Kapal Rumah Sakit Nusa Waluya II Berlabuh di Kei Besar, Menjemput Harapan Warga di Tengah Keterbatasan Akses Kesehatan

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 08 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Kapal Rumah Sakit Nusa Waluya II Berlabuh di Kei Besar, Menjemput Harapan Warga di Tengah Keterbatasan Akses Kesehatan

Malra, KabarsulselIndonesia.web.id | Di wilayah kepulauan, jarak bukan sekadar angka di peta. Ia bisa berarti ongkos perjalanan, waktu yang terbuang, bahkan pertaruhan keselamatan ketika seseorang membutuhkan pertolongan medis.

Kondisi itulah yang masih dihadapi masyarakat Pulau Kei Besar, Kabupaten Maluku Tenggara. Akses menuju pusat pelayanan kesehatan dengan fasilitas dan tenaga medis tertentu tidak selalu mudah. Laut yang memisahkan pulau-pulau menjadi bagian dari keseharian, tetapi sekaligus menjadi tantangan ketika warga membutuhkan pelayanan kesehatan lanjutan.

Di tengah kondisi tersebut, Rumah Sakit Kapal Nusa Waluya II milik Yayasan Dokter Peduli atau doctorSHARE hadir di Elat, Kei Besar. Kapal itu membawa pelayanan medis gratis dan sejumlah dokter spesialis untuk mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses.

Pelayanan tersebut resmi dibuka pada Selasa, 8 September 2026. Sambutan Bupati Maluku Tenggara M. Thaher Hanubun dibacakan Wakil Bupati Maluku Tenggara Carlos V Rahantoknam dalam acara pembukaan di Elat.

Bagi pemerintah daerah, kedatangan kapal rumah sakit tersebut bukan sekadar kegiatan sosial. Kehadirannya menjadi bentuk nyata kepedulian berbagai pihak terhadap masyarakat di wilayah kepulauan dan daerah yang relatif sulit menjangkau pelayanan kesehatan spesialistik.

“Atas nama Pemerintah Daerah dan seluruh masyarakat Maluku Tenggara, kami menyampaikan selamat datang kepada Tim Medis Rumah Sakit Kapal Nusa Waluya II di Pulau Kei Besar,” demikian pesan Bupati yang disampaikan Wakil Bupati Carlos.

Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Dokter Peduli, para donatur, tenaga medis, serta seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan pelayanan kesehatan tersebut.

Jarak yang Menjadi Persoalan

Maluku Tenggara memiliki karakter geografis kepulauan. Dari 75 pulau yang berada di wilayah kabupaten tersebut, hanya 12 pulau yang dihuni secara tetap. Dua pulau terbesar adalah Kei Kecil dan Kei Besar.

Secara administratif, wilayah ini memiliki 190 desa atau ohoi dan satu kelurahan. Pelayanan kesehatan ditopang dua rumah sakit dan 21 puskesmas yang tersebar di 11 kecamatan—11 puskesmas berada di Kei Besar dan 10 lainnya di Kei Kecil.

Namun, keberadaan fasilitas kesehatan itu belum otomatis menghapus persoalan jarak.

Pada kondisi tertentu, pelayanan kesehatan tidak mudah dilakukan karena kendala transportasi darat maupun laut. Persoalan menjadi lebih kompleks ketika pasien membutuhkan pelayanan dokter spesialis atau penanganan kasus dengan tingkat kompleksitas tertentu.

Masyarakat Kei Besar yang membutuhkan layanan rujukan harus menuju Langgur. Perjalanan tersebut membutuhkan waktu sekaligus biaya yang tidak sedikit.

Dalam kasus kegawatdaruratan, keterlambatan bukan lagi sekadar persoalan kenyamanan. Ia dapat menentukan keselamatan pasien.

Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara menyadari persoalan itu. Berbagai kebijakan diarahkan untuk memperkuat sarana dan prasarana, alat kesehatan serta sumber daya manusia bidang kesehatan, dengan tujuan memperkecil kesenjangan pelayanan antara Kei Besar dan Kei Kecil.

Namun pemerintah daerah juga mengakui bahwa pembangunan kesehatan di Kei Besar tidak mungkin hanya bertumpu pada anggaran pemerintah.

Dukungan berbagai pihak menjadi penting.

Dan kapal rumah sakit Nusa Waluya II datang di tengah kebutuhan tersebut.

Tujuh Dokter Spesialis

Kehadiran Nusa Waluya II membawa layanan yang selama ini menjadi salah satu kebutuhan masyarakat Kei Besar: pelayanan spesialistik.

Berdasarkan laporan yang diterima pemerintah daerah, sebanyak tujuh dokter spesialis akan memberikan pelayanan mulai 8 September hingga 1 November 2026.

Tim tersebut antara lain melibatkan Direktur Rumah Sakit Kapal Nusa Waluya II, dr. Tasia Risma Simaremare, serta dokter spesialis seperti dr. Laurensia Ayuningtias, Sp.An-TI dan dr. Nurul Suparto, Sp.OG, bersama tim dokter dan tenaga kesehatan penunjang lainnya.

Pemerintah daerah meminta para camat, kepala ohoi, kepala puskesmas, tenaga kesehatan, kader posyandu dan seluruh unsur masyarakat menyebarluaskan informasi mengenai pelayanan tersebut.

Mobilisasi warga dari desa dan ohoi menuju lokasi pelayanan juga diminta dilakukan sesegera mungkin.

Pesannya sederhana: kesempatan itu jangan dilewatkan.

“Jangan menunggu sampai gangguan menjadi berat, temukan lebih awal, periksa lebih awal, dan tangani lebih awal,” demikian pesan Bupati Maluku Tenggara.

Bukan Sekadar Layanan Gratis

Bagi masyarakat kepulauan, pelayanan medis gratis memiliki arti lebih dari sekadar pengobatan tanpa biaya.

Ia memangkas sebagian hambatan yang selama ini membuat masyarakat harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan pelayanan kesehatan tertentu.

Karena itu, pemerintah daerah berharap kehadiran Nusa Waluya II tidak berhenti sebagai kegiatan sosial satu kali.

Bupati berharap pelayanan Rumah Sakit Kapal Nusa Waluya II dapat kembali dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang secara rutin.

Pemerintah daerah juga meminta seluruh pemangku kepentingan memberikan dukungan terhadap kebutuhan logistik dan berbagai keperluan selama pelayanan berlangsung.

Di sisi lain, masyarakat diminta memanfaatkan momentum tersebut tidak hanya untuk berobat, tetapi juga memperoleh edukasi kesehatan.

Sebab dalam banyak kasus, persoalan kesehatan bukan semata-mata terletak pada sulitnya pengobatan. Masalahnya kerap bermula dari keterlambatan mengetahui, memeriksakan dan menangani penyakit.

Kapal Nusa Waluya II akhirnya tidak sekadar menjadi bangunan rumah sakit yang mengapung di laut. Ia menjadi simbol bahwa pelayanan publik, terutama kesehatan, harus mencari jalan untuk mendatangi warga ketika warga kesulitan mendatanginya.

Di Kei Besar, laut selama ini menjadi penghubung sekaligus pembatas. Kali ini, laut justru menjadi jalan bagi dokter dan pelayanan kesehatan untuk datang lebih dekat kepada masyarakat.

Pelayanan medis gratis di Rumah Sakit Kapal Nusa Waluya II pun resmi dibuka.

Harapan warga Kei Besar ikut berlabuh bersama kapal itu.
 

Writter & Editor : Bruce Elang