Dari Ruang Kelas ke Kebun Pala: Bimtek Tomandin Menyemai Generasi Inovator dan Menguatkan Branding Pala Unggul Fakfak
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Di Fakfak, pala bukan sekadar komoditas. Ia adalah jejak sejarah, denyut ekonomi, sekaligus penanda jati diri. Dari kebun-kebun yang tumbuh di tanah Papua Barat, aroma pala telah lama menyebar ke berbagai penjuru dunia. Kini, upaya merawat kejayaan itu tidak lagi hanya berlangsung di ladang, tetapi juga di ruang-ruang kelas.
Sebagai bagian dari strategi besar membangun branding Pala Unggul Fakfak, Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak menggulirkan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pala Tomandin bagi generasi usia sekolah.
Program ini bukan sekadar pelatihan teknis budidaya, melainkan ikhtiar sistematis menanamkan kesadaran sejak dini bahwa pala adalah masa depan daerah investasi ekologis, sosial, sekaligus ekonomi.
Langkah ini menandai pergeseran paradigma pembangunan perkebunan. Jika selama ini fokus bertumpu pada produksi dan pasar, kini perhatian diarahkan pada regenerasi pengetahuan dan pembentukan karakter.
Pala diperkenalkan bukan hanya sebagai hasil kebun, tetapi sebagai warisan yang mengandung nilai sejarah dan tanggung jawab keberlanjutan.
Tahun ini, Bimtek difokuskan pada tiga Sekolah Menengah Atas, salah satunya SMA Negeri 2 Fakfak. Di sekolah ini, pembelajaran tidak berhenti pada teori. Para siswa turun langsung mempraktikkan budidaya Pala Tomandin mulai dari penanaman bibit unggul, teknik pemeliharaan, hingga aplikasi nutrisi hayati untuk memastikan pertumbuhan tanaman yang sehat dan ramah lingkungan. Model belajar berbasis praktik ini dirancang kontekstual, menyenangkan, dan menyatu dengan realitas kehidupan masyarakat Fakfak.
Kepala SMA Negeri 2 Fakfak, Candra Urbaningrum, menilai kolaborasi tersebut sebagai terobosan pembelajaran berbasis potensi lokal. Menurutnya, peserta didik didorong melakukan riset sederhana tentang karakteristik varietas Tomandin, pola pertumbuhan, adaptasi lingkungan, hingga peluang pengembangan produk turunannya.
“Anak-anak belajar bukan hanya untuk mengetahui, tetapi untuk memahami dan meneliti. Di situlah budaya ilmiah tumbuh,” ujarnya.
Di sisi pemerintah daerah, Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, S.T., M.T menegaskan bahwa arah besar program ini adalah membangun Generasi Z Fakfak yang memiliki ikatan emosional dan intelektual dengan pala.
“Kami ingin anak-anak Fakfak tumbuh dengan kesadaran bahwa pala adalah masa depan daerah. Ia sumber kesejahteraan, sekaligus identitas yang harus dijaga dan diwariskan,” katanya.
Namun, optimisme itu tidak menutup mata pada tantangan. Di balik potensi produksi biji pala yang besar setiap tahun, terdapat persoalan klasik: hilirisasi yang belum optimal.
Dari total potensi produksi, diperkirakan sekitar 18 ribu ton daging buah pala belum termanfaatkan secara maksimal. Yang berhasil diolah baru sekitar dua persen. Selebihnya terbuang, menjadi limbah yang sebenarnya menyimpan nilai ekonomi.
Di titik inilah Bimtek Pala Tomandin menemukan relevansinya. Program ini tidak hanya mengajarkan cara menanam, tetapi juga membuka cakrawala tentang inovasi produk turunan dari olahan pangan, minuman kesehatan, hingga peluang ekonomi kreatif berbasis agroindustri lokal.
Pemerintah daerah pun berharap dapat menggandeng perguruan tinggi, lembaga riset, dan pelaku usaha untuk memperkuat ekosistem inovasi.
“Ke depan, yang kita bangun bukan hanya tanamannya, tetapi ekosistem agribisnis pala yang utuh dari kebun, riset, inovasi produk, hingga pasar,” ujar Widhi.
Bagian yang selama ini dianggap limbah, lanjutnya, harus diubah menjadi sumber ekonomi baru melalui hilirisasi yang cerdas dan bernilai tambah.
Upaya ini menunjukkan bahwa branding Pala Unggul Fakfak bukan sekadar slogan pembangunan. Ia dirancang sebagai gerakan kolektif menghubungkan pemerintah, sekolah, peneliti, pelaku usaha, dan generasi muda dalam satu visi: menjadikan pala sebagai kebanggaan yang lestari dan berdaya saing, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga global.
Dari bangku sekolah hingga kebun pala, masa depan itu sedang ditanam. Dan jika benih-benih pengetahuan ini tumbuh subur, bukan mustahil Fakfak kelak dikenal bukan hanya sebagai penghasil pala, melainkan sebagai pusat inovasi pala yang membanggakan Indonesia.
Writter & Editor : Den

























Komentar via Facebook