Retribusi Tembus Rp 248,4 Juta, Harga Fuly Menguat, Fakfak Perkuat Fondasi Pala Unggul
Fakfak, Kabarsulselindonesia.web.id | Komoditas pala kembali menunjukkan perannya sebagai penopang utama ekonomi perkebunan rakyat di Kabupaten Fakfak. Hingga akhir April 2026, penerimaan retribusi dari perdagangan pala tercatat mencapai Rp 248.465.700.
Pada April saja, realisasi penerimaan sebesar Rp 50.996.700 angka yang relatif setara dengan Maret. Stabilitas itu mencerminkan arus perdagangan yang terjaga di tengah dinamika pasar rempah nasional.
Data lalu lintas perdagangan mencatat, sepanjang Januari hingga April 2026, total pala yang diperdagangkan mencapai 706,27 ton. Rinciannya terdiri atas pala kulit 515,88 ton, pala ketok 79,80 ton, serta fuly pala atau bunga pala sebanyak 110,58 ton. Khusus April, volume perdagangan tercatat 104,39 ton, dengan komposisi pala kulit 66,99 ton, pala ketok 10 ton, dan fuly 27,40 ton.
Dominasi masih berada pada pala kulit sebagai komoditas primer. Namun, peningkatan volume dan harga fuly menjadi perkembangan yang menonjol. Di tingkat perdagangan Fakfak, harga fuly bergerak pada kisaran Rp 260 ribu hingga Rp 270 ribu per kilogram.
Sementara di pasar besar seperti Surabaya dan Jakarta, harga telah mencapai Rp 280 ribu hingga Rp 290 ribu per kilogram. Kenaikan ini menunjukkan tingginya permintaan serta respons positif pasar terhadap kualitas produk Fakfak.
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, S.T., M.T menyatakan stabilnya penerimaan dan volume perdagangan April dipengaruhi pola panen masyarakat yang relatif merata, kondisi cuaca yang mendukung proses panen dan penjemuran, serta permintaan pasar antar pulau yang tetap terjaga.
Ia menilai, pelaku usaha kini semakin selektif terhadap mutu, sehingga produk yang diperdagangkan telah melalui proses penyaringan kualitas yang lebih ketat.
Hasil pengujian laboratorium Dinas Perkebunan menunjukkan tren perbaikan mutu. Tingkat kematangan buah dinilai lebih optimal, kadar air lebih terkendali, kebersihan komoditas meningkat, serta pemisahan jenis pala pala kulit, pala ketok, dan fuly semakin tertata. Penanganan pascapanen pun mulai mengikuti standar perdagangan yang berlaku.
Perbaikan mutu tersebut menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pasar. Di tengah persaingan komoditas rempah, reputasi kualitas menjadi penentu daya saing.
Pemerintah daerah mendorong penataan tata niaga, pengawasan distribusi, serta disiplin panen pada tingkat kematangan optimal guna memastikan standar mutu terjaga secara konsisten.
Meski harga fuly menunjukkan tren menguat, kondisi berbeda terjadi pada biji pala. Harga komoditas ini belum mengalami kenaikan signifikan.
Sejumlah kendala mendasar masih memengaruhi daya saingnya, antara lain panen yang belum sepenuhnya pada tingkat kematangan ideal, proses pengeringan yang belum merata sehingga kadar air tinggi, pencampuran mutu, serta praktik sortasi dan penanganan pascapanen yang belum maksimal.
Pasar besar, termasuk untuk kebutuhan industri dan ekspor, kini menerapkan standar pembelian yang lebih ketat. Ukuran biji seragam, warna inti yang baik, aroma kuat, bebas jamur, serta kadar air sesuai standar menjadi prasyarat utama. Tanpa konsistensi mutu, harga sulit bergerak optimal.
Menurut Widhi, momentum kenaikan harga fuly harus dimanfaatkan untuk memperbaiki tata kelola produksi secara menyeluruh. Disiplin memanen pala tua betul, pemisahan kualitas sejak awal, serta penjemuran yang tepat dinilai sebagai kunci peningkatan nilai jual biji pala.
Stabilitas produksi yang tercermin dalam volume perdagangan April menjadi indikator pasokan terjaga. Perbaikan mutu memberi peluang peningkatan nilai ekonomi.
Dengan tata niaga yang semakin tertib dan kesadaran mutu yang tumbuh di kalangan petani serta pelaku usaha, Fakfak berupaya mengukuhkan posisinya bukan sekadar sebagai penghasil pala dalam jumlah besar, melainkan sebagai produsen rempah berkualitas unggul.
Di tengah pasar yang kian selektif, masa depan pala Fakfak bergantung pada konsistensi menjaga standar. Bukan semata mengejar tonase, melainkan membangun reputasi.
Jika fondasi mutu itu kokoh, nilai ekonomi petani pun berpeluang meningkat seiring dengan penguatan citra pala Fakfak sebagai rempah premium dari Papua Barat.
Writter : Den | Editor : Den

























Komentar via Facebook