Ketika Pala Tomandin Menjadi Kue: Cara Baru Fakfak Menambah Nilai Komoditas Unggulan
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Pala Tomandin selama ini lebih akrab sebagai rempah yang dikeringkan, diperdagangkan, lalu meninggalkan Fakfak dalam bentuk biji, fuli, atau produk turunannya. Namun di tangan Listiati, anggota Koperasi Tomandin Mandiri Sejahtera binaan Dinas Perkebunan Fakfak, pala menemukan jalan pulang yang berbeda: menjadi kue.
Namanya Nabarbarak Henggi Tomandin.
Kue ini memadukan kelapa dengan serutan manisan Pala Tomandin. Bentuknya sekilas mengingatkan pada wingko, kudapan yang lekat dengan tradisi kuliner Semarang. Tetapi Nabarbarak Henggi Tomandin membawa identitas yang berbeda. Bahan utamanya berasal dari kekayaan pangan lokal Fakfak, sementara aroma pala menjadi karakter yang sulit ditemukan pada kue sejenis.
Penyajiannya pun tidak dibuat berjarak dengan tradisi. Kue diletakkan menggunakan daun pisang dan daun pandan. Aroma kelapa berpadu dengan wangi pala, menciptakan pengalaman rasa yang sederhana, tetapi menyimpan pesan yang lebih besar: komoditas perkebunan tidak harus berhenti sebagai bahan mentah.
Nabarbarak Henggi Tomandin diperkenalkan kepada publik dalam kegiatan ngopi bareng bersama kelompok wartawan. Dari meja sederhana itu, sebuah gagasan hilirisasi pala diperkenalkan bukan lewat mesin industri besar, melainkan melalui kreativitas pelaku usaha mikro.
Harga jualnya pun relatif terjangkau. Satu kue dipasarkan sekitar Rp3.500. Untuk kemasan kotak kecil dibanderol Rp20 ribu, sedangkan kemasan kotak besar dipasarkan Rp40 ribu.
Di titik inilah Nabarbarak Henggi Tomandin menjadi lebih dari sekadar kudapan.
Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, S.T., M.T mengatakan inovasi tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan nilai tambah Pala Tomandin melalui pengembangan produk turunan.
“Saat ini pemerintah sedang gencar mendorong Program Strategis Pala Unggul melalui Rencana Aksi Daerah (RAD) Pala Fakfak 2025–2029. Pengembangan dilakukan dari sektor hulu hingga hilir. Karena itu, inovasi berbagai produk turunan pala akan terus kita dorong sebagai pilot project untuk terus dikembangkan oleh UMKM,” ujar Widhi.
Menurut Widhi, hilirisasi tidak selalu identik dengan pembangunan pabrik atau investasi dalam skala besar. Ia justru melihat ruang yang luas bagi UMKM untuk memulai dari dapur rumah, selama inovasi dilakukan secara konsisten, standar produksinya diperbaiki, dan kemasannya mampu mengangkat citra produk.
Pendekatan itu membuat Nabarbarak Henggi Tomandin menarik. Produk ini mempertemukan dua hal yang selama ini sering berjalan sendiri-sendiri: komoditas perkebunan dan kreativitas kuliner masyarakat.
Dinas Perkebunan, kata Widhi, akan mendorong pelatihan lebih luas setelah formula aroma dan rasa Pala Tomandin dalam produk tersebut semakin dimaksimalkan.
Targetnya bukan semata membuat satu jenis kue.
Lebih jauh, pemerintah ingin model inovasi semacam ini dapat ditiru pelaku UMKM lain sehingga lahir lebih banyak produk berbahan Pala Tomandin.
“Harapannya, kue ini bukan hanya menjadi produk inovasi, tetapi bisa hadir dalam berbagai hajatan masyarakat, menjadi sajian khas Fakfak dan memiliki daya tarik sebagai oleh-oleh yang dapat dibawa keluar daerah,” katanya.
Pala yang Bisa Dibawa Pulang
Nico Afloubun, salah seorang wartawan RRI Fakfak yang mencicipi langsung Nabarbarak Henggi Tomandin, menangkap kekuatan produk tersebut dari pengalaman paling sederhana: rasa.
“Kuenya enak. Teksturnya lembut, ada rasa kelapa, tetapi aroma dan rasa palanya cukup terasa. Ini yang menurut saya menjadi pembeda dengan kue lainnya,” ujarnya.
Penilaian itu sekaligus menunjukkan ruang baru bagi Pala Tomandin. Selama ini pala lebih sering dibicarakan dalam konteks komoditas, harga, produksi, perdagangan, dan rempah. Padahal, di tangan pelaku UMKM, pala dapat berubah menjadi produk yang langsung bersentuhan dengan konsumen.
Orang tidak harus membeli sekantong pala kering untuk membawa pulang cita rasa Fakfak.
Cukup sebuah kotak kecil Nabarbarak Henggi Tomandin.
Di situlah konsep hilirisasi menjadi lebih mudah dipahami. Nilai tambah tidak hanya lahir ketika pala diproses menjadi produk industri. Nilai tambah juga dapat tumbuh dari resep, kemasan, cerita, identitas lokal dan kemampuan masyarakat mengubah bahan baku menjadi produk yang siap dinikmati.
Nabarbarak Henggi Tomandin memang masih sebuah langkah kecil. Namun dari sebuah kue, terbuka kemungkinan untuk membangun cerita yang lebih besar tentang Pala Tomandin.
Widhi berharap inovasi itu tidak berhenti pada satu produk.
“Kita ingin Pala Tomandin tidak hanya dikenal sebagai komoditas rempah, tetapi juga sebagai bahan baku unggulan untuk pengolahan makanan dan minuman. Semakin banyak produk turunan yang lahir, semakin besar peluang nilai tambahnya,” pungkasnya.
Jika konsistensi itu terjaga, bukan tidak mungkin suatu hari orang mengenal Fakfak bukan hanya dari aroma pala yang keluar dari kebun-kebunnya, tetapi juga dari rasa pala yang hadir di meja makan.
Nabarbarak Henggi Tomandin sedang mencoba membuka pintu ke arah itu.
Writter & Editor : Den

























Komentar via Facebook