MIMIKA DIKEPUNG NARKOBA, DPRK MINTA TES URINE MASSAL: JANGAN HANYA RAKYAT YANG DIPERIKSA, APARAT DAN PEJABAT JUGA HARUS!

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 09 Juni 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

MIMIKA DIKEPUNG NARKOBA, DPRK MINTA TES URINE MASSAL: JANGAN HANYA RAKYAT YANG DIPERIKSA, APARAT DAN PEJABAT JUGA HARUS!

MIMIKA DIKEPUNG NARKOBA, DPRK MINTA TES URINE MASSAL: JANGAN HANYA RAKYAT YANG DIPERIKSA, APARAT DAN PEJABAT JUGA HARUS!

TIMIKA Kabarsulselindinesia.web.id  Meledaknya nilai barang bukti narkotika jenis sabu yang dimusnahkan hingga mencapai Rp2,7 miliar memicu alarm keras di Kabupaten Mimika. Anggota DPRK Mimika dari Fraksi Perindo, Hj. Rapeani Racham (RR), menilai kondisi tersebut sebagai bukti nyata bahwa Mimika sedang berada dalam situasi darurat narkoba.

Menurutnya, lonjakan peredaran narkoba yang sebelumnya bernilai puluhan juta, kemudian ratusan juta, hingga kini menembus miliaran rupiah, menunjukkan bahwa jaringan pengedar semakin leluasa bergerak dan diduga telah menjadikan Mimika sebagai pasar yang menjanjikan. 09/06/2026

"Ini bukan lagi persoalan biasa. Kalau setiap tahun jumlah barang bukti terus meningkat hingga miliaran rupiah, maka ada yang salah dengan sistem pengawasan kita. Narkoba tidak mungkin jatuh dari langit. Pasti ada jalur masuk, ada jaringan, dan ada pihak yang harus bertanggung jawab," tegas RR.

Politisi Perindo itu secara terbuka mempertanyakan kinerja pengawasan di pintu-pintu masuk Mimika. Ia menilai publik berhak mengetahui bagaimana narkoba dalam jumlah fantastis bisa terus lolos dan beredar di tengah masyarakat.

"Masuk lewat mana barang haram itu? Bandara? Pelabuhan? Atau jalur lainnya? Pertanyaan ini harus dijawab. Jangan sampai masyarakat menilai ada pembiaran atau bahkan dugaan keterlibatan oknum yang membuat narkoba masuk semudah air mengalir," katanya.

RR bahkan menyoroti lemahnya fungsi deteksi dini dan pengawasan yang seharusnya menjadi benteng pertama dalam memerangi narkotika. Jika peredaran terus meningkat dari tahun ke tahun, menurutnya, maka evaluasi menyeluruh tidak bisa lagi ditunda.

Sebagai bentuk keseriusan perang terhadap narkoba, RR mendesak Kapolres Mimika berkoordinasi dengan BNN untuk melaksanakan tes urine massal tanpa pengecualian. Mulai dari anggota Polres Mimika, aparatur sipil negara, pejabat daerah, anggota DPRK, hingga pelajar.

"Kalau ingin perang melawan narkoba, jangan hanya rakyat kecil yang diperiksa. Aparat, pejabat, dan wakil rakyat juga harus siap diperiksa. Jangan ada yang merasa kebal atau berada di atas hukum. Bersih-bersih harus dimulai dari dalam," ujarnya.

Ia mengaku menerima banyak keluhan masyarakat yang semakin resah melihat maraknya peredaran sabu dan narkotika di Mimika. Kondisi ini dinilai mengancam masa depan generasi muda Papua yang menjadi target utama jaringan pengedar.

"Jangan tunggu lebih banyak anak-anak Mimika menjadi korban. Jangan tunggu narkoba menghancurkan satu generasi. Negara harus hadir dengan tindakan nyata, bukan sekadar seremonial pemusnahan barang bukti," tegasnya.

RR menambahkan, keberhasilan perang terhadap narkoba tidak diukur dari banyaknya sabu yang dimusnahkan, tetapi dari kemampuan aparat membongkar bandar besar, memutus jalur distribusi, dan mengungkap siapa saja yang bermain di belakang layar.

"Kalau barang bukti terus bertambah dari puluhan juta menjadi miliaran rupiah, maka yang harus dipertanyakan bukan hanya pengedarnya, tetapi juga sejauh mana efektivitas pengawasan dan penegakan hukum selama ini. Mimika tidak boleh kalah melawan narkoba," pungkasnya.

Editor : Bruce Elang