Prof.Ir Leni UGM Kagum Toleransi Masyarakat Kei, Siapkan Program Ketangguhan Iklim dan Pemberdayaan Ekonomi di Maluku Tenggara
Prof.Ir Leni UGM Kagum Toleransi Masyarakat Kei, Siapkan Program Ketangguhan Iklim dan Pemberdayaan Ekonomi di Maluku Tenggara
Langgur Kabarsulselindonesia.web.id – Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Ir. Leni Sophia Heliani, S.T., M.Sc., D.Sc., IPU, mengaku terkesan dengan kehidupan sosial masyarakat Maluku Tenggara yang dinilainya menjadi contoh nyata toleransi dan persatuan di tengah keberagaman.
Hal itu disampaikan Prof. Leni kepada wartawan usai acara penerimaan mahasiswa KKN-PPM UGM dan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon Tahun 2026 yang berlangsung di Aula Kantor Bupati Maluku Tenggara, Selasa (23/6/2026).
Menurut Prof. Leni, UGM tahun ini menerjunkan dua unit KKN di Maluku Tenggara. Unit pertama ditempatkan di Kei Kecil Timur Selatan (KKTS) dengan 29 mahasiswa, sedangkan unit kedua berada di Kei Kecil Barat (KKB) dengan 23 mahasiswa. Selain itu, sebanyak 10 mahasiswa Universitas Pattimura turut bergabung dalam program pengabdian tersebut.
Untuk wilayah KKTS, mahasiswa akan menjalankan program di tiga ohoi, yakni Elaar Let, Elaar Lamagorang, dan Elaar Ngursoin, dengan Koordinator Mahasiswa Unit Najmie Azkal Fahmi.
Prof.Ir Leni menjelaskan bahwa program KKN tahun ini mengusung tema besar pemberdayaan masyarakat melalui kemitraan dan pengembangan usaha berbasis ketangguhan masyarakat pulau kecil terhadap perubahan iklim.
"Kami membawa empat klaster utama, yaitu Scientech, Agro, Kesehatan, dan Humaniora. Semua program disusun berdasarkan kebutuhan dan potensi masyarakat setempat," ujarnya.
Pada klaster Scientech, mahasiswa akan fokus pada pengembangan infrastruktur, perencanaan wilayah, pengembangan pariwisata, hingga edukasi perubahan iklim yang dinilai menjadi tantangan serius bagi kawasan kepulauan seperti Maluku Tenggara.
Sementara klaster Agro akan mendampingi masyarakat dalam pengembangan pertanian berkelanjutan, konservasi wilayah pesisir melalui penanaman mangrove, serta diversifikasi produk pangan berbasis hasil pertanian dan perikanan lokal.
Di sektor kesehatan, mahasiswa dari Fakultas Kedokteran dan Farmasi akan memberikan edukasi pola hidup bersih dan sehat, penggunaan obat secara bijak, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap berbagai penyakit yang berpotensi meningkat akibat perubahan iklim.
Sedangkan klaster Humaniora akan berfokus pada pengembangan pariwisata, penguatan kelembagaan desa, penyusunan regulasi tingkat ohoi, hingga pendokumentasian kehidupan sosial dan budaya masyarakat Maluku Tenggara dalam bentuk buku.
Menurut Prof. Leni, potensi wisata di wilayah Kei Kecil Timur Selatan sangat besar karena masih alami dan belum banyak tersentuh pengembangan.
"Kami melihat kawasan ini sangat original, memiliki daya tarik yang luar biasa. Karena itu mahasiswa akan membantu mengidentifikasi dan mengembangkan potensi wisata sekaligus mendorong lahirnya homestay dan usaha masyarakat yang dapat meningkatkan perekonomian warga," katanya.
Namun di balik berbagai program tersebut, ada satu hal yang paling membekas bagi dirinya selama tiga hari berada di Ohoi Elaar Let, Elaar Lamagorang, dan Elaar Ngursoin, yakni kehidupan toleransi masyarakat Kei.
Prof. Leni mengaku kagum melihat bagaimana masyarakat dengan agama yang berbeda tetap hidup harmonis dalam satu ikatan keluarga besar.
"Kami melihat sesuatu yang luar biasa. Dalam satu marga yang sama ada yang Muslim, Protestan, dan Katolik. Tetapi mereka hidup berdampingan dengan penuh kehangatan, saling menghormati, dan saling mendukung. Ini adalah pelajaran besar bagi mahasiswa dan Indonesia," ungkapnya.
Ia bahkan menilai kearifan lokal masyarakat Kei layak diperkenalkan kepada Indonesia bahkan dunia sebagai contoh nyata toleransi yang hidup dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
"Kami ingin membagikan kepada Indonesia bahwa perbedaan bukan penghalang untuk bersatu. Apa yang kami lihat di Kei adalah praktik toleransi yang nyata dan tulus," ujarnya.
Selain itu, Prof. Leni juga menyoroti pentingnya aspek keselamatan selama pelaksanaan KKN. Ia mengaku masih menyimpan duka atas peristiwa yang pernah terjadi pada pelaksanaan KKN sebelumnya sehingga UGM kini memperkuat sistem Keselamatan, Kesehatan, dan Lingkungan (K3L) bagi seluruh mahasiswa.
Menurutnya, sebelum diterjunkan ke lokasi, mahasiswa telah dibekali pelatihan keselamatan, kemampuan dasar menghadapi kondisi darurat, hingga pemahaman mengenai risiko lingkungan di lokasi KKN.
"Keselamatan adalah prioritas utama. Kami ingin seluruh mahasiswa berangkat bersama dengan selamat dan kembali pulang bersama dengan selamat serta membawa manfaat bagi masyarakat," tegasnya.
Sebagai seorang dosen sekaligus ibu, Prof. Leni mengakui melepas puluhan mahasiswa ke wilayah kepulauan bukan perkara mudah. Namun ia meyakini pengalaman hidup bersama masyarakat akan menjadi pembelajaran berharga yang tidak bisa diperoleh di ruang kelas.
Kepada orang tua mahasiswa dan civitas akademika UGM, Prof. Leni memastikan bahwa kondisi mahasiswa di Maluku Tenggara dalam keadaan baik dan mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah daerah maupun masyarakat setempat.
"Dari apa yang kami lihat selama berada di sini, masyarakat menerima kami dengan sangat baik. Kami optimistis seluruh program KKN dapat berjalan lancar, aman, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Maluku Tenggara," pungkasnya.
Editor : Bruce Elang

























Komentar via Facebook