Musda KMK Fakfak Memanas, Dua Calon Ketua Tawarkan Jalan Berbeda Menuju Kerukunan

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 19 Juli 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Musda KMK Fakfak Memanas, Dua Calon Ketua Tawarkan Jalan Berbeda Menuju Kerukunan

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id |  Musyawarah Daerah (Musda) Kerukunan Masyarakat Kei (KMK) Kabupaten Fakfak memasuki babak paling menentukan. Setelah tiga pleno berlangsung dengan dinamika perdebatan, adu argumentasi, serta penyatuan berbagai pandangan, forum akhirnya memasuki pleno IV, yakni penyampaian visi dan misi dua bakal calon Ketua KMK Kabupaten Fakfak.

Bertempat di Graha Le Cocq d'Armandville atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Aula Santo Yoseph Fakfak, Sabtu malam, suasana forum berubah dari perdebatan menuju adu gagasan. Para peserta yang sejak pagi mengikuti seluruh rangkaian sidang tetap bertahan hingga larut malam demi menyaksikan arah baru organisasi masyarakat Kei di Tanah Baham.

Calon Ketua KMK, Slemet Efruan, membuka pemaparannya dengan apresiasi kepada seluruh peserta yang tetap mengikuti proses Musda hingga tahapan akhir. Menurutnya, kehadiran para peserta merupakan wujud kerinduan masyarakat untuk melahirkan sosok pemimpin yang mampu menjadi payung bagi seluruh warga Kei di Kabupaten Fakfak.

Ia juga memberikan penghargaan kepada para kepala marga (raaschap) dan koordinator yang telah bekerja membangun jaringan komunikasi di tingkat keluarga besar. Struktur yang telah terbentuk itu, kata Slemet, akan menjadi fondasi penyusunan database masyarakat Kei apabila dirinya dipercaya memimpin organisasi tersebut.

Dalam visi dan misinya, Slemet menempatkan penguatan adat dan persaudaraan sebagai prioritas utama.

"Mari kita menjaga adat, merawat persaudaraan tanpa membedakan siapa pun. Kerukunan harus menjadi rumah bersama," ujarnya.

Ia menawarkan lima program utama, yakni mempererat hubungan kekeluargaan melalui kegiatan sosial dan keagamaan, melestarikan budaya serta situs sejarah masyarakat Kei di Fakfak, memperkuat pelayanan sosial bagi warga yang mengalami kesulitan, memberdayakan sumber daya manusia melalui penguatan ekonomi dan organisasi sub-etnis, serta membangun database masyarakat Kei sebagai dasar penyusunan seluruh program organisasi.

Bagi Slemet, data menjadi instrumen paling penting dalam menentukan arah pembangunan organisasi.

"Kalau kita memiliki data yang baik, maka kita bekerja berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat," katanya.

Di penghujung penyampaiannya, Slemet memilih menutup pidato dengan dua pantun yang mengajak seluruh warga menjaga persatuan. Ia juga mengingatkan bahwa siapa pun yang terpilih nantinya harus diterima sebagai pemimpin bersama.

"Apapun hasilnya nanti, mari kita terima dengan hati yang besar. Yang ada di ruangan ini bukan orang lain, melainkan keluarga kita sendiri," tuturnya disambut tepuk tangan peserta.

Berbeda dengan Slemet yang menekankan penguatan fondasi organisasi melalui data dan pelayanan sosial, calon lainnya, Mohamad Taweatubun, tampil membawa visi organisasi yang lebih luas melalui kolaborasi nilai budaya Kei dan filosofi masyarakat Fakfak.

Menurut Mohamad, Kerukunan Masyarakat Kei harus menjadi wadah berkumpul seluruh warga dalam semangat falsafah Ain Ni Ain yang dipadukan dengan filosofi lokal Fakfak, Satu Tungku Tiga Batu, sebagai landasan membangun kepentingan bersama.

Visi tersebut kemudian dijabarkan dalam 12 program kerja.

Beberapa di antaranya adalah rapat evaluasi rutin setiap tiga bulan, pembentukan pengurus ranting hingga tingkat distrik dan kelurahan, memperkuat kemitraan dengan Pemerintah Kabupaten Fakfak, pelatihan kepemimpinan dan pelestarian adat bagi generasi muda, pengembangan usaha mikro masyarakat, peningkatan kualitas pendidikan, pelaksanaan perayaan hari-hari besar keagamaan secara bersama, hingga membangun kemitraan dengan berbagai pihak untuk memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat Kei.

Mohamad juga menyoroti pentingnya organisasi memiliki kemandirian finansial melalui sistem iuran anggota yang dikelola secara terbuka dan akuntabel.

Menurutnya, organisasi tidak boleh hanya aktif ketika ada kegiatan seremonial, tetapi harus memiliki kekuatan ekonomi agar mampu hadir membantu masyarakat setiap saat.

Ia pun menegaskan komitmennya untuk menjadi pemimpin bagi seluruh kelompok masyarakat Kei tanpa memandang latar belakang marga maupun kelompok.

"Kami tidak berada di mana-mana, tetapi kami ada untuk semua. Karena tujuan kita hanya satu, yaitu kepentingan bersama," ujarnya menutup pemaparan.

Meski kedua kandidat menawarkan pendekatan yang berbeda, keduanya bertolak dari semangat yang sama: menjaga warisan budaya Kei sekaligus memperkuat persaudaraan masyarakat di Kabupaten Fakfak.

Slemet mengedepankan penguatan basis organisasi melalui pendataan, pelayanan sosial, serta pemberdayaan masyarakat berbasis kebutuhan riil. Sementara Mohamad lebih menitikberatkan pada penguatan kelembagaan, kolaborasi dengan pemerintah, peningkatan kapasitas generasi muda, dan pembangunan jaringan organisasi hingga ke tingkat distrik.

Perbedaan orientasi itu justru memperlihatkan kedewasaan demokrasi di tubuh Kerukunan Masyarakat Kei. Forum Musda tidak lagi sekadar menjadi ajang memilih ketua, tetapi ruang adu gagasan mengenai masa depan organisasi di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung.

Kini, keputusan berada di tangan peserta Musda. Siapa pun yang nantinya memperoleh mandat memimpin, harapan terbesar masyarakat tetap sama: Kerukunan Masyarakat Kei Kabupaten Fakfak mampu menjadi rumah besar yang mempersatukan seluruh anak Kei di Tanah Baham, menjaga nilai Ain Ni Ain, serta mewariskannya kepada generasi-generasi berikutnya.

 

Writter & Editor : Den