Menanam Pala di Kebun, Menanam Masa Depan di Sekolah
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Pemerintah Kabupaten Fakfak mulai menanam investasi pala bukan hanya di kebun, tetapi juga di ruang-ruang kelas. Melalui Dinas Perkebunan, pemerintah mengenalkan Pala Tomandin kepada generasi usia sekolah agar komoditas unggulan daerah itu tidak berhenti sebagai warisan, melainkan tumbuh menjadi peluang usaha dan sumber ekonomi baru.
SMK Negeri 1 Fakfak menjadi sekolah terakhir dalam rangkaian Bimbingan Teknis (Bimtek) Pala Tomandin yang digelar Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak. Kegiatan ini sebelumnya telah menyasar tiga sekolah lainnya.
Kepala SMK Negeri 1 Fakfak, Jacop Raimon Heretrenggi, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurut dia, pengenalan pala sangat relevan dengan pendidikan vokasi yang menempatkan keterampilan dan potensi lokal sebagai bagian penting dari proses pembelajaran.
“Siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami potensi daerah yang bisa dikembangkan menjadi peluang usaha nyata,” kata Jacop.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh siswa dapat mendorong lahirnya inovasi, terutama dalam pengolahan dan pemasaran produk berbasis pala.
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST., MT., mengatakan Bimtek tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah menyiapkan generasi penerus yang memahami pala sejak dini.
“Kami ingin memastikan generasi usia sekolah mengenal pala bukan hanya sebagai tanaman di kebun, tetapi sebagai komoditas unggulan, identitas daerah, sekaligus investasi masa depan,” ujar Widhi.
Bagi Widhi, Pala Tomandin memiliki nilai yang melampaui transaksi perdagangan. Pala telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Fakfak menyangkut ekonomi, budaya, sejarah dan identitas daerah.
Karena itu, menurut dia, generasi muda harus didorong menjadi pelaku, bukan sekadar penikmat hasil pala.
“Anak-anak kita tidak semuanya nanti menjadi ASN. Ada yang menjadi pengusaha, teknisi, petani modern, pelaku UMKM, peneliti dan profesi lainnya. Semua ilmu itu bisa dikolaborasikan dengan potensi pala,” katanya.
Ia memberi contoh. Siswa yang memiliki kemampuan teknik dapat menciptakan teknologi pengeringan dan pengolahan pala. Sementara mereka yang menguasai teknologi digital dapat mengambil peran dalam pemasaran dan membangun merek produk pala Fakfak.

Bagi Widhi, tantangan pala Fakfak kini bukan semata soal produksi, tetapi mutu dan nilai tambah.
Ia mengingatkan perlunya perubahan dalam penanganan pascapanen. Kebiasaan menjemur pala di pinggir jalan, misalnya, perlu ditinggalkan karena berpotensi menurunkan kualitas akibat debu dan polusi.
“Kalau kita ingin pala memiliki nilai dan mampu bersaing, mutu dan kualitas harus menjadi perhatian. Kita harus mengubah kebiasaan lama dengan pengelolaan pascapanen yang lebih bersih dan efisien,” ujarnya.
Materi Bimtek mencakup pengenalan Pala Tomandin, teknik budidaya, pengendalian hama dan penyakit, penanganan pascapanen, hingga pengembangan produk turunan dan hilirisasi. Siswa juga diperkenalkan pada pemanfaatan biji, fuli dan daging buah pala untuk produk pangan maupun nonpangan.
Widhi mengajak siswa tidak berjarak dengan kebun pala. Mereka didorong ikut menanam, merawat, memanen, mengolah hingga memasarkan hasilnya.
“Jangan hanya mengambil buahnya. Kalau orang tua mengajak ke kebun untuk menanam pala, ikutlah. Belajar menanam, merawat, memanen, mengolah sampai memasarkan. Karena suatu saat generasi inilah yang akan menjadi penerus dan penjaga aset pala Fakfak,” pesannya.
Rangkaian Bimtek tersebut menjadi bagian dari program Pala Unggul dalam visi Fakfak Membara – Membangun Bersama Rakyat, yang tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi, tetapi juga penguatan petani, perbaikan mutu, hilirisasi, pengembangan produk turunan dan penciptaan peluang ekonomi.
Dengan berakhirnya Bimtek di SMK Negeri 1 Fakfak, Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak menutup rangkaian edukasi Pala Tomandin di empat sekolah.
Yang ditanam kali ini bukan sekadar bibit pala. Pemerintah berharap yang tumbuh adalah cara pandang baru: bahwa pala bukan hanya komoditas hari ini, tetapi aset ekonomi yang harus diwariskan dengan nilai yang lebih tinggi kepada generasi berikutnya.
Writter & Editor : Den

























Komentar via Facebook