Perdagangan Pala Fakfak Tembus 1.025 Ton hingga Juli 2026, Retribusi Daerah Lampaui Rp405 Juta
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Komoditas pala kembali menunjukkan posisinya sebagai tulang punggung ekonomi Kabupaten Fakfak. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, volume perdagangan pala antarpulau mencapai 1.025.733 kilogram atau 1.025,73 ton, sekaligus menghasilkan penerimaan retribusi daerah sebesar Rp405.009.150.
Capaian tersebut menjadi indikator bahwa tata niaga Pala Tomandin Fakfak semakin tertata melalui penerapan uji mutu, pengawasan perdagangan, serta sertifikasi peredaran bibit unggul yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Fakfak melalui Dinas Perkebunan.
Kinerja perdagangan selama Juli 2026 tetap menunjukkan tren positif. Dalam satu bulan, tercatat 10 kali pengiriman komoditas pala menuju Surabaya menggunakan KM Labobar, KM Titanium, KM Vertikal, dan KM YTA, dengan dukungan jasa ekspedisi Pelni, Taswa Raya, Agung Putra, dan JPT.
Selama periode tersebut, total komoditas yang diperdagangkan mencapai 55.198 kilogram, terdiri atas 35.650 kilogram pala kulit, 12.835 kilogram pala ketok, dan 6.713 kilogram fuli pala.
Di saat yang sama, Dinas Perkebunan juga menerbitkan 22.347 sertifikasi peredaran bibit pala. Sertifikasi ini menjadi instrumen penting untuk memastikan bibit yang beredar memenuhi standar mutu sekaligus mendukung program perluasan areal tanam, peremajaan kebun, dan pelestarian plasma nutfah Pala Tomandin Fakfak.
Dari aktivitas perdagangan Juli tersebut, pemerintah daerah membukukan retribusi sebesar Rp44.247.250 yang berasal dari 974 koli pengiriman. Rinciannya meliputi retribusi sertifikasi bibit pala sebesar Rp22.347.000, pala kulit Rp10.695.000, pala ketok Rp4.492.250, serta fuli pala Rp6.713.000.
Tak hanya memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah, perdagangan pala juga menghasilkan perputaran ekonomi yang cukup besar. Nilai transaksi komoditas pala selama Juli 2026 diperkirakan mencapai Rp4.826.996.250, terdiri atas transaksi bibit pala sebesar Rp754.211.250, pala kulit Rp1.426.000.000, pala ketok Rp834.275.000, dan fuli pala Rp1.812.510.000.
Besarnya nilai transaksi tersebut memperlihatkan bahwa sektor pala masih menjadi salah satu penggerak utama aktivitas ekonomi masyarakat Fakfak, mulai dari petani, penangkar bibit, pedagang pengumpul, hingga pelaku usaha jasa angkutan dan ekspedisi.
Secara kumulatif hingga Juli 2026, komoditas yang diperdagangkan didominasi 743.939 kilogram pala kulit atau 72,53 persen dari total volume perdagangan. Sementara pala ketok mencapai 134.497 kilogram atau 13,11 persen, dan fuli pala sebanyak 147.297 kilogram atau 14,36 persen.
Dalam periode yang sama, Dinas Perkebunan telah menerbitkan 34.270 sertifikasi peredaran bibit pala, mencerminkan meningkatnya kebutuhan bibit unggul untuk mendukung pengembangan kawasan pala di berbagai distrik.
Dari sisi penerimaan daerah, retribusi perdagangan pala antarpulau hingga Juli 2026 mencapai Rp405.009.150. Kontribusi terbesar berasal dari retribusi pala kulit sebesar Rp197.947.500 atau 48,87 persen dari total penerimaan. Disusul fuli pala sebesar Rp112.376.000 atau 27,75 persen, pala ketok Rp38.515.400 atau 9,51 persen, serta sertifikasi peredaran bibit pala Rp34.270.000 atau 8,46 persen.
Dominasi pala kulit menunjukkan bahwa komoditas tersebut masih menjadi penopang utama perdagangan pala Fakfak sekaligus penyumbang terbesar terhadap penerimaan retribusi daerah.
Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST., MT, mengatakan capaian tersebut mencerminkan semakin baiknya tata kelola perdagangan komoditas pala di daerah. Menurut dia, peningkatan volume perdagangan yang berjalan seiring dengan penguatan sistem uji mutu, sertifikasi bibit, dan pengawasan perdagangan menjadi fondasi penting bagi peningkatan daya saing Pala Tomandin Fakfak.
"Pala Tomandin Fakfak merupakan aset strategis daerah yang harus terus dijaga kualitas, produktivitas, dan tata niaganya. Melalui penguatan pengawasan mutu, penggunaan bibit unggul bersertifikat, serta pelaksanaan Program Daerah Pala Unggul Fakfak, kami optimistis produksi dan nilai tambah komoditas pala akan terus meningkat. Tujuan akhirnya bukan hanya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah, tetapi juga mewujudkan kesejahteraan pekebun serta menjadikan pala sebagai investasi sekaligus warisan berharga bagi generasi mendatang," ujar Widhi.
Ia menambahkan, Dinas Perkebunan akan terus memperkuat kolaborasi dengan petani, penangkar bibit, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan guna menjaga reputasi Pala Tomandin Fakfak sebagai komoditas unggulan berindikasi geografis yang memiliki daya saing di pasar nasional maupun global.
Penguatan tata niaga tersebut juga menjadi bagian dari implementasi visi pembangunan Fakfak Membara, yang menempatkan sektor perkebunan sebagai salah satu pilar pertumbuhan ekonomi daerah melalui peningkatan produktivitas, hilirisasi, daya saing, dan kesejahteraan masyarakat.
Writter & Editor : Den

























Komentar via Facebook