Dulu Anak Rawa, Kini Duduk Di Pusat Kekuasaan: Dr. Abraham Kateyau Dan Kebangkitan Orang Kamoro Di Tanah Mimika

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 11 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Dulu Anak Rawa, Kini Duduk Di Pusat Kekuasaan: Dr. Abraham Kateyau Dan Kebangkitan Orang Kamoro Di Tanah Mimika

Mimika, KabarsulselIndonesia.web.id | Di tanah yang kaya emas namun penuh luka sejarah ketimpangan, lahir satu pesan kuat dari pesisir Kamoro: anak adat Papua tidak boleh selamanya jadi penonton di negeri sendiri.

Pesan itu hari ini menemukan wajahnya pada sosok Dr. Abraham Kateyau.

Ia bukan lahir dari keluarga elite kota. Ia tumbuh dari kehidupan rawa, sungai, hutan sagu, dan muara pesisir Mimika — ruang hidup orang Kamoro yang sejak leluhur menjaga tanah adat dengan adat, kesederhanaan, dan keyakinan bahwa tanah adalah warisan suci dari Tuhan.

Di tempat-tempat sunyi itulah Abraham dibesarkan.

Dari kampung yang jauh dari gemerlap kekuasaan, ia menempuh perjalanan panjang hingga meraih gelar doktor hukum dan dipercaya menduduki kursi Penjabat Sekretaris Daerah Mimika. Sebuah posisi strategis yang selama ini dianggap sulit disentuh anak-anak asli pesisir Papua.

Bagi masyarakat Kamoro, itu bukan sekadar jabatan birokrasi.

Itu simbol perlawanan terhadap rasa tersingkir di tanah sendiri.

Sebab selama puluhan tahun, Mimika berubah terlalu cepat. Tambang raksasa membuka jalan bagi investasi, kota tumbuh, pendatang berdatangan, gedung menjulang, uang berputar dalam jumlah besar tetapi di balik kemajuan itu, banyak masyarakat adat justru merasa semakin jauh dari pusat keputusan.

Orang Kamoro dan Amungme sering dipuji sebagai pemilik tanah, tetapi tidak selalu hadir sebagai penentu arah pembangunan.

Karena itu, kehadiran Abraham Kateyau di lingkaran pemerintahan dibaca sebagai kebangkitan harga diri masyarakat adat.

Ia menjadi bukti bahwa anak-anak rawa, anak sungai, dan anak pesisir juga mampu menembus ruang kekuasaan yang selama ini terasa begitu jauh.

Gelar doktor yang diraihnya bukan hanya prestasi akademik. Itu adalah pesan keras bahwa generasi Kamoro tidak boleh lagi dipandang sebelah mata.

Bahwa pendidikan kini menjadi senjata baru orang asli Papua untuk merebut masa depan mereka sendiri.

Di sisi lain, kepercayaan masyarakat adat kepada Johanes Rettob untuk memimpin Mimika memperlihatkan satu perubahan besar sedang terjadi: masyarakat adat mulai ingin berdiri di depan, bukan lagi berada di belakang pembangunan.

Harapan masyarakat sederhana tetapi sangat tajam — pembangunan Mimika tidak boleh hanya menghasilkan gedung, uang, dan kemewahan bagi pendatang, sementara pemilik tanah adat terus hidup di pinggir.

Figur seperti Abraham Kateyau diharapkan menjadi pintu lahirnya lebih banyak anak Kamoro dan Amungme yang berpendidikan tinggi, masuk birokrasi, menguasai hukum, ekonomi, dan akhirnya memimpin daerahnya sendiri.

Karena Mimika bukan hanya soal emas yang digali dari gunung.

Mimika adalah tentang manusia-manusia yang sejak ratusan tahun menjaga sungai, rawa, hutan, dan tanah adat agar tetap hidup.

Dan ketika putra-putra terbaik tanah ini mulai bangkit melalui pendidikan dan kepemimpinan, maka sesungguhnya sejarah baru sedang ditulis di Mimika:

Sejarah tentang anak adat yang akhirnya kembali berdiri tegak di atas tanah leluhurnya sendiri.
(*****)