STIAMI Menembus Batas: Dari Mangrove PIK hingga Panggung Global

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 29 April 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

STIAMI Menembus Batas: Dari Mangrove PIK hingga Panggung Global

Jakarta, Kabarsulselindonesia.web.id | Internasionalisasi pendidikan kerap terdengar sebagai jargon. Namun bagi Institut STIAMI, ia sedang dijalankan pelan tapi pasti, konkret, dan terukur.

Sepanjang April 2026, kampus yang berbasis di Jakarta ini menggelar serangkaian program yang mengarah pada satu tujuan: menempatkan mahasiswa dalam orbit global. Bukan sekadar pertukaran wacana, melainkan keterlibatan langsung dalam aktivitas lintas negara.

Rektor STIAMI, Sylviana Murni, menyebut langkah ini sebagai keniscayaan. “Internasionalisasi bukan lagi pilihan. Ini kebutuhan strategis,” ujarnya dalam keterangan resmi, 28 April 2026.

Pernyataan itu menemukan bentuknya di lapangan. Di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, mahasiswa STIAMI bersama peserta dari 11 negara menanam lebih dari 100 mangrove dalam program bertajuk Mangrove Restoration for Life. Kegiatan itu bukan hanya simbol kepedulian lingkungan, melainkan juga ruang interaksi lintas budaya sebuah laboratorium sosial yang jarang ditemukan di ruang kelas.

Di saat yang sama, capaian akademik juga mulai menunjukkan gaungnya. Mahasiswa STIAMI mencatatkan prestasi dalam ajang Asia Youth Green Summit 2026 forum yang mempertemukan generasi muda dari berbagai negara dalam isu keberlanjutan. Kemenangan itu menjadi sinyal bahwa mahasiswa tidak sekadar hadir, tetapi mampu bersaing.

Upaya memperkuat daya saing juga dilakukan dari sisi fundamental: bahasa. Ratusan mahasiswa mengikuti TOEIC Prediction Test, sebuah langkah yang tampak sederhana namun krusial dalam membuka akses ke dunia internasional.

Tak berhenti di situ, STIAMI memperluas jejaringnya. Kerja sama dengan Belt and Road Chinese Center (BRCC) serta mitra industri di Taiwan membuka jalur baru: pertukaran mahasiswa, program magang internasional, hingga peluang studi lanjut di luar negeri. Jalur-jalur ini, jika konsisten dijaga, berpotensi menjadi pintu masuk permanen bagi mahasiswa ke ekosistem global.

Sylviana menegaskan, target akhirnya bukan sekadar lulusan yang siap kerja. 

“Kami ingin lulusan yang siap bersaing secara global dan menjadi bagian dari solusi dunia,” katanya.

Di tengah persaingan pendidikan tinggi yang kian ketat, langkah STIAMI ini menunjukkan satu hal: kampus tidak lagi cukup menjadi menara gading. Ia harus bergerak, menjalin, dan menembus batas. Jika tidak, ia akan tertinggal.

Dan STIAMI tampaknya memilih untuk tidak tinggal diam.

 

Writter : Elang | Editor : Den