Samandar Cup VII Digelar, PBSI Fakfak Menempa Mental Atlet dari Lapangan Bulutangkis

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 17 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Samandar Cup VII Digelar, PBSI Fakfak Menempa Mental Atlet dari Lapangan Bulutangkis

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Lapangan bulutangkis bukan sekadar tempat mengejar angka dan gelar juara. Di sana, atlet belajar mengendalikan emosi, menerima kekalahan, menghormati lawan, sekaligus menguji sejauh mana mental mereka mampu bertahan di bawah tekanan.

Pesan itu mengemuka saat Turnamen Bulutangkis Samandar Cup VII resmi dibuka oleh Ketua Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Kabupaten Fakfak, Widhi Asmorojati, didampingi Sekretaris PBSI Fakfak, Mohamad Taufik Syafaat.

Bagi PBSI Fakfak, turnamen ini tidak dirancang semata sebagai arena perebutan kemenangan. Samandar Cup VII ditempatkan sebagai bagian dari proses pembinaan yang mempertemukan atlet, pelatih, klub, perangkat pertandingan, orang tua dan masyarakat pencinta bulutangkis dalam satu ruang kompetisi sekaligus kebersamaan.

“Turnamen ini kita jadikan sebagai ruang kebersamaan. Bukan hanya untuk mengejar kemenangan, tetapi bagaimana kita belajar mengendalikan emosi, menghargai lawan, menjaga sportivitas dan membangun mental sebagai seorang atlet,” ujar Widhi.

Ia mengatakan kemampuan seorang atlet tidak cukup diukur dari teknik pukulan maupun kekuatan fisik. Ketika pertandingan berlangsung dan tekanan meningkat, kemampuan mengendalikan diri justru menjadi bagian penting yang menentukan kualitas seorang atlet.

Karena itu, setiap pertandingan dipandang sebagai pengalaman yang bernilai. Atlet memperoleh kesempatan mengukur kemampuan secara langsung, berhadapan dengan karakter lawan yang berbeda, sekaligus belajar mengambil keputusan ketika berada dalam situasi sulit.

“Dengan olahraga, kita sehat, bertemu, bersilaturahmi dan membangun kebersamaan. Dari lapangan bulutangkis kita juga belajar tentang disiplin, kerja keras, tanggung jawab dan bagaimana menerima kemenangan maupun kekalahan dengan baik,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan Sekretaris PBSI Fakfak, Mohamad Taufik Safaat. Menurut dia, kompetisi merupakan salah satu instrumen penting dalam membentuk atlet yang tidak hanya mampu bermain, tetapi juga siap menghadapi tekanan kompetisi yang lebih tinggi.

“Turnamen seperti ini adalah proses pembelajaran. Kita mempersiapkan atlet bukan hanya dari sisi kemampuan bermain, tetapi juga bagaimana mereka menghadapi pertandingan, mengelola tekanan dan membangun mentalitas,” ujar Taufik.

Pembelajaran itu, kata dia, tidak hanya berlaku bagi atlet. Perangkat pertandingan, termasuk unsur perwasitan, juga memperoleh pengalaman untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan kompetisi. Semakin banyak pertandingan digelar, semakin besar pula ruang evaluasi bagi seluruh unsur yang menopang pembinaan bulutangkis.

Di tengah berlangsungnya Samandar Cup VII, perhatian PBSI Fakfak juga tertuju kepada atlet-atlet remaja yang sedang membawa nama daerah dalam Kaimana Rajawali Cup di Kabupaten Kaimana, Papua Barat.

Para atlet muda PBSI Fakfak tersebut telah menembus babak final. Pencapaian itu menjadi salah satu gambaran bahwa proses pembinaan atlet usia muda di Fakfak mulai menemukan ruang kompetisi yang lebih luas.

PBSI Fakfak pun memberikan dukungan kepada para atlet yang tengah berjuang di Kaimana. Widhi berharap mereka mampu tampil tenang dan memberikan kemampuan terbaik dalam pertandingan final.

“Kita doakan atlet-atlet remaja PBSI Fakfak yang sedang mengikuti Kaimana Rajawali Cup dan sudah masuk final. Semoga mereka diberikan kekuatan, ketenangan dan mampu memberikan yang terbaik. Apa pun hasilnya, pengalaman ini adalah bagian dari proses pembentukan mental dan prestasi mereka,” kata Widhi.

Bagi PBSI Fakfak, prestasi tidak lahir dari satu turnamen. Ia dibangun melalui latihan yang konsisten, kompetisi yang berkelanjutan, pembinaan yang terarah serta dukungan keluarga, pelatih, klub dan masyarakat.

Samandar Cup VII karena itu bukan sekadar catatan pertandingan dalam kalender olahraga Fakfak. Ia menjadi salah satu ruang untuk menguji kemampuan sekaligus menempa karakter atlet agar kemenangan tidak membuat mereka lupa diri dan kekalahan tidak membuat mereka berhenti berjuang.

Dari lapangan itu, PBSI Fakfak berharap lahir generasi atlet yang bukan hanya kuat dalam permainan, tetapi juga matang dalam menghadapi tekanan, menjunjung sportivitas dan siap membawa nama Fakfak ke panggung kompetisi yang lebih luas.

 

Writter & Editor : Den