Menunggu Korban Jiwa? Kabel Listrik AS Tertimbun di Randau Jungkal Diabaikan, PLN Sandai dan Ketapang Kompak "Tidur Nyenyak"
KETAPANG kabar Sulsel Indonesia.com Slogan "PLN Terbaik Melayani Negeri" tampaknya tidak berlaku di Desa Randau Jungkal, RT 07 / RW 01, Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang provinsi Kalimantan Barat. Di wilayah ini, warga dipaksa hidup berdampingan dengan maut akibat kabel listrik arus sempurna (AS) yang tertimbun di dalam tanah kuning namun tetap dibiarkan terhubung ke gardu utama Tanggal (12.6.2026).
Ketakutan dan keresahan warga seperti dianggap angin lalu. Padahal, bahaya yang mengintai tidak main-main. Jika isolator kabel tersebut bocor, tanah kuning yang lembap akan langsung berubah menjadi "lantai listrik" yang siap merenggut nyawa anak-anak maupun orang dewasa yang melintas di atasnya. Belum lagi risiko ledakan bawah tanah yang bisa memicu kebakaran hebat di kawasan padat penduduk.
Jeritan Warga: "Kami Takut Tanah yang Kami Injak Mengalirkan Maut!"
Kondisi mencekam ini dikonfirmasi langsung oleh salah seorang warga RT 07 yang sehari-hari melintasi area tersebut. Mewakili ketakutan warga desa, ia meluapkan rasa kecewa dan kecemasannya yang mendalam.
"Kondisi kabel tertimbun tanah kuning ini sudah jelas-jelas membahayakan, tapi kenapa dari pihak PLN seolah-olah tutup mata? Kami ini bayar listrik, bukan numpang gratis! Masa untuk urusan keselamatan nyawa warga di RT 07 desa randau jungkal ini mereka abai? Apa harus nunggu ada korban jiwa bertebaran di sini baru mereka mau sibuk datang bawa peralatan?" cecar salah satu tokoh pemuda setempat saat ditemui awak media.
Respons PLN: Lempar Pesan, Dapat Bungkam
Demi keselamatan publik dan keberimbangan berita, tim awak media mencoba meminta kejelasan kepada Humas PLN Kabupaten Ketapang via pesan singkat WhatsApp mengenai status keaktifan kabel maut tersebut. Hasilnya? Zong. Pihak Humas tampaknya lebih memilih pura-pura tidak tahu dan bungkam seribu bahasa.
Kondisi di lapangan bahkan lebih miris. PLN Kecamatan Sandai yang memegang fungsi pengawasan langsung di wilayah tersebut justru terkesan "tutup mata dan tidur nyenyak".
Pertanyaan pedas pun sangat layak dilayangkan:
Apakah PLN Kecamatan Sandai baru akan bergerak jika sudah ada warga desa Randau Jungkal yang tewas tersengat? Mengapa instansi yang digaji dari uang rakyat ini begitu bebal dan abai terhadap keselamatan nyawa manusia?
Kecerobohan mendasar seperti ini memperlihatkan betapa buruknya manajemen risiko, fungsi kontrol, dan sensitivitas sosial dari PLN di wilayah Ketapang. Sampai berita ini diturunkan, konfirmasi resmi dari Humas PLN Ketapang masih dinantikan, bersamaan dengan doa warga Randau Jungkal agar mereka tidak menjadi korban dari kelalaian akut ini.
Respons PLN: Lempar Pesan, Dapat Bungkam
Demi keselamatan publik dan keberimbangan berita, tim awak media mencoba meminta kejelasan kepada Humas PLN Kabupaten Ketapang via pesan singkat WhatsApp mengenai status keaktifan kabel maut tersebut. Hasilnya? Zong. Pihak Humas tampaknya lebih memilih pura-pura tidak tahu dan bungkam seribu bahasa.
Kondisi di lapangan bahkan lebih miris. PLN Kecamatan Sandai yang memegang fungsi pengawasan langsung di wilayah tersebut justru terkesan "tutup mata dan tidur nyenyak".
Pertanyaan pedas pun sangat layak dilayangkan:
Apakah PLN Kecamatan Sandai baru akan bergerak jika sudah ada warga Randau Jungkal yang tewas tersengat? Mengapa instansi yang digaji dari uang rakyat ini begitu bebal dan abai terhadap keselamatan nyawa manusia?
Kecerobohan mendasar seperti ini memperlihatkan betapa buruknya manajemen risiko, fungsi kontrol, dan sensitivitas sosial dari PLN di wilayah Ketapang.
Sampai berita ini diturunkan, konfirmasi resmi dari Humas PLN Ketapang masih dinantikan, bersamaan dengan doa warga Randau Jungkal agar mereka tidak menjadi korban dari kelalaian akut ini
Sukardi

























Komentar via Facebook