Melawan Kekeringan di Papua Tengah: Saatnya Aquaponik Menjadi Senjata Ketahanan Pangan

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 19 Juni 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Melawan Kekeringan di Papua Tengah: Saatnya Aquaponik Menjadi Senjata Ketahanan Pangan

Melawan Kekeringan di Papua Tengah: Saatnya Aquaponik Menjadi Senjata Ketahanan Pangan

Oleh: Nadiya Putri Muliyantina

Papua Tengah di Tengah Ancaman Kelaparan, Solusi Lama Tak Lagi Cukup

Papua Tengah Kabarsulselindonesia.web.id selama ini dikenal sebagai wilayah yang kaya akan sumber daya alam dan hasil tambang melimpah. Namun di balik kekayaan tersebut, tersimpan ironi yang menyayat hati: masih ada masyarakat yang berjuang menghadapi kelaparan akibat krisis pangan dan kekeringan ekstrem.

Bencana kekeringan yang melanda sejumlah wilayah seperti Kabupaten Puncak menjadi alarm keras bagi semua pihak. Ribuan warga mengalami kesulitan mendapatkan pangan dan air bersih. Di beberapa distrik pegunungan, kondisi cuaca ekstrem berupa embun beku, hujan es, dan menurunnya suhu secara drastis telah menghancurkan tanaman petatas yang selama ini menjadi sumber makanan utama masyarakat.

Fakta pahit ini menunjukkan bahwa ancaman terbesar masyarakat pedalaman bukan hanya keterisolasian wilayah, tetapi juga rapuhnya sistem ketahanan pangan yang masih sangat bergantung pada pola pertanian tradisional dan kondisi cuaca.

Aquaponik, Teknologi Kecil dengan Harapan Besar

Ketika lahan tidak lagi bersahabat dan air menjadi barang berharga, Papua Tengah membutuhkan terobosan baru. Salah satu solusi yang layak diterapkan adalah sistem aquaponik, teknologi yang menggabungkan budidaya ikan dan tanaman dalam satu ekosistem tertutup yang saling mendukung.

Dalam sistem ini, limbah organik dari ikan diolah secara alami oleh bakteri menjadi nutrisi bagi tanaman. Akar tanaman kemudian menyaring air tersebut sebelum dikembalikan lagi ke kolam ikan. Siklus ini membuat penggunaan air menjadi jauh lebih efisien dan mampu menghemat hingga 90 persen dibandingkan metode pertanian konvensional.

Dengan instalasi sederhana berupa tangki ikan, wadah tanaman, pompa, dan sistem filtrasi, masyarakat dapat menghasilkan dua sumber gizi sekaligus, yakni protein dari ikan serta sayuran segar seperti sawi, kangkung, dan pakcoy.

Bagi daerah yang akses logistiknya bergantung pada transportasi udara dengan biaya tinggi, aquaponik dapat menjadi jalan menuju kemandirian pangan berbasis keluarga.

Jangan Hanya Kirim Bantuan, Bangun Kemandirian

Selama bertahun-tahun, pola penanganan krisis pangan sering kali masih bertumpu pada bantuan darurat berupa beras dan bahan makanan yang dikirim ketika situasi sudah memburuk. Bantuan tersebut memang penting untuk menyelamatkan nyawa, namun tidak bisa menjadi satu-satunya jawaban jangka panjang.

Pemerintah daerah, TNI, akademisi, organisasi kemasyarakatan, dan tokoh adat harus membangun kolaborasi nyata agar teknologi aquaponik dapat menjangkau distrik-distrik terpencil. Dukungan anggaran, pelatihan masyarakat, penggunaan energi surya untuk pompa air, serta pendampingan teknis menjadi kunci keberhasilan program.

Jangan Tunggu Korban Berikutnya

Kelaparan di Papua Tengah seharusnya menjadi tamparan bagi seluruh pemangku kebijakan. Daerah yang kaya sumber daya tidak boleh terus menyaksikan warganya berjuang melawan kelangkaan pangan setiap kali cuaca ekstrem datang.

Aquaponik bukan sekadar teknologi pertanian, tetapi simbol perubahan pola pikir: dari menunggu bantuan menjadi membangun kemandirian. Pertanyaannya kini bukan apakah Papua Tengah memiliki kemampuan untuk berubah, tetapi apakah para pengambil kebijakan memiliki keberanian untuk meninggalkan cara lama dan mulai berinvestasi pada solusi berkelanjutan.

Karena setiap hari yang terlewat tanpa langkah nyata bisa berarti semakin dekatnya ancaman krisis pangan bagi generasi masa depan Papua Tengah.

Penulis: Nadiya Putri Muliyantina

Program Studi: Agribisnis

Fakultas: Fakultas Sains dan Teknologi

Universitas: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Kontak Penulis:

Email: nadiya4putrim@gmail.com

Editor : Bruce Elang