Ketika Sasi Dibuka, Pala Tetap Harus Matang: Sipatnanam Menjaga Warisan dan Mutu Fakfak

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 27 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Ketika Sasi Dibuka, Pala Tetap Harus Matang: Sipatnanam Menjaga Warisan dan Mutu Fakfak

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Di Kampung Sipatnanam, pala bukan sekadar buah yang dipanen ketika musim tiba. Ia adalah warisan. Ia tumbuh bersama sejarah keluarga, menjadi penyangga kehidupan, sekaligus menyimpan pesan leluhur yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Karena itu, ketika masyarakat Sipatnanam membuka Sasi Kerakera Pala, Rabu, 26 Agustus 2026, yang dibuka bukan semata-mata kesempatan untuk memanen hasil kebun. Ada komitmen yang kembali diteguhkan: menjaga adat, merawat warisan, dan memastikan pala Fakfak tetap dipanen dengan mutu terbaik.

Prosesi adat tersebut dihadiri Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak Widhi Asmoro Jati, S.T., M.T., Kepala Kampung Sipatnanam Yanuarius Tuturup, Ketua Lembaga Masyarakat Adat Kabupaten Fakfak Leonardus Tuturup, serta tokoh adat, tokoh agama, pemerintah kampung, dan masyarakat.

Bagi Yanuarius, pembukaan Sasi Kerakera menjadi pengingat bahwa masyarakat memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar memperoleh hasil dari kebun.

“Yang kita jaga bukan hanya pala, tetapi juga harga diri, martabat, dan budaya negeri ini. Mari kita tanamkan kesadaran untuk menjaga apa yang telah dititipkan leluhur kepada kita.”

Ia berharap tradisi tersebut tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Sasi, kata dia, harus terus hidup dalam keluarga dan dikenalkan kepada generasi muda.

Anak-anak Sipatnanam perlu memahami bahwa pala bukan hanya komoditas yang memiliki nilai jual. Lebih dari itu, pala merupakan bagian dari identitas masyarakat Fakfak.

Sasi Dibuka, Pala Tidak Berarti Dipanen Semua

Di tengah pembukaan Sasi Kerakera itu, Kepala Dinas Perkebunan Fakfak Widhi Asmoro Jati menyampaikan pesan yang sederhana, tetapi penting: sasi boleh dibuka, namun pala yang dipetik harus benar-benar matang.

Menurut Widhi, musim panen pala tahun ini mengalami pergeseran dibandingkan kalender perkiraan musim yang selama ini menjadi acuan masyarakat.

Fenomena perubahan cuaca dan iklim, menurut dia, turut memengaruhi proses pertumbuhan dan waktu kematangan buah pala. Akibatnya, sejumlah wilayah di Fakfak sudah mulai memasuki masa panen lebih awal.

Kampung Sipatnanam dan Kamandu Tetar, misalnya, telah memiliki pala yang siap dipanen, meskipun secara umum musim panen pala barat selama ini diperkirakan berlangsung mulai Oktober.

Namun perubahan musim itu, kata Widhi, tidak boleh menjadi alasan untuk memanen seluruh buah pala tanpa mempertimbangkan tingkat kematangannya.

“Walaupun Sasi Kerakera sudah dibuka di wilayah ini, kita tetap harus bijak melihat kematangan pala yang akan dipetik. Jangan hanya karena sasi sudah dibuka kemudian semua pala dipanen. Kita harus memastikan pala yang dipetik benar-benar sudah matang sehingga mutu dan kualitasnya tetap terjaga.”

Pesan itu menempatkan Sasi Kerakera bukan sekadar sebagai mekanisme adat untuk membuka masa panen. Ada prinsip lain yang harus berjalan bersamaan, yakni menjaga kualitas hasil kebun.

Sasi memberikan ruang bagi masyarakat untuk memulai pemanenan. Tetapi keputusan memetik tetap harus berpijak pada kondisi buah. Pala yang belum cukup matang harus dibiarkan tetap berada di pohonnya.

Bagi Widhi, perpaduan antara mekanisme adat dan prinsip pengendalian mutu menjadi bagian penting dalam menjaga masa depan Pala Fakfak.

Adat Menjaga, Pemerintah Menguatkan

Widhi mengapresiasi inisiatif masyarakat Kampung Sipatnanam yang terus mempertahankan dan memperkuat Sasi Kerakera.

Menurut dia, pemerintah dapat menyusun regulasi, melakukan pembinaan, dan memperkuat pengawasan. Namun kekuatan utama dalam menjaga pala tetap berada di tangan masyarakat dan lembaga adat di kampung.

“Pemerintah hanya dapat membuat regulasi, melakukan pembinaan dan pengawasan. Tetapi kekuatan utama untuk menjaga pelaksanaannya ada pada masyarakat dan adat di masing-masing kampung.”

Sasi Kerakera, menurut dia, dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk mencegah praktik pemanenan pala muda.

Pemanenan buah yang belum matang bukan hanya berpotensi menurunkan kualitas hasil. Dalam jangka panjang, praktik tersebut dapat memengaruhi reputasi Pala Fakfak di pasar.

Karena itu, menjaga mutu harus menjadi kepentingan bersama, baik petani, pengumpul, pemerintah maupun masyarakat adat.

Widhi juga mengingatkan pentingnya hubungan yang adil antara petani dan pengumpul. Pala yang dipanen dalam kondisi matang dan berkualitas, menurut dia, harus memperoleh harga yang layak.

Sebaliknya, petani juga memiliki tanggung jawab menjaga buah pala hingga mencapai tingkat kematangan optimal.

Pala sebagai Investasi Masa Depan

Bagi Pemerintah Kabupaten Fakfak, pengembangan pala tidak berhenti pada urusan panen dan perdagangan hari ini.

Melalui program pengembangan Pala Unggul Fakfak, pemerintah terus mendorong peningkatan produktivitas dan kualitas komoditas yang selama ini menjadi salah satu kekuatan ekonomi masyarakat.

Program tersebut mencakup rehabilitasi tanaman, perluasan areal, peningkatan produktivitas, pengembangan pala unggul, penguatan kelompok masyarakat, hingga pengembangan hilirisasi dan nilai tambah.

Widhi menyebut pala sebagai investasi yang harus disiapkan untuk masa depan.

“Pala adalah investasi masa depan. Kita tidak boleh hanya berbicara tentang panen hari ini, tetapi harus menyiapkan tanaman, produktivitas, mutu dan nilai tambah untuk generasi berikutnya.”

Ia menggambarkan kebun pala sebagai kekayaan yang diwariskan leluhur dan dapat terus memberikan manfaat apabila dikelola dengan baik.

“Kalau orang lain punya tabungan di bank, masyarakat Fakfak memiliki ‘ATM’ yang diwariskan leluhur kita, yaitu kebun pala. Tetapi ATM ini harus kita jaga dan tingkatkan kualitasnya.”

Ungkapan itu menjadi cara sederhana untuk menggambarkan betapa pentingnya kebun pala bagi kehidupan masyarakat Fakfak. Kebun bukan hanya aset ekonomi. Ia adalah warisan yang harus tetap produktif agar dapat diwariskan kembali kepada generasi berikutnya.

Adat Tidak Boleh Tinggal Simbol

Ketua LMA Kabupaten Fakfak Leonardus Tuturup menilai pelaksanaan Sasi Kerakera di Kampung Sipatnanam merupakan contoh penting bagaimana adat masih memiliki peran dalam mengatur kehidupan masyarakat dan pemanfaatan sumber daya alam.

Menurut dia, pala memiliki kedudukan yang jauh lebih besar daripada sekadar komoditas ekonomi.

“Pala adalah bagian dari kehidupan dan identitas masyarakat Fakfak. Karena itu, pengelolaannya harus tetap berpijak pada adat dan kearifan lokal.”

Leonardus menilai keberlanjutan pala membutuhkan kolaborasi antara masyarakat adat dan pemerintah.

Adat, kata dia, tidak boleh berhenti sebagai simbol yang hanya ditampilkan dalam seremoni. Adat harus hadir dalam mengatur, menjaga, dan memastikan warisan leluhur tetap dapat dinikmati generasi berikutnya.

Karena itu, ia mendorong agar Sasi Kerakera terus diperkuat sebagai bagian dari tata kelola sumber daya alam berbasis masyarakat.

Di Sipatnanam, pembukaan sasi akhirnya membawa pesan yang lebih luas daripada sekadar dimulainya masa panen.

Ada adat yang dijaga. Ada pala yang harus dibiarkan matang. Ada mutu yang dipertahankan. Dan ada masa depan yang sedang dipersiapkan.

Bagi masyarakat Sipatnanam, menjaga pala berarti menjaga warisan leluhur.

Sementara bagi Pemerintah Kabupaten Fakfak, menjaga kualitas pala berarti menjaga masa depan sebuah komoditas yang diharapkan tetap unggul, berdaya saing, dan menjadi sumber kesejahteraan bagi generasi yang akan datang.

Sasi telah dibuka. Namun pesan yang tersisa justru sederhana: tidak semua yang bisa dipanen harus segera dipetik. Karena untuk menghasilkan pala terbaik, alam pun membutuhkan waktu untuk menyempurnakannya.
 

Writter & Editor : Den