Diduga Bungkamnya Kepala Dinas Kesehatan Feria Ketapang Muluskan Penyimpangan Pembangunan Puskesmas Tumbang Titi
KETAPANG, kabar Sulsel Indonesia.web.id. Pembangunan Puskesmas Tumbang Titi, Kecamatan Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang dengan nilai fantastis Rp. 8.850.219.000,- yang bersumber dari APBD Kabupaten Ketapang TA 2026, diduga menjadi ajang korupsi.
Pasalnya, hasil investigasi LSM Tindak Indonesia menemukan fakta di lapangan bahwa material besi yang terpasang dalam pembangunan tersebut *tidak sesuai dengan gambar kerja (bestek).
Hal itu diungkapkan langsung oleh Supriadi dari LSM Tindak Indonesia kepada awak media.
"Hasil investigasi kami menemukan dugaan material besi yang terpasang dalam pembangunan Puskesmas Tumbang Titi tidak sesuai dengan gambar kerja," ujar Supriadi.
Menurutnya, dalam gambar kerja ukuran besi yang digunakan harusnya besi 13 mm untuk kolom serta besi 10 mm untuk sengkang. Namun setelah diukur dengan jangka sorong (sigmat) di lokasi, besi yang terpasang tidak sesuai.
"Gambar kerja ukuran besi yang digunakan besi 13 mili dan besi 10 mili. Setelah kami ukur dengan jangka sorong, besi tidak sesuai dengan gambar kerja, besi polos hanya 8 mili dan besi ulir 12 mili. Ini jelas besi banci," tegas Supriadi sambil menunjukkan video dan foto kepada awak media.
Lebih mengejutkan lagi, saat di lokasi pembangunan Puskesmas Tumbang Titi, Supriadi juga berkoordinasi dengan salah satu pihak pelaksana CV. Tarivia Mulya Raya. Pengakuan pihak pelaksana bikin geleng-geleng kepala.
"Saat kami tanya, pihak CV. Tarivia Mulya Raya mengatakan bahwa besi yang tidak sesuai gambar kerja itu telah disetujui oleh Pihak Dinas Kesehatan dan Konsultan CV. Artant Kurva Khatulistiwa," papar Supriadi.
Atas temuan itu, Supriadi LSM Tindak Indonesia mencurigai adanya niat korupsi yang dilakukan CV. Tarivia Mulya Raya dengan bekerja sama dengan Konsultan Pengawasan CV. Artant Kurva Khatulistiwa.
IWO-I Ketapang: Pengawasan Lemah, Ada Dugaan Persekongkolan
Dilain pihak, Mustakim, Ketua Organisasi Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWO-I) DPD Kabupaten Ketapang, menilai lemahnya pengawasan pembangunan Puskesmas Tumbang Titi tersebut menjadi penyebab utama terjadinya penyimpangan.
"Kenapa lemahnya pengawasan tersebut? Karena besi yang terpasang tidak sesuai gambar kerja, padahal negara sudah mengeluarkan uang untuk Konsultan Pengawasan CV. Artant Kurva Khatulistiwa dan PPK, PPTK, Astek dalam kegiatan tersebut," tegas Mustakim, Selasa (06/10/2026).
"Terus apa saja tugas yang dilakukan mereka, sehingga besi tidak sesuai gambar kerja bisa terpasang dan telah dicor semen? Ini kan aneh, kesal Mustakim.
Mustakim menduga adanya persekongkolan atau kolaborasi untuk melakukan kolusi dan korupsi dalam pembangunan Puskesmas Tumbang Titi antara pelaksana, konsultan pengawas dan pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang.
"Kalau Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang dan Konsultan Pengawasan tidak terlibat, maka saya meminta agar membongkar besi yang terpasang tidak sesuai dengan gambar kerja itu. Jangan tutup mata," tutupnya.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang, Feria, saat dikonfirmasi awak media melalui pesan WhatsApp tidak merespon atau bungkam. Sikap bungkamnya Kadinkes ini diduga kuat untuk memuluskan penyimpangan di proyek 8,8 Miliar tersebut.
Sukardi

























Komentar via Facebook