Tepati Janji di Kayauni, Dinas Perkebunan Fakfak Dorong Sagu Jadi Mesin Ekonomi Warga

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 01 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Tepati Janji di Kayauni, Dinas Perkebunan Fakfak Dorong Sagu Jadi Mesin Ekonomi Warga

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Pembangunan tidak selalu dimulai dari proyek besar. Di Kayauni, Distrik Kayauni, Kabupaten Fakfak, ia datang dalam bentuk yang lebih sederhana: satu set mesin parut sagu.

Pemerintah Kabupaten Fakfak melalui Dinas Perkebunan menyerahkan bantuan tersebut kepada Kelompok Henggi Sagu, yang dipimpin Yosepus Iba. Bantuan itu menjadi tindak lanjut atas komitmen pemerintah kepada kelompok masyarakat yang selama ini mengolah dan mempertahankan sagu sebagai salah satu sumber pangan lokal.

Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST., MT., mengatakan bantuan tersebut diberikan untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat sekaligus menepati komitmen yang telah disampaikan sebelumnya.

“Kami ingin bantuan yang diberikan pemerintah benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. Apa yang sudah kami sampaikan kepada kelompok, kami berusaha untuk tepati. Karena itu, hari ini kami menyerahkan satu set mesin parut sagu kepada Kelompok Henggi Sagu di Kayauni.”

Bagi Widhi, sagu bukan sekadar bahan pangan. Di dalamnya terdapat potensi ekonomi yang dapat dikembangkan apabila masyarakat memperoleh dukungan teknologi dan peralatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Selama ini, pengolahan sagu masih banyak dilakukan secara manual. Pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga besar dan waktu yang tidak sedikit. Mesin parut diharapkan memangkas beban kerja sekaligus mempercepat proses produksi.

“Dengan adanya mesin ini, kami berharap pekerjaan masyarakat menjadi lebih ringan, proses produksi lebih cepat, dan kapasitas produksi sagu kelompok dapat meningkat,” ujarnya.

Namun, bagi Dinas Perkebunan, ukuran keberhasilan bantuan bukan terletak pada seremoni penyerahan alat. Mesin tersebut harus bergerak, menghasilkan produk, dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Karena itu, Widhi mengingatkan kelompok penerima agar mengelola bantuan secara bersama-sama, menjaga kondisi mesin, serta melakukan pemeliharaan secara berkala.

“Yang paling penting, alat ini jangan hanya menjadi bantuan, tetapi harus benar-benar dimanfaatkan dan dirawat sehingga memberikan manfaat dalam jangka panjang,” katanya.

Ia berharap keberadaan mesin tersebut tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi Kelompok Henggi Sagu, tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan sagu sebagai produk bernilai tambah.

Dengan pengolahan yang lebih efisien, sagu diharapkan tidak berhenti sebagai komoditas untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Komoditas itu dapat berkembang menjadi bagian dari kegiatan ekonomi masyarakat, sepanjang dikelola secara konsisten dan berkelanjutan.

Dinas Perkebunan memandang penguatan sagu di Kayauni sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Pemerintah tidak perlu menghadirkan komoditas baru ketika sumber pangan telah tersedia di sekitar masyarakat. Yang dibutuhkan adalah memperkuat cara mengolahnya agar lebih produktif dan memiliki nilai ekonomi.

Sagu yang tumbuh di wilayah Kayauni merupakan potensi yang telah lama dikenal masyarakat. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut tidak berhenti sebagai kekayaan alam, melainkan berubah menjadi kekuatan ekonomi yang dikelola oleh masyarakat sendiri.

Di titik itulah mesin parut sagu menjadi lebih dari sekadar peralatan produksi. Ia menjadi simbol pergeseran dari pekerjaan manual menuju pengolahan yang lebih efisien; dari sekadar memenuhi kebutuhan pangan menuju upaya menciptakan nilai tambah.

“Pemerintah hadir memberikan dukungan, tetapi keberlanjutannya sangat tergantung pada bagaimana kelompok mengelola, menggunakan, dan merawat bantuan tersebut. Kalau dikelola dengan baik, saya yakin mesin ini bisa memberikan dampak yang lebih besar bagi peningkatan produksi dan pendapatan masyarakat,” kata Widhi.

Satu mesin mungkin tampak sederhana. Namun bagi masyarakat yang selama ini mengandalkan tenaga manual, ia dapat mengubah cara bekerja.

Dari batang sagu menjadi tepung. Dari tepung menjadi pangan. Dan dari pangan, terbuka kemungkinan lahirnya pendapatan.

Pemerintah kini telah menunaikan bagian pertamanya: memenuhi janji dan menghadirkan alat. Selebihnya berada di tangan masyarakat memastikan mesin itu tidak menjadi barang bantuan yang diam di sudut kampung, tetapi benar-benar berputar dan menggerakkan ekonomi Kayauni.
 

Writter & Editor : Den