BOROK SISTEM PENGGAJIAN DOKTER INTERNSIP RSUD MIMIKA TERBONGKAR: APBD Rp5 Triliun, Dokter Muda Hanya Dibayar Rp500 Ribu Selama Enam Bulan
BOROK SISTEM PENGGAJIAN DOKTER INTERNSIP RSUD MIMIKA TERBONGKAR: APBD Rp5 Triliun, Dokter Muda Hanya Dibayar Rp500 Ribu Selama Enam Bulan
Mimika Kabarsulselindonesia.web.id — RP Potret memprihatinkan kembali mencuat dari dunia kesehatan Kabupaten Mimika. Seorang dokter muda perempuan asli Mimika berinisial dr. SJ yang menjalani program internsip di RSUD Mimika periode Mei hingga November 2026 dikabarkan hanya menerima insentif sebesar Rp500 ribu selama masa pengabdian enam bulan.
Fakta tersebut diungkapkan oleh pihak keluarga yang mempertanyakan perhatian Pemerintah Kabupaten Mimika terhadap tenaga medis, terutama dokter muda yang sedang menjalani masa pengabdian di fasilitas kesehatan daerah.
Kondisi ini memunculkan tanda tanya besar. Di tengah kebutuhan dokter yang masih tinggi, bagaimana mungkin tenaga medis yang memikul tanggung jawab terhadap keselamatan pasien hanya diberikan penghargaan finansial yang sangat minim?
Jika merujuk pada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/Menkes/1952/2022, bantuan biaya hidup (BBH) bagi dokter internsip diatur berdasarkan skema enam zona wilayah penempatan di seluruh Indonesia, dengan besaran berkisar antara sekitar Rp3,24 juta hingga Rp6,5 juta per bulan sesuai zona penempatan.
Karena itu, jika benar hanya menerima Rp500 ribu selama enam bulan, maka persoalan tersebut harus segera dijelaskan secara terbuka oleh pihak yang berwenang, termasuk manajemen RSUD Mimika dan Pemerintah Kabupaten Mimika.
Ironisnya, persoalan ini muncul di tengah besarnya kemampuan fiskal daerah yang memiliki APBD mencapai lebih dari Rp5 triliun. Besarnya anggaran seharusnya berbanding lurus dengan kualitas tata kelola pelayanan dasar, terutama sektor kesehatan yang menyangkut nyawa masyarakat.
Direktur RSUD Mimika yang baru dilantik diminta untuk tidak menutup mata terhadap persoalan ini. Pembenahan sistem pengelolaan tenaga kesehatan harus menjadi prioritas agar semangat pengabdian para dokter muda tidak dibalas dengan ketidakpastian dan perlakuan yang dianggap tidak menghargai profesinya.17/06/2026
Kesehatan tidak cukup dibangun dengan gedung megah dan angka anggaran yang besar. Ukuran keberhasilan sesungguhnya adalah bagaimana negara dan pemerintah daerah memperlakukan para tenaga medis yang berada di garis depan pelayanan masyarakat.Saya juga dapat membuat versi yang lebih keras dengan gaya “tajuk rencana” atau “kritik politik yang menggigit” untuk menekan tanggung jawab Pemda Mimika dan manajemen RSUD."tutup RP
Editor : Bruce Elang

























Komentar via Facebook