Bahaya Ketergantungan AI dalam Pendidikan: Ketika Siswa Berhenti Berpikir

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 22 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Bahaya Ketergantungan AI dalam Pendidikan: Ketika Siswa Berhenti Berpikir

Tual,Kabarsulsel-Indonesia.web.id. 

Oleh: Golkarianus Ubra, S.Pd., CPSE, Guru SMA Negeri 1 Tual

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sedang mengubah wajah pendidikan. Dalam hitungan detik, siswa dapat memperoleh penjelasan tentang hukum Newton, meminta bantuan menyusun esai, menerjemahkan bahasa asing, membuat rangkuman buku, bahkan mendapatkan ide untuk menyelesaikan sebuah proyek pembelajaran.

Dunia pendidikan tentu tidak boleh menutup mata terhadap perkembangan tersebut. AI adalah bagian dari perubahan teknologi yang perlu dipahami dan dimanfaatkan secara bijaksana.

Namun, ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar apakah siswa mampu menggunakan AI: apakah siswa masih mau berpikir ketika AI sudah mampu memberikan hampir semua jawaban?

Pertanyaan ini patut menjadi perhatian guru, orang tua, dan sekolah.

Sebab, pendidikan pada dasarnya bukan perlombaan untuk mendapatkan jawaban tercepat. Pendidikan adalah proses membangun kemampuan manusia untuk bertanya, berpikir, menganalisis, mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki kesalahan, dan mengambil kesimpulan.

Jika proses tersebut secara perlahan diserahkan kepada mesin, kita menghadapi risiko baru: siswa menyelesaikan tugas, tetapi tidak mengalami proses belajar.

Ketika Tugas Selesai, tetapi Belajar Tidak Terjadi

Di ruang kelas, fenomena sederhana mulai mudah ditemukan. Guru memberikan tugas. Siswa membuka perangkat digital, memasukkan pertanyaan ke dalam AI, kemudian memperoleh jawaban yang tersusun rapi.

Tugas selesai.

Tetapi ketika guru bertanya, “Mengapa jawabannya demikian?” atau “Coba jelaskan dengan bahasamu sendiri,” sebagian siswa dapat mengalami kesulitan.

Di sinilah persoalannya.

Kemampuan menghasilkan jawaban tidak selalu sama dengan kemampuan memahami jawaban.

AI dapat menyusun paragraf dengan bahasa yang sangat baik. Namun, siswa tetap perlu memahami gagasan di balik paragraf tersebut. AI dapat memberikan langkah penyelesaian soal Fisika, tetapi siswa tetap harus memahami konsep, persamaan, satuan, asumsi, dan alasan mengapa langkah tersebut digunakan.

Jika siswa hanya menyalin, teknologi telah membantu menyelesaikan tugas, tetapi belum tentu membantu membangun kompetensi.

Dalam pendidikan, proses berpikir adalah bagian dari hasil belajar.

AI Bukan Musuh Guru dan Siswa

Karena itu, persoalannya bukan apakah AI harus digunakan atau dilarang. Pertanyaan yang lebih tepat adalah: bagaimana AI digunakan secara bertanggung jawab dalam pembelajaran?

AI memiliki potensi besar sebagai alat bantu pendidikan. Guru dapat menggunakannya untuk memperoleh ide pembelajaran, membuat variasi soal, mengembangkan bahan diskusi, menyusun simulasi, atau mencari alternatif penjelasan terhadap konsep yang sulit.

Siswa pun dapat menggunakan AI sebagai teman belajar. Mereka dapat bertanya mengenai materi yang belum dipahami, meminta contoh sederhana, membandingkan penjelasan, atau mendapatkan umpan balik terhadap tulisan yang telah mereka susun sendiri.

Namun, ada garis yang harus dijaga.

AI seharusnya membantu siswa berpikir lebih baik, bukan membuat siswa berhenti berpikir.

Prinsip sederhananya adalah: siswa berpikir, AI membantu; bukan AI berpikir, siswa menyalin.

Tantangan Etika Akademik

Masalah berikutnya adalah etika.

Ketika siswa menggunakan AI untuk menghasilkan tugas kemudian menyerahkannya seolah-olah seluruh pekerjaan tersebut merupakan hasil pemikirannya sendiri, muncul persoalan mengenai kejujuran akademik.

Di sinilah sekolah perlu membangun budaya baru.

Siswa harus memahami bahwa penggunaan teknologi tidak menghapus tanggung jawab pribadi. Jika AI digunakan dalam proses pengerjaan tugas, siswa tetap bertanggung jawab memeriksa informasi, memahami isi, memperbaiki kesalahan, dan mampu menjelaskan hasil pekerjaannya.

Lebih penting lagi, siswa perlu belajar bahwa tidak semua jawaban AI benar.

AI dapat menghasilkan informasi yang keliru, tidak lengkap, atau tidak sesuai konteks. Karena itu, kemampuan memverifikasi informasi menjadi keterampilan penting dalam era digital.

Literasi AI akhirnya bukan hanya kemampuan membuat prompt. Literasi AI mencakup kemampuan bertanya, memeriksa, membandingkan, menilai, mengoreksi, dan bertanggung jawab.

Guru Tidak Boleh Hanya Mengawasi AI

Perubahan ini juga menuntut guru untuk mengubah strategi pembelajaran.

Jika tugas siswa hanya berupa pertanyaan yang jawabannya dapat diperoleh secara instan dari AI, maka guru akan kesulitan membedakan antara pekerjaan yang benar-benar dipahami siswa dan pekerjaan yang sekadar dihasilkan teknologi.

Karena itu, asesmen perlu semakin menekankan proses.

Siswa dapat diminta mempresentasikan hasil pekerjaan, menjelaskan alasan memilih suatu metode, melakukan eksperimen, menyusun jurnal proses, melakukan refleksi, berdiskusi, atau mempertahankan hasil proyek di depan kelas.

Dalam pembelajaran Fisika, misalnya, siswa dapat menggunakan AI untuk mencari beberapa kemungkinan solusi terhadap suatu persoalan. Setelah itu, mereka tetap harus melakukan pengamatan, pengukuran, perhitungan, eksperimen, dan menarik kesimpulan berdasarkan data.

Dengan demikian, AI menjadi salah satu alat dalam pembelajaran, sementara kemampuan berpikir tetap berada pada manusia.

Tantangan Lebih Besar di Daerah 3T

Dalam konteks Maluku dan Papua, pembicaraan mengenai AI juga harus melihat realitas lapangan.

Tidak semua sekolah memiliki akses internet yang stabil. Tidak semua siswa mempunyai perangkat dengan kemampuan yang sama. Tidak semua guru memperoleh pelatihan AI secara memadai.

Karena itu, transformasi digital tidak boleh hanya berbicara tentang aplikasi dan kecanggihan teknologi. Pemerataan akses, peningkatan kompetensi guru, literasi digital, serta ketersediaan perangkat dan jaringan tetap menjadi bagian penting dari agenda pendidikan.

Ironis jika di satu sisi siswa didorong menjadi generasi AI, tetapi di sisi lain mereka masih berhadapan dengan keterbatasan internet dan perangkat pembelajaran.

Namun, keterbatasan fasilitas bukan alasan untuk mengabaikan literasi AI. Justru sekolah di daerah perlu membangun pendekatan yang realistis: menggunakan teknologi ketika tersedia, tetapi tetap mengembangkan pembelajaran yang tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi.

Guru dapat menggabungkan AI dengan eksperimen sederhana, lingkungan sekitar, proyek berbasis masalah, diskusi, observasi, dan sumber belajar lokal.

Jangan Sampai AI Mengambil Alih Pendidikan

Kita sedang memasuki era ketika mesin mampu menghasilkan teks, gambar, suara, kode, bahkan berbagai bentuk informasi dalam waktu sangat singkat.

Karena itu, kemampuan yang paling berharga bukan sekadar kemampuan menghasilkan sesuatu dengan AI. Yang semakin penting adalah kemampuan menentukan apa yang harus dibuat, mengapa harus dibuat, apakah informasi itu benar, apa dampaknya, dan bagaimana mempertanggungjawabkannya.

Sekolah tidak boleh menghasilkan generasi yang hanya pandai memberikan perintah kepada mesin, tetapi kesulitan menjelaskan hasil yang diberikan mesin.

Kita membutuhkan siswa yang mampu menggunakan teknologi sekaligus memiliki nalar, karakter, kreativitas, kejujuran, dan tanggung jawab.

AI boleh semakin pintar. Pembelajaran boleh semakin digital. Namun, ruang untuk berpikir harus tetap menjadi milik manusia.

Sebab pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan membuat siswa mampu menemukan jawaban secepat mungkin, melainkan membentuk manusia yang mampu memahami persoalan, mempertanyakan informasi, menemukan solusi, dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Jangan sampai suatu hari kita memiliki generasi yang sangat mahir menggunakan AI, tetapi ketika AI dimatikan, mereka tidak tahu lagi bagaimana cara berpikir.

Teknologi seharusnya memperkuat manusia, bukan menggantikan kemampuan manusia untuk berpikir.

(Elang)