Dari Haflah ke Puncak Peringatan, Sanggar Tanace Menjaga Denyut Budaya Fakfak

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 08 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Dari Haflah ke Puncak Peringatan, Sanggar Tanace Menjaga Denyut Budaya Fakfak

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Sejarah tidak selalu disimpan dalam buku. Di Fakfak, ia juga hidup dalam gerak tari, bunyi musik tradisional, dan tubuh anak-anak muda yang terus mengulang warisan leluhur di atas panggung.

Gambaran itu tampak dalam rangkaian Peringatan 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua di Kabupaten Fakfak. Di tengah perhelatan keagamaan dan sejarah tersebut, Sanggar Tanama Cengkeh Tiga atau Tanace tampil membawa kesenian tradisional Fakfak: Tarian Titir, Tumor, dan Sawat.

Dipimpin Wahid Weripih, sanggar itu tampil pada malam Haflah, Jumat, 7 Agustus 2026. Sehari kemudian, pada puncak peringatan, Sabtu, 8 Agustus 2026, mereka kembali dipercaya tampil di Ruang Terbuka Hijau (RTH) KH. Ma’ruf Amin, Fakfak.

Kehadiran Tanace menjadi lebih dari sekadar selingan pertunjukan. Di tengah peringatan sejarah masuknya Islam ke Tanah Papua, seni tradisional hadir sebagai pengingat bahwa perjalanan sebuah masyarakat juga dibentuk oleh kebudayaan yang diwariskan lintas generasi.

Titir, Tumor, dan Sawat menjadi bagian dari ekspresi budaya masyarakat Fakfak. Ketiganya tidak berhenti sebagai tontonan. Di tangan para pelaku seni, kesenian itu menjadi cara untuk memperkenalkan identitas daerah kepada generasi hari ini sekaligus menjaga agar warisan leluhur tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.

Bagi Tanace, panggung peringatan 666 tahun bukan sekadar tempat menunjukkan kemampuan menari. Panggung itu menjadi ruang untuk memperlihatkan bahwa sejarah, agama, dan kebudayaan dapat berjalan beriringan tanpa saling meniadakan.

Budaya yang Tak Boleh Kehilangan Pewaris

Wahid Weripih menyebut keterlibatan Sanggar Tanace dalam rangkaian peringatan tersebut sebagai kesempatan untuk memperkenalkan sekaligus menjaga keberlangsungan seni budaya Fakfak.

“Kami ingin terus melestarikan seni budaya Fakfak. Karena budaya adalah identitas kita, maka sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga dan mewariskannya kepada generasi muda,” ujar Wahid Weripih kepada awak media di Fakfak, Papua Barat.

Menurut Wahid, keberadaan sanggar seni mempunyai posisi penting karena menjadi salah satu ruang bagi generasi muda untuk belajar mengenal kesenian tradisional daerah.

Di tengah perubahan zaman, kata dia, tantangan pelestarian budaya bukan semata soal mempertahankan bentuk kesenian, melainkan memastikan selalu ada generasi yang bersedia mempelajarinya.

Karena itu, ia berharap kegiatan berskala besar seperti Peringatan 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua dapat terus memberikan ruang kepada para pelaku seni dan budaya lokal.

“Kami berharap generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga mau belajar dan ikut melestarikan kesenian daerah. Jangan sampai budaya yang menjadi warisan leluhur kita hilang karena tidak ada lagi yang meneruskannya,” katanya.

Pesan itu sederhana, tetapi menyentuh persoalan yang lebih besar: sebuah kebudayaan dapat bertahan bukan karena usianya panjang, melainkan karena selalu menemukan orang-orang yang bersedia meneruskannya.

Sejarah yang Ditampilkan Lewat Seni

Dari panggung Haflah hingga panggung utama peringatan, Sanggar Tanace memperlihatkan wajah lain dari perayaan 666 tahun masuknya Islam di Tanah Papua.

Jika sejarah dikenang melalui narasi dan peninggalan, kebudayaan menjadikannya sesuatu yang dapat dirasakan. Musik, gerak, dan tarian membawa masyarakat pada ingatan kolektif yang tidak selalu dapat dijelaskan hanya dengan kata-kata.

Di situlah peran Tanace menjadi penting. Mereka tidak hanya hadir sebagai pengisi acara, tetapi ikut menjaga agar identitas budaya Fakfak tetap memiliki ruang di tengah perubahan zaman.

Penampilan mereka juga memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak harus berdiri berseberangan dengan perkembangan modern. Justru melalui panggung-panggung publik, seni tradisional memperoleh kesempatan untuk kembali dikenal, dipelajari, dan diwariskan.

Bagi Wahid Weripih dan para anggota Sanggar Tanace, merawat budaya berarti memastikan bahwa generasi berikutnya masih memiliki sesuatu yang dapat mereka sebut sebagai milik mereka sendiri.

Sebab, sejarah yang hanya dikenang akan menjadi masa lalu. Tetapi sejarah yang terus ditarikan, dinyanyikan, dan diwariskan akan tetap hidup.

Dari Haflah hingga puncak peringatan 666 tahun, Sanggar Tanace mengingatkan Fakfak bahwa menjaga sejarah tidak selalu berarti menengok ke belakang. Kadang, ia cukup dilakukan dengan terus melangkah membawa warisan leluhur ke panggung generasi berikutnya. (***)