Tokoh Arwanop Bantah Klaim Bupati Soal Malaria: Fakta di Pengunungan Berbeda Dengan Narasi Pemerintah.
Tokoh Arwanop Bantah Klaim Bupati Soal Malaria: Fakta di Pengunungan Berbeda Dengan Narasi Pemerintah.
MIMIKA, Kabarsulselindonesia.web.id Pernyataan Bupati Mimika, Johannes Rettob, terkait kondisi kesehatan dan akses menuju wilayah pegunungan mendapat bantahan keras dari masyarakat adat Arwanop. Warga menilai pernyataan tersebut tidak mencerminkan realitas yang mereka hadapi sehari-hari dan berpotensi menyesatkan publik.10 Juni 2026
Melalui tokoh masyarakat Arwanop, Lambertus Beanal, warga menegaskan bahwa klaim wilayah pegunungan bebas malaria merupakan kekeliruan serius yang bertentangan dengan fakta di lapangan.
Menurut Lambertus, kawasan Omponi di Arwanop justru menjadi salah satu wilayah yang sejak lama dikenal sebagai daerah endemis malaria dan menjadi titik penyebaran penyakit tersebut ke sejumlah kampung di kawasan pegunungan Mimika.
"Mengatakan pegunungan bebas malaria adalah pernyataan yang sangat keliru. Kami yang hidup di sini tahu persis bagaimana sejarah dan kenyataan penyakit ini berkembang di wilayah kami," tegas Lambertus Beanal.»
Tak hanya soal malaria, masyarakat juga membantah alasan keamanan yang selama ini disebut sebagai hambatan pelayanan di wilayah pegunungan. Warga menegaskan bahwa Arwanop merupakan daerah yang aman dan masyarakat selalu terbuka terhadap kehadiran tenaga kesehatan maupun tenaga pendidikan.
Yang lebih disesalkan, menurut warga, adalah munculnya kesan bahwa tanggung jawab transportasi dan logistik tenaga medis dibebankan kepada PT Freeport Indonesia.
"Bupati jangan menjadikan Freeport sebagai tameng. Tenaga kesehatan dan guru di pedalaman adalah tanggung jawab pemerintah daerah. Itu kewajiban negara, bukan belas kasihan perusahaan," tegas Lambertus.
Di tengah minimnya perhatian pemerintah, masyarakat justru memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para tenaga kesehatan yang tetap setia melayani warga di pedalaman. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan yang rela mempertaruhkan keselamatan demi menjalankan tugas kemanusiaan.
Lambertus mengisahkan, pernah terjadi seorang tenaga medis terserang malaria dan harus dievakuasi secara darurat. Karena bantuan dari kota tidak kunjung datang, rekan-rekannya terpaksa berjalan kaki selama kurang lebih 12 jam melintasi sungai, lembah dan pegunungan untuk membawa korban menuju Banti agar mendapatkan penanganan.
"Ini bukan cerita heroik yang dibuat-buat. Ini kenyataan pahit yang dialami para tenaga kesehatan kami. Mereka berjuang sendirian ketika perhatian pemerintah terasa sangat minim," ungkapnya.
Masyarakat Adat Arwanop mendesak Pemerintah Kabupaten Mimika agar berhenti membangun narasi yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya dan mulai fokus pada pembenahan pelayanan dasar di wilayah pedalaman.
Warga meminta pemerintah segera mengakui fakta penyebaran malaria di wilayah pegunungan, mengambil tanggung jawab penuh terhadap keselamatan tenaga medis dan guru, serta memberikan dukungan logistik dan kesejahteraan yang layak bagi para petugas yang bertugas di daerah terpencil.
"Bagi kami, para tenaga kesehatan dan guru di pedalaman adalah pahlawan kemanusiaan. Mereka tidak membutuhkan pujian semata, tetapi keberpihakan dan perhatian nyata dari pemerintah," tutup Lambertus Beanal.
Editor : Bruce Elang

























Komentar via Facebook