PWI Kritik Pendidikan dan Kasus Kekerasan Perempuan: Adat Harus Tegak, Jangan Tebang Pilih
Maluku Tenggara,Kabarsulsel-Indonesia.web.id. Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Agustinus B Rahakbauw dalam sebuah forum diskusi publik menyampaikan kritik keras terhadap sejumlah persoalan di sektor pendidikan serta isu sosial yang terjadi di Maluku Tenggara.
Termasuk dugaan ketidakadilan dalam pelayanan pendidikan dan meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan di tanah Kei.
29/04/2026
Dalam penyampaiannya, ia menegaskan bahwa kritik terhadap Dinas Pendidikan bukan bentuk kebencian, melainkan upaya korektif untuk mendorong perbaikan kinerja kedepan.
Disisi lain dirinya juga mengapresiasi kinerja Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kab Maluku Tenggara Bin Raudah Arif Hanoeboen yang dinilai telah menunjukkan sejumlah kemajuan, termasuk peningkatan akreditasi sekolah dasar dan menengah pertama."bebernya
Namun demikian, ia tetap menyoroti adanya keluhan dari sejumlah pihak terkait dugaan praktik “tebang pilih” dalam pelayanan dan akses program pendidikan.
“Masih ada keluhan dari sejumlah guru dan pihak sekolah terkait perlakuan yang dinilai belum merata,” ujarnya dalam forum tersebut.
Selain isu pendidikan, ia juga menyoroti persoalan sosial yang dinilai serius, yakni dugaan meningkatnya kasus pelecehan terhadap perempuan di wilayah Maluku Tenggara dari waktu ke waktu.
Ia mempertanyakan peran berbagai pihak, termasuk tokoh adat, dalam memberikan perlindungan terhadap perempuan di tengah persoalan tersebut.
Dalam pandangannya, nilai-nilai adat masyarakat Kei yang selama ini dijunjung tinggi perlu ditegakkan secara konsisten dan tidak diskriminatif.
“Adat harus berdiri tegak dan tidak boleh tebang pilih dalam menegakkan keadilan sosial,” tegas Rahakbauw
Ia juga mendorong agar setiap pelaksanaan kegiatan budaya dan event seperti Nisa’ Mas dapat benar-benar mengedepankan nilai-nilai adat secara utuh, termasuk simbol dan aturan yang melekat dalam tradisi setempat seperti Usi Ulin.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya sebatas seremonial, tetapi juga harus menjadi bagian dari praktik sosial yang adil dan konsisten."tutup Rahakbauw.
(Elang)

























Komentar via Facebook