Rahawadan Somprot: Jika Bupati Lebih Gemar Mengancam daripada Mendengar, Maka Sudah Saatnya Mundur dari Kursi Kekuasaan
Rahawadan Somprot: Jika Bupati Lebih Gemar Mengancam daripada Mendengar, Maka Sudah Saatnya Mundur dari Kursi Kekuasaan
MIMIKA, Kabarsulselindonesia.web.id – Ketua Pemuda Kei Mimika, Edoardus Rahawadan, melontarkan kritik pedas terhadap pernyataan Bupati Mimika yang dinilai penuh emosi, bernada ancaman, dan jauh dari etika seorang pemimpin daerah. Menurutnya, kemarahan yang dipertontonkan di depan publik justru memperlihatkan wajah kekuasaan yang arogan dan tidak mencerminkan kualitas kepemimpinan yang sehat.
Edoardus menilai, ancaman pemberhentian terhadap tenaga kesehatan yang disampaikan secara terbuka bukanlah sikap seorang negarawan, melainkan gambaran kepemimpinan yang lebih mengedepankan tekanan daripada penyelesaian masalah.
"Rakyat Mimika memilih seorang Bupati untuk memimpin, bukan untuk mempertontonkan kemarahan di depan kamera. Pemimpin seharusnya menghadirkan solusi, bukan menebar ancaman dan rasa takut," tegas Edoardus.
Menurutnya, persoalan pelayanan kesehatan merupakan urusan teknis yang berada di bawah kewenangan Dinas Kesehatan. Karena itu, pernyataan yang bernada kasar dan intimidatif justru memperlihatkan adanya kecenderungan mencampuradukkan kekuasaan dengan emosi pribadi.11/06/2026
"Kalau setiap persoalan dijawab dengan bentakan dan ancaman, lalu apa bedanya kepemimpinan dengan gaya premanisme kekuasaan? Jabatan Bupati bukan lisensi untuk memarahi semua orang di depan publik," katanya.
Ia juga menilai reaksi keras Bupati diduga lahir dari kekecewaan akibat viralnya video yang memperlihatkan kondisi di lapangan. Namun, menurut Edoardus, seorang kepala daerah seharusnya mampu mengendalikan diri dan menjadikan kritik sebagai bahan evaluasi, bukan justru melampiaskan emosi kepada bawahan.
"Seorang pemimpin diuji saat menghadapi masalah. Kalau baru melihat video viral lalu kehilangan kendali dan mengeluarkan ancaman, itu menunjukkan bahwa yang berbicara adalah emosi, bukan kebijaksanaan," ujarnya.
Edoardus bahkan secara tegas menyatakan bahwa apabila seorang kepala daerah lebih senang menunjukkan wajah kekuasaan yang menakutkan dibandingkan menghadirkan ketenangan dan solusi, maka secara moral sudah seharusnya mempertimbangkan untuk mengakhiri jabatannya.
"Kalau yang ditampilkan kepada rakyat hanyalah kemarahan, ancaman, dan kata-kata yang tidak mencerminkan seorang pemimpin, maka lebih baik mundur. Mimika membutuhkan pemimpin yang mampu mengendalikan diri, bukan penguasa yang merasa paling berkuasa," tegasnya.
Ia menambahkan, kekuasaan tidak seharusnya digunakan untuk membungkam atau menakut-nakuti aparatur yang bekerja di lapangan, terlebih mereka yang bertugas di daerah pedalaman dan pegunungan dengan segala keterbatasan yang ada.
"Pemimpin yang kuat bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang paling besar kesabarannya. Pemimpin yang besar tidak lahir dari ancaman, melainkan dari keteladanan. Sebab ketika kekuasaan mulai dipakai untuk menakut-nakuti, maka pada saat yang sama wibawa kepemimpinan sedang runtuh dengan sendirinya," pungkas Ketua Pemuda Kei Mimika.
Menurut Edoardus, masyarakat Mimika membutuhkan kepala daerah yang mampu merangkul, mendengar, dan menyelesaikan persoalan secara bermartabat, bukan pemimpin yang menjadikan kemarahan sebagai bahasa utama dalam menjalankan pemerintahan.
Editor : Bruce Elang

























Komentar via Facebook