PROYEK UNTUK SIAPA?” — DUGAAN PERMAINAN UANG DAN ORANG DALAM DI LINGKAR PROYEK PELABUHAN DAN JEMBATAN MIMIKA MULAI TERBONGKAR

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 12 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

PROYEK UNTUK SIAPA?” — DUGAAN PERMAINAN UANG DAN ORANG DALAM DI LINGKAR PROYEK PELABUHAN DAN JEMBATAN MIMIKA MULAI TERBONGKAR

“PROYEK UNTUK SIAPA?” — DUGAAN PERMAINAN UANG DAN ORANG DALAM DI LINGKAR PROYEK PELABUHAN DAN JEMBATAN MIMIKA MULAI TERBONGKAR

MIMIKA, Kabarsulselindonesia.web.id — Bau busuk dugaan permainan proyek di Mimika kini mulai sulit ditutup rapat. Dari pelabuhan, jembatan, hingga proyek infrastruktur bernilai miliaran rupiah, masyarakat mulai terang-terangan bicara: proyek daerah diduga telah berubah menjadi ladang bancakan kelompok tertentu. (12/05/2026)

Nama Pelabuhan Jita, jembatan Waa–Banti, hingga sejumlah pekerjaan strategis lain kini ramai diperbincangkan warga. Bukan karena keberhasilannya, melainkan karena kuatnya dugaan praktik “orang dalam”, pembagian uang, dan permainan kepentingan yang disebut-sebut menguasai jalur proyek di Mimika.

Di tengah masyarakat, muncul kesan bahwa proyek bukan lagi diberikan berdasarkan kemampuan dan kualitas kerja, melainkan kedekatan, loyalitas kelompok, dan siapa yang paling dekat dengan lingkar kekuasaan.

“Kalau bukan orang mereka, jangan mimpi dapat pekerjaan,” ungkap seorang warga dengan nada kesal.

Pernyataan itu bukan muncul tanpa sebab. Warga mulai mempertanyakan mengapa proyek-proyek besar terus berputar di nama dan kelompok yang sama, sementara hasil pembangunan di lapangan banyak menuai kritik dan belum menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata.

Lebih memprihatinkan lagi, dugaan praktik permainan proyek ini disebut bukan sekadar soal tender dan pekerjaan. Masyarakat juga mulai membicarakan adanya pihak-pihak tertentu yang diduga bertugas mengamankan kepentingan proyek, menjaga aliran uang, hingga memastikan lingkaran kekuasaan tetap tidak tersentuh.

Situasi ini membuat publik semakin curiga bahwa praktik “main proyek” di Mimika bukan lagi rahasia umum, melainkan sudah menjadi pola yang mengakar dan dimainkan secara berjamaah.

Kemarahan warga semakin memuncak ketika kasus lama dugaan rekayasa proyek pelabuhan senilai Rp12 miliar kembali diungkit. Seorang mantan pejabat Bina Marga memang pernah diproses hukum dan divonis dua tahun penjara. Namun hingga kini masyarakat masih bertanya-tanya: mengapa setelah divonis bersalah, yang bersangkutan disebut tidak ditahan?

“Kalau rakyat kecil mencuri langsung diborgol. Tapi kalau proyek miliaran, bisa santai pulang kampung. Ini yang bikin masyarakat muak,” ujar salah satu sumber.

Bagi masyarakat Mimika, persoalan ini bukan lagi sekadar dugaan penyimpangan proyek. Ini sudah menyentuh soal kepercayaan publik terhadap hukum dan pemerintah. Warga melihat anggaran terus habis, proyek terus diumumkan, tetapi hasilnya dinilai tidak sebanding dengan uang rakyat yang dikuras.

Pelabuhan dipertanyakan manfaatnya. Infrastruktur banyak yang belum maksimal. Jembatan menjadi bahan polemik. Sementara elite proyek disebut terus hidup nyaman di tengah tumpukan anggaran daerah.

Di tengah kondisi itu, masyarakat mulai mempertanyakan: siapa sebenarnya yang menikmati pembangunan di Mimika? Rakyat, atau lingkaran kecil yang bermain di balik meja proyek?

Desakan audit total pun mulai menggema. Warga meminta aparat penegak hukum membongkar seluruh aliran dana proyek strategis di Mimika, termasuk memeriksa pihak-pihak yang selama ini diduga kebal hukum dan selalu muncul dalam lingkar pekerjaan miliaran rupiah.

Tidak hanya itu, masyarakat juga meminta Kapolri turun tangan mengevaluasi kinerja Polres Mimika, termasuk jajaran intelijen dan reserse, yang dinilai lamban dan tidak serius membongkar berbagai dugaan korupsi serta permainan proyek di daerah tersebut.

“Kalau hukum terus diam, jangan salahkan rakyat kalau mulai kehilangan kepercayaan,” tegas seorang tokoh masyarakat.

Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari pihak-pihak yang namanya ramai diperbincangkan dalam dugaan permainan proyek tersebut. Namun di tengah masyarakat, satu pertanyaan terus bergema:

Apakah Mimika sedang dibangun untuk rakyat… atau hanya untuk kelompok tertentu yang hidup dari proyek ke proyek?

(*****)