Percepatan Pembangunan di Tengah Waktu Pemerintahan yang Terus Berjalan
Malra,Kabarsulsel-Indonesia.web.id.
Oleh: Anak Muda Kei / Zainuddin Uar. Di tengah tekanan efisiensi anggaran yang berkepanjangan, pemerintah daerah saat ini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Di satu sisi, kebutuhan pembangunan terus meningkat dari waktu ke waktu. Namun di sisi lain, kemampuan fiskal daerah semakin terbatas akibat menyempitnya ruang belanja pembangunan.
Situasi ini juga dirasakan Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara di bawah kepemimpinan M. Thaher Hanubun dan Viali Rahantoknam. Di tengah harapan besar masyarakat terhadap percepatan pembangunan, pemerintah dituntut mampu mengambil langkah strategis agar waktu pemerintahan lima tahunan tidak habis hanya dalam rutinitas administrasi dan keterbatasan anggaran.
Sebagai anak muda Kei, saya melihat tantangan terbesar hari ini bukan semata soal kekurangan anggaran, melainkan keberanian mengambil keputusan besar demi masa depan daerah. Sebab waktu pemerintahan terus berjalan, sementara rakyat menunggu hasil nyata berupa jalan yang terhubung, jembatan yang mempercepat distribusi hasil laut dan pertanian, serta akses ekonomi yang lebih merata antara Pulau Kei Kecil dan Pulau Kei Besar.
Pembangunan infrastruktur bukan sekadar proyek fisik. Jalan dan jembatan adalah urat nadi ekonomi masyarakat kepulauan. Ketika akses terbuka, harga kebutuhan pokok dapat ditekan, hasil nelayan dan petani lebih mudah dipasarkan, biaya transportasi menurun, serta pelayanan pendidikan dan kesehatan menjadi lebih cepat dijangkau masyarakat.
Karena itu, di tengah efisiensi berkepanjangan, wacana pinjaman melalui PT Sarana Multi Infrastruktur atau SMI patut dipandang sebagai salah satu solusi strategis, bukan semata-mata beban utang daerah. Selama digunakan secara tepat sasaran, terukur, dan fokus pada pembangunan produktif, skema pembiayaan SMI justru dapat menjadi instrumen percepatan pembangunan yang selama ini tertunda akibat keterbatasan APBD.
Sejumlah daerah di Indonesia telah memanfaatkan pembiayaan SMI untuk membangun infrastruktur dasar yang berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat. Maka Maluku Tenggara pun memiliki peluang yang sama, terlebih sebagai daerah kepulauan yang sangat membutuhkan konektivitas kuat demi mempercepat pemerataan pembangunan.
Hari ini masyarakat tidak hanya membutuhkan wacana dan perencanaan panjang. Rakyat membutuhkan keberanian mengambil keputusan yang berpihak pada masa depan daerah. Sebab tanpa langkah percepatan, lima tahun pemerintahan dapat habis dalam pusaran efisiensi tanpa meninggalkan lompatan pembangunan yang berarti.
Tentu dukungan terhadap opsi pinjaman SMI harus tetap dibarengi prinsip transparansi, pengawasan ketat, dan perencanaan matang. Pemerintah daerah harus memastikan setiap rupiah yang dipinjam benar-benar digunakan untuk proyek prioritas yang memiliki dampak ekonomi jangka panjang bagi masyarakat. Infrastruktur yang dibangun harus mampu meningkatkan PAD daerah, membuka pusat-pusat ekonomi baru, dan memperkuat konektivitas antarwilayah di Maluku Tenggara.
Sebagai generasi muda Kei, kita juga memiliki tanggung jawab moral untuk tidak hanya mengkritik, tetapi turut menghadirkan gagasan dan dukungan konstruktif bagi pemerintah daerah. Politik pembangunan harus ditempatkan di atas kepentingan kelompok maupun persaingan sesaat. Ketika pemerintah berupaya mencari solusi demi percepatan pembangunan rakyat, maka seluruh elemen masyarakat sudah sepatutnya ikut mengawal dan mendukung secara objektif.
Maluku Tenggara membutuhkan keberanian mengambil langkah besar. Sebab daerah kepulauan tidak bisa dibangun dengan cara biasa-biasa saja. Jika ingin mengejar ketertinggalan, maka dibutuhkan kebijakan yang progresif, terukur, dan berpihak pada kepentingan rakyat banyak.
Pinjaman SMI mungkin bukan satu-satunya solusi. Namun dalam situasi efisiensi yang terus membatasi ruang gerak pembangunan, SMI dapat menjadi jalan keluar realistis agar harapan masyarakat terhadap pembangunan tidak berhenti hanya sebagai janji politik lima tahunan.
(Redaksi Kabarsulsel)

























Komentar via Facebook