Mimika Di Atas Emas, Rakyat Di Bawah Garis: Seruan Keras Tokoh Amungme Guncang Pemerintah
Mimika, KabarsulselIndonesia.web.id | Mimika tidak sedang baik-baik saja. Di tengah gemerlap status sebagai daerah penghasil kekayaan raksasa, suara dari tanah sendiri justru menggema paling keras dan paling getir.
Yohanis Kum, tokoh sekaligus Kepala Suku Amungme, melontarkan kritik yang bukan sekadar pedas, tetapi menelanjangi kegagalan yang selama ini terbungkus rapi oleh narasi pembangunan. Ia tidak berbicara dengan bahasa diplomasi. Ia berbicara dengan realitas.
Di Mimika, ironi bukan lagi cerita ia adalah kenyataan sehari-hari.
Julukan “Kota Dolar” kini kehilangan makna, bahkan terdengar seperti sindiran pahit. Di wilayah yang setiap tahunnya menghasilkan triliunan rupiah, masyarakat asli justru bertahan dalam tekanan ekonomi. Uang berputar deras di level atas, tetapi nyaris tidak menetes ke bawah. Pasar melemah, daya beli anjlok, dan kebutuhan dasar menjadi beban.
Ini bukan sekadar ketimpangan. Ini kegagalan distribusi yang sistemik.
Yohanis Kum menyasar langsung inti persoalan: kepemimpinan yang dinilai tidak hadir bagi rakyatnya. Dua tahun pemerintahan berjalan, tetapi yang dirasakan masyarakat bukanlah perubahan melainkan keterasingan yang makin dalam.
Ia menggambarkan masyarakat adat seperti “anak piatu” dan “anak tiri” di tanahnya sendiri. Pernyataan yang brutal, tetapi justru menggambarkan kenyataan yang selama ini dihindari untuk diakui.
Lebih jauh, kritik itu menohok arah kebijakan pemerintah daerah yang dianggap terjebak dalam euforia birokrasi. Energi habis untuk merapikan struktur, memperindah administrasi, dan mengurus internal kekuasaan sementara rakyat dibiarkan berjuang sendiri.
Pesannya sederhana, tapi menghancurkan: birokrasi yang rapi tidak akan pernah bisa mengisi perut yang kosong.
Apa arti kantor megah jika dapur rakyat tak berasap? Untuk apa sistem yang tertata jika harga kebutuhan pokok tetap tak terjangkau? Di mana letak keberhasilan, jika masyarakat adat pemilik sah tanah ini justru menjadi penonton di tengah eksploitasi kekayaan mereka sendiri?
Kritik ini sekaligus membuka luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh: jurang antara kekayaan sumber daya dan kesejahteraan masyarakat adat. Amungme dan Kamoro hidup di atas tanah yang mengandung emas, tetapi tidak menikmati nilainya secara adil.
Situasi ini bukan hanya soal ekonomi. Ini soal keadilan. Soal martabat. Dan yang paling berbahaya soal kepercayaan.
Ketika rakyat mulai merasa ditinggalkan, legitimasi kekuasaan perlahan terkikis. Jika dibiarkan, Mimika tidak hanya menghadapi kemiskinan di tengah kekayaan, tetapi juga potensi gejolak sosial yang lebih luas.
Ini bukan sekadar kritik. Ini alarm keras yang seharusnya tidak diabaikan.
Pemerintah daerah kini tidak punya banyak pilihan: terus berlindung di balik retorika dan rapinya birokrasi, atau turun langsung memastikan satu hal paling mendasar bahwa rakyat Mimika tidak lagi lapar di tanah yang kaya.
Writter : Elang | Editor : Den

























Komentar via Facebook