RSUD Fakfak Jadi Pusat Operasi Katarak dan Pterigium Gratis, Pemkab Fakfak Gandeng Tim PERDAMI Jawa Barat Tekan Rujukan Pasien ke Luar Daerah

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 02 Juli 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

RSUD Fakfak Jadi Pusat Operasi Katarak dan Pterigium Gratis, Pemkab Fakfak Gandeng Tim PERDAMI Jawa Barat Tekan Rujukan Pasien ke Luar Daerah

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Sejak pagi, lorong-lorong Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Fakfak tak pernah benar-benar lengang. Di ruang tunggu, puluhan lansia duduk berdampingan dengan anggota keluarga mereka. Sebagian menutup sebelah mata yang mulai buram, sebagian lainnya menggenggam erat nomor antrean. Mereka datang dengan harapan yang sederhana, tetapi sangat berarti: dapat melihat kembali.

Pemandangan itu menjadi potret keberhasilan awal Program Fakfak Sehat, salah satu agenda prioritas Pemerintah Kabupaten Fakfak di bawah kepemimpinan Bupati Samaun Dahlan, S.Sos., M.AP dan Wakil Bupati Drs. Donatus Nimbitkendik, M.TP.

Melalui RSUD Fakfak, pemerintah daerah menghadirkan pelayanan operasi katarak, operasi pterigium, serta pemeriksaan berbagai penyakit mata secara gratis bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Jawa Barat, Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung, serta sejumlah yayasan sosial.

Selama empat hari pelaksanaan, sejak 30 Juni hingga 2 Juli 2026, RSUD Fakfak menjelma menjadi pusat pelayanan kesehatan mata terbesar yang pernah digelar di daerah itu. Masyarakat datang silih berganti dari berbagai penjuru Fakfak. Jumlahnya terus bertambah dari hari ke hari, mencerminkan satu kenyataan yang selama ini nyaris luput dari perhatian: gangguan penglihatan telah menjadi persoalan kesehatan yang nyata di tengah masyarakat.

Bagi Direktur RSUD Fakfak, Farid Mahubessy, S.Kep., M.A.R.S, tingginya antusiasme masyarakat bukanlah sebuah kejutan. Justru sebaliknya, kondisi tersebut memperlihatkan besarnya kebutuhan layanan kesehatan mata yang selama ini belum dapat dipenuhi secara optimal.

"Selama ini rujukan pasien mata ke luar daerah sangat tinggi, baik untuk operasi maupun pemeriksaan lanjutan. Selain menyulitkan masyarakat, kondisi itu juga membebani anggaran pemerintah daerah. Karena itu Bupati dan Wakil Bupati mengambil langkah menghadirkan pelayanan langsung di Fakfak dengan mendatangkan dokter-dokter spesialis mata yang memiliki pengalaman dan jam terbang tinggi," ujarnya.

Keputusan itu terbukti tepat.

Respons dari PERDAMI Jawa Barat dan Rumah Sakit Mata Cicendo datang tanpa ragu. Sebanyak 21 tenaga medis, terdiri atas delapan dokter spesialis mata senior, seorang dokter residen, serta belasan perawat dan tenaga pendukung lainnya, diterjunkan ke Fakfak untuk melayani masyarakat.

Perjalanan menuju Fakfak bahkan sempat diwarnai gangguan cuaca yang memaksa sebagian tim menunda keberangkatan. Namun, begitu seluruh personel tiba, pelayanan langsung dimulai. Sejak hari pertama, tim bergerak melakukan skrining terhadap ratusan pasien sebelum tindakan operasi dilaksanakan.

Hasilnya melampaui ekspektasi.

Sekitar 500 warga mendaftarkan diri mengikuti pemeriksaan mata. Pada hari pertama tindakan operasi saja, sekitar 130 pasien berhasil menjalani operasi. Hari berikutnya, jumlah pendaftar kembali menembus lebih dari seratus orang, sementara tindakan operasi terus berlangsung hingga sore hari.

Dalam dua hari pertama, jumlah pasien yang memperoleh tindakan diperkirakan mendekati 250 orang.

Bagi Farid, angka tersebut bukan sekadar statistik pelayanan. Di balik setiap pasien terdapat cerita panjang tentang keterbatasan akses kesehatan yang selama ini mereka hadapi.

"Tim kami sebelumnya juga melakukan kegiatan serupa di Sorong. Padahal jumlah penduduk di sana jauh lebih besar, tetapi pasien operasi sekitar 40 orang. Di Fakfak, hari pertama saja sudah mencapai 80 pasien. Itu menunjukkan bahwa kebutuhan pelayanan mata di daerah ini memang sangat tinggi."

Data itu sekaligus menjadi alarm bagi pemerintah daerah.

Selama bertahun-tahun, sebagian besar pasien mata di Fakfak harus dirujuk ke luar Papua Barat karena keterbatasan dokter spesialis maupun fasilitas operasi. Konsekuensinya tidak kecil. Selain memperpanjang waktu penanganan, biaya rujukan juga menyerap anggaran daerah dalam jumlah besar.

Karena itu, menurut Farid, bakti sosial ini bukan sekadar kegiatan kemanusiaan, melainkan momentum untuk membangun kemandirian pelayanan kesehatan mata di Kabupaten Fakfak.

Harapan tersebut sebenarnya sudah mulai diwujudkan. RSUD Fakfak telah membuka rekrutmen dokter spesialis mata. Namun hingga kini pelayanan belum dapat berjalan maksimal karena rumah sakit masih kekurangan peralatan operasi modern, terutama mesin Phacoemulsification (Phaco) yang menjadi standar dalam operasi katarak.

"Kami sudah memiliki dokter spesialis mata yang siap bergabung. Yang belum tersedia adalah peralatan operasinya. Saya sudah berdiskusi dengan pemerintah daerah agar pengadaan alat ini dapat diprioritaskan. Kalau fasilitas itu tersedia, masyarakat tidak perlu lagi menunggu bakti sosial atau dirujuk ke luar daerah untuk kasus-kasus yang sebenarnya bisa ditangani di Fakfak."

Farid juga menilai kegiatan ini memberikan evaluasi penting bagi seluruh jajaran pelayanan kesehatan. Menurutnya, keterlibatan puskesmas harus diperkuat agar masyarakat di seluruh 17 distrik memperoleh informasi yang sama mengenai pelayanan operasi gratis.

Ia berharap pada pelaksanaan berikutnya, penjaringan pasien tidak lagi terpusat di rumah sakit, melainkan dimulai dari kampung-kampung melalui puskesmas sehingga warga di daerah terpencil pun memperoleh kesempatan yang setara.

Namun, di balik seluruh angka, laporan, dan capaian pelayanan itu, ada satu hal yang menurut Farid jauh lebih bernilai.

Bukan banyaknya pasien yang dioperasi.

Bukan pula besarnya dukungan yang datang dari berbagai pihak.

Melainkan senyum para pasien ketika perban mulai dibuka dan cahaya kembali memenuhi penglihatan mereka.

"Itulah kebahagiaan terbesar bagi kami. Ketika pasien keluar dari ruang operasi dengan wajah penuh senyum karena bisa melihat kembali, di situlah kami merasa seluruh kerja keras ini terbayar. Bagi tenaga kesehatan, tidak ada penghargaan yang lebih besar daripada melihat masyarakat kembali mendapatkan kualitas hidupnya."

Pelayanan operasi katarak dan pterigium gratis di RSUD Fakfak akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda bakti sosial. Ia menjadi penanda bahwa pelayanan kesehatan berkualitas tidak harus selalu dicari jauh dari daerah sendiri. Dengan komitmen pemerintah daerah, dukungan tenaga medis nasional, dan tekad membangun fasilitas yang lebih lengkap, Fakfak sedang menapaki jalan menuju kemandirian layanan kesehatan mata, sebuah langkah yang mungkin sederhana, tetapi mampu mengembalikan hal paling berharga bagi seseorang: kesempatan untuk melihat dunia dengan terang kembali.

 

Writter & Editor : Den