Gelar Adat Kei Bukan Sekadar Kehormatan, tetapi Amanah Menjaga Martabat Larvul Ngabal

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 17 Juni 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Gelar Adat Kei Bukan Sekadar Kehormatan, tetapi Amanah Menjaga Martabat Larvul Ngabal

Gelar Adat Kei Bukan Sekadar Kehormatan, tetapi Amanah Menjaga Martabat Larvul Ngabal

Langgur, Maluku Tenggara — Tradisi pemberian gelar kehormatan adat di Tanah Evav (Kei) merupakan warisan budaya yang telah hidup sejak masa para pemimpin adat atau Halaai, jauh sebelum Hukum Adat Larvul Ngabal dikenal sebagai tata nilai yang mengatur kehidupan masyarakat Kei. Larvul Ngabal sendiri merupakan hukum adat yang menjadi dasar kehidupan sosial dan budaya masyarakat Kei hingga kini.

Dalam perjalanan sejarah, sejumlah Halaai kemudian mendapatkan pengakuan sebagai Raja melalui proses adat yang ditandai dengan pemberian Naun dan emas adat sebagai simbol legitimasi, kewibawaan, dan tanggung jawab dalam memimpin masyarakat adat.

Tokoh masyarakat Evav, Ir. Petrus Beruatwarin, M.Si, menjelaskan bahwa penganugerahan gelar adat bukanlah sekadar seremoni atau pemberian nama kehormatan, tetapi merupakan sebuah pengangkatan seseorang sebagai “Dir Uh”, yang berarti berdiri di bagian terdepan untuk mengemban amanah dan menjalin kerja sama demi kepentingan masyarakat.

“Gelar adat adalah pengakuan terhadap pengabdian, kapasitas, dan tanggung jawab seseorang terhadap masyarakat. Mereka yang menerima kehormatan adat harus menjaga nilai-nilai Larvul Ngabal dan menjadi teladan bagi generasi berikutnya,” ungkapnya.

Prosesi Sakral Pengukuhan Gelar Adat Evav

Pengukuhan gelar adat dilakukan melalui tahapan-tahapan adat yang sarat makna, di antaranya:

Sob-Sob Bukmam Duad Nit, sebagai permohonan berkat kepada Tuhan dan penghormatan kepada leluhur.

Pemberian atribut kepemimpinan adat serta pengucapan sumpah dan janji adat.

Sait Hawear, simbol pembukaan sasi dan pengumuman keputusan adat.

Renin Lowar, pemercikan air kelapa muda sebagai lambang penyucian, keberkahan, dan kesuburan.

Baraan Nasor, pelepasan anak panah sebagai tanda pengakuan dan perutusan untuk menjalankan amanah.

Dir Uh Ham Wang, Gelar Tertinggi dalam Kehormatan Adat Evav

Salah satu bentuk penghargaan tertinggi dalam adat Kei adalah gelar “Dir Uh Ham Wang”. Gelar ini diberikan kepada pribadi yang memenuhi syarat adat, antara lain memiliki hubungan asal-usul Kei, memahami nilai dan tata adat Evav, memiliki pengaruh serta keberhasilan dalam bidang tertentu, dan diakui sebagai Wawu Yab-Yab (Wear Kes).

Di tengah perubahan zaman, masyarakat Maluku Tenggara diingatkan bahwa gelar adat bukanlah simbol kebanggaan semata. Di balik setiap gelar terdapat tanggung jawab moral untuk menjaga persatuan, kehormatan budaya, serta nilai-nilai luhur Larvul Ngabal yang menjadi identitas masyarakat Kei.

**(Sumber pemikiran: Ir. Petrus Beruatwarin, M.Si – Tokoh Evav/Kei)

Editor : Bruce Elang