Gelar Diskusi Ekonomi- "KADIN Maluku Dorong UMKM Naik Kelas---Modal, Pengetahuan Dan Akses Kunci Penguatan Sektor Riil"

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 29 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Gelar Diskusi Ekonomi-

AMBON,Kabarsulsel-Indonesia.web.id. Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Provinsi Maluku menggelar diskusi bulanan ekonomi dengan tema "Sinergi UMKM dan Dunia Perbankan Guna Memperkuat Sektor Riil di Maluku", yang berlangsung di Baileo Cafe, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan ini dihadiri pengurus KADIN dari berbagai kabupaten/kota, pelaku UMKM binaan KADIN, serta narasumber dari Bank Indonesia, PNM, dan Dinas Koperasi Provinsi Maluku.

Ketua Umum KADIN Maluku, M.A.S. Latuconsina, membuka kegiatan dengan mengingatkan kembali kedudukan dan fungsi KADIN sebagai satu-satunya organisasi pengusaha yang diberi mandat melalui UU No. 1 Tahun 1987 tentang Kamar Dagang dan Industri, yang kini sedang dalam proses revisi di DPR RI agar semakin memperkuat peran KADIN.

"KADIN memiliki tiga fungsi utama: pertama, wadah berhimpun para pengusaha untuk saling berbagi informasi dan bekerja sama. Kedua, fungsi intermediasi antara pengusaha dan pemerintah. Ketiga, memfasilitasi konektivitas dunia usaha di tingkat lokal, nasional, maupun internasional."

Diskusi kali ini merupakan seri kedua setelah sebelumnya membahas potensi ekonomi Blok Masela. Fokus kali ini diarahkan pada UMKM — sektor yang terbukti paling tangguh di tengah krisis ekonomi, namun masih menghadapi banyak kendala untuk berkembang lebih jauh.

"UMKM tidak mungkin berkembang kalau modalnya tidak ada, tidak mungkin berkembang kalau pengetahuannya tidak ada, dan tidak mungkin berkembang kalau tidak diberi akses. Pemerintah memang memanjakan UMKM dengan berbagai kebijakan, namun dalam implementasinya di tingkat lapangan seringkali tidak berjalan. Bukan karena kebijakannya salah, melainkan karena sikap dan prilaku baik dari pelaku usaha maupun dari dunia perbankan."

Latuconsina mencontohkan kebijakan pemerintah pusat yang menghapus kredit macet petani dan nelayan — menunjukkan perhatian besar negara terhadap sektor riil. KADIN Maluku pun berkomitmen menjadikan UMKM sebagai salah satu pilar utama penguatan ekonomi daerah.

Latuconsina menyampaikan kritik tajam sekaligus refleksi mendalam:

"Kita di Maluku ini kaya raya sumber daya alam dan manusia, namun tetap menjadi provinsi termiskin nomor tiga dari bawah. Apa yang kurang? Yang kurang adalah kepedulian dan tindakan nyata. Jangan hanya bangga menyanyi, bangga bicara sumber daya, tapi tetap miskin di lumbung yang begitu kaya."

Ia juga menyentuh pola pikir pelaku usaha yang perlu berubah:

"Orang asing berusaha dengan prinsip: untung kecil tapi berulang terus-menerus, lama-lama menjadi besar. Sementara kita pribumi sering ingin untung besar sekaligus, modal belum balik sudah beli motor, TV, barang lain. Itu yang harus kita ubah. Fokuslah pada satu usaha dulu, kembangkan, baru kemudian tambah yang lain."

Latuconsina mengajak seluruh Ketua KADIN Kabupaten/Kota untuk segera berkoordinasi dengan Bupati/Walikota, menyusun strategi pengembangan UMKM, lalu berkomunikasi dengan dunia perbankan agar akses permodalan semakin terbuka.

"KADIN akan membentuk tim khusus untuk mendampingi UMKM binaan kita. Kalau ada bank yang belum mau membantu, KADIN akan merekomendasikan agar dibantu — karena itu tanggung jawab kita bersama. Usaha kecil yang mendapat modal Rp2–3 juta harus bisa tumbuh, bukan berpindah-pindah usaha setiap musim."

Ia juga memuji langkah progresif Pemerintah Provinsi Maluku di bawah kepemimpinan Gubernur Hendrik Lewerissa yang terus berupaya membuka akses dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang terlihat dari data Bank Indonesia. KADIN siap mengambil peran dalam upaya tersebut.

"Diskusi ini bukan sekadar acara sekali jadi. Kita akan lanjutkan seri demi seri. Mulai dari mana, bagaimana prosesnya, lalu apa hasilnya. Semoga kita semua diberi kesehatan dan umur panjang untuk berkontribusi bagi Maluku yang lebih sejahtera."

(M.N)