Pasar Barter Qpeh Kangangandin: Saat Tradisi Leluhur Menemukan Masa Depan Pala Tomandin
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Di Kampung Mambunibuni, Distrik Kokas, pertukaran hasil alam bukan sekadar transaksi. Pinang ditukar dengan keladi atau talas, ikan kabusai [ikan asap kering hasil perikanan Masyarakat] berpindah tangan dengan kesepakatan yang lahir dari kepercayaan. Di tengah Festival Budaya Teluk Berau, tradisi Qpeh Kangangandin kembali memperlihatkan bahwa masyarakat Fakfak masih menyimpan cara sendiri dalam merawat hubungan antara manusia, alam, dan penghidupan.
Pemerintah Kabupaten Fakfak melalui Dinas Perkebunan hadir dalam aktivitas pasar barter tersebut. Kehadiran itu bukan hanya untuk menyaksikan tradisi, melainkan membaca kembali kekuatan ekonomi yang tumbuh dari kebiasaan masyarakat mengolah dan mempertukarkan hasil alam. Berbagai pangan lokal yang ditata dalam ukufan atau tumpuk menjadi semacam etalase hidup kekayaan kampung.
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, S.T., M.T., bahkan ikut terlibat langsung dalam praktik Qpeh Kangangandin. Baginya, tradisi tersebut menyimpan nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar pertukaran barang.
“Qpeh Kangangandin bukan hanya tentang pertukaran hasil laut, hasil perkebunan dengan pangan lokal. Di dalamnya ada kebersamaan, saling menghargai, kepercayaan dan penghormatan terhadap hasil alam. Nilai-nilai inilah yang harus terus kita rawat sebagai bagian dari identitas masyarakat Fakfak,” ujar Widhi.
Dari pasar barter itu, terlihat bahwa ekonomi masyarakat sesungguhnya telah lama bertumpu pada potensi lokal. Hasil kebun, laut dan pangan menjadi bagian dari satu mata rantai kehidupan. Pola tersebut menunjukkan bahwa kemandirian ekonomi tidak selalu bermula dari pasar modern; ia dapat tumbuh dari pengetahuan leluhur yang diwariskan lintas generasi.
Di titik inilah Widhi melihat hubungan antara Qpeh Kangangandin dan Pala Tomandin. Pala, menurut dia, tidak semestinya dipandang semata sebagai komoditas perkebunan yang dihitung dari produksi dan nilai jual. Pala merupakan bagian dari identitas masyarakat Fakfak sekaligus sumber penghidupan yang memiliki akar sosial dan budaya yang kuat.
“Pala Tomandin tidak hanya kita lihat sebagai komoditas perkebunan, tetapi juga sebagai bagian dari kekayaan dan identitas Fakfak. Semangat menghargai hasil alam dan menguatkan hubungan masyarakat yang kita lihat dalam pasar barter ini harus menjadi semangat dalam pengembangan Pala Tomandin,” katanya.
Pandangan itu menempatkan pengembangan Pala Tomandin dalam perspektif yang lebih luas. Produktivitas dan nilai ekonomi penting, tetapi keberlanjutan juga bergantung pada kemampuan menjaga pengetahuan lokal, menghormati masyarakat, dan memastikan manfaat komoditas unggulan tersebut kembali kepada mereka yang merawatnya.
Karena itu, Festival Budaya Teluk Berau di Mambunibuni diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Festival dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan pangan lokal, menghidupkan kembali tradisi, sekaligus membuka percakapan baru tentang bagaimana kekayaan alam kampung dapat menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.
Widhi berharap generasi muda tidak sekadar mengenal Qpeh Kangangandin sebagai cerita masa lalu. Mereka perlu melihat bahwa tradisi tersebut memiliki nilai yang relevan dengan masa depan: menghargai hasil alam, membangun kepercayaan, memperkuat kebersamaan dan mengembangkan potensi ekonomi dari apa yang dimiliki sendiri.
“Kita jaga tradisinya, kita hargai hasil alamnya, kita kembangkan potensi lokalnya, dan kita kuatkan Pala Tomandin yang selalu dianggap meri totora sebagai ibu yang memberikan penghidupan,” tutur Widhi.
Dari Mambunibuni, pesan itu terasa sederhana tetapi kuat: budaya dan ekonomi tidak harus berjalan di jalan yang berbeda. Qpeh Kangangandin memperlihatkan bagaimana warisan leluhur dapat menjadi modal sosial, sementara Pala Tomandin dapat tumbuh sebagai kekuatan ekonomi tanpa kehilangan akar budayanya. Di sana, masa lalu bukan untuk dikenang semata, melainkan untuk memberi arah bagi masa depan Fakfak.
Writter & Editor : Den

























Komentar via Facebook