Writter & Editor : Den