Di Tengah Krisis Air Fakfak, Perkebunan Tak Berhenti Bergerak: 6.600 Liter Air Bersih Disalurkan

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 10 Oktober 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Di Tengah Krisis Air Fakfak, Perkebunan Tak Berhenti Bergerak: 6.600 Liter Air Bersih Disalurkan

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Di tengah keterbatasan air bersih yang membebani kebutuhan rumah tangga, pelayanan pemerintah diuji bukan hanya melalui kebijakan, melainkan juga melalui kesanggupan menjangkau warga yang membutuhkan. Memasuki hari keempat distribusi air bersih di Kabupaten Fakfak, Dinas Perkebunan kembali mengerahkan dua kendaraan operasional untuk menyalurkan 6.600 liter air ke tiga titik prioritas, yakni Perwasak, Kampung Werba, dan Wagom Utara.

Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST., MT., turun langsung bersama jajaran stafnya untuk memastikan distribusi berjalan dan air menjangkau masyarakat sasaran. Sebanyak enam tangki, masing-masing berkapasitas sekitar 1.100 liter, disalurkan dalam kegiatan pelayanan yang menjadi bagian dari respons lintas organisasi perangkat daerah (OPD) terhadap kebutuhan air bersih masyarakat.

Distribusi tersebut bukan sekadar urusan memindahkan air dari satu tempat ke tempat lain. Di tengah keterbatasan pasokan, persoalan yang dihadapi warga juga menyangkut akses: siapa yang terjangkau, wilayah mana yang diprioritaskan, dan bagaimana bantuan dapat dibagikan secara proporsional.

Karena itu, pembagian air pada hari keempat diarahkan ke tiga lokasi dengan kebutuhan yang telah dipetakan di lapangan.

Di Perwasak, tiga tangki air disalurkan untuk membantu warga di bagian atas dan bawah lingkungan RT. Pembagian ini menjadi penting agar pelayanan tidak terpusat pada satu bagian wilayah, sementara warga di bagian lain tetap menghadapi kesulitan memperoleh air.

Satu tangki berikutnya dibawa ke Kampung Werba, tepatnya di sekitar jalan setapak pantai. Adapun dua tangki lainnya disalurkan kepada warga RT 09 bagian atas, Wagom Utara, dekat kawasan Air Merah.

Dengan pembagian tersebut, enam tangki air yang dikerahkan Dinas Perkebunan menjangkau tiga titik pelayanan dalam satu hari kegiatan.

Ketika pelayanan publik harus hadir di lapangan

Keterlibatan langsung Widhi bersama stafnya memperlihatkan bahwa dukungan perangkat daerah dalam situasi darurat kebutuhan dasar tidak berhenti pada koordinasi administratif. Pelayanan juga membutuhkan pengaturan kendaraan, tenaga, rute distribusi, serta pemahaman terhadap kondisi wilayah yang harus dijangkau.

Dalam situasi seperti ini, efektivitas pelayanan tidak semata-mata diukur dari banyaknya air yang diangkut, tetapi juga dari ketepatan penyaluran dan manfaat yang diterima warga.

Widhi mengatakan, distribusi air bersih yang telah berlangsung selama empat hari itu merupakan bagian dari tanggung jawab pelayanan kepada masyarakat. Dinas Perkebunan, kata dia, berupaya mengoptimalkan sarana operasional dan personel yang tersedia agar bantuan dapat menjangkau lokasi yang membutuhkan.

“Memasuki hari keempat, kami tetap konsisten melaksanakan pelayanan distribusi air bersih bersama OPD lainnya dengan mengoptimalkan kendaraan operasional dan personel yang tersedia. Saya hadir bersama seluruh jajaran staf Dinas Perkebunan untuk memastikan pelayanan ini berjalan dengan baik dan menjangkau masyarakat yang membutuhkan,” ujar Widhi.

Ia menjelaskan, pada hari keempat pihaknya mengerahkan dua kendaraan operasional untuk mendistribusikan enam tangki air atau sekitar 6.600 liter ke Perwasak, Werba, dan RT 09 Wagom Utara.

Bagi Widhi, pelayanan tersebut bukan tentang membangun kesan, melainkan memastikan pemerintah memberikan manfaat ketika masyarakat menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan mendasar.

“Bagi kami, pelayanan kepada masyarakat merupakan tanggung jawab yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh, tulus, dan ikhlas. Ini bukan tentang pencitraan, melainkan tentang bagaimana pemerintah dapat hadir dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama ketika warga sedang menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan dasar,” katanya.

Pernyataan itu menempatkan pelayanan air bersih sebagai tanggung jawab yang harus dibuktikan melalui tindakan. Di tengah situasi ketika warga membutuhkan pasokan untuk keperluan sehari-hari, kehadiran petugas dan tersalurnya air menjadi bagian konkret dari upaya pemerintah menjawab kebutuhan tersebut.

Air bersih bukan sekadar bantuan sesaat

Widhi memahami bahwa air bersih bukan hanya kebutuhan untuk memasak atau membersihkan rumah. Ketersediaannya turut menentukan kelancaran berbagai aktivitas harian keluarga. Ketika akses terhadap air terganggu, masyarakat harus mengatur ulang penggunaan air dan memprioritaskan kebutuhan yang paling mendesak.

Karena itu, ia berharap distribusi yang dilakukan dapat membantu meringankan beban warga, sekaligus mengingatkan masyarakat untuk menggunakan air secara bijak.

“Kami memahami bahwa air bersih bukan sekadar kebutuhan rumah tangga, melainkan kebutuhan mendasar yang sangat menentukan keberlangsungan kehidupan sehari-hari. Selama masih memungkinkan dan didukung sarana operasional yang tersedia, kami akan terus berupaya memberikan pelayanan secara optimal sesuai kebutuhan dan kondisi di lapangan,” ujar Widhi.

Ia juga mengajak warga memanfaatkan air yang telah disalurkan dengan mengutamakan kebutuhan paling penting serta menjaga semangat kebersamaan dan gotong royong selama menghadapi keterbatasan pasokan.

Di sisi lain, distribusi air melalui kendaraan operasional memiliki tantangan tersendiri. Ketersediaan armada, kapasitas tangki, jarak tempuh, serta kondisi akses menuju permukiman menentukan seberapa luas pelayanan dapat dilakukan dalam satu hari. Pengaturan rute dan koordinasi antarpersonel pun diperlukan agar setiap perjalanan memberikan manfaat maksimal.

Sinergi OPD dan keberlanjutan pelayanan

Distribusi pada hari keempat juga memperlihatkan pentingnya kerja bersama antarperangkat daerah dalam menghadapi persoalan yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Ketika satu OPD mengerahkan kendaraan dan personel, dukungan lintas sektor dapat memperluas jangkauan pelayanan serta membantu pemerintah merespons kebutuhan warga secara lebih terarah.

Dalam konteks tersebut, langkah Dinas Perkebunan menjadi bagian dari gerakan pelayanan bersama Pemerintah Kabupaten Fakfak di bawah kepemimpinan Bupati Fakfak dan melibatkan OPD lainnya.

Namun, keberhasilan pelayanan tidak hanya ditentukan oleh terlaksananya distribusi pada satu hari. Konsistensi, ketepatan sasaran, dan kemampuan menyesuaikan penyaluran dengan kebutuhan warga akan menjadi faktor penting agar bantuan benar-benar dirasakan masyarakat.

Enam tangki air yang disalurkan pada hari keempat merupakan kontribusi nyata dalam menjawab kebutuhan warga di tiga titik prioritas. Langkah berikutnya adalah memastikan pelayanan terus disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan dan ketersediaan sarana yang dimiliki pemerintah.

Bagi masyarakat yang menghadapi keterbatasan air, kehadiran pemerintah paling mudah dirasakan melalui pelayanan yang sampai ke lingkungan mereka. Bagi pemerintah, itulah pekerjaan yang perlu terus dijaga: memastikan bahwa kebutuhan mendasar warga tidak berhenti menjadi perhatian di atas kertas, tetapi ditindaklanjuti melalui upaya yang terukur, konsisten, dan bertanggung jawab.

Di tengah keterbatasan air bersih, pelayanan yang berkelanjutan menjadi ukuran penting kehadiran pemerintah. Dan pada hari keempat ini, Dinas Perkebunan Fakfak kembali mengambil bagian melalui distribusi 6.600 liter air bersih bagi masyarakat di Perwasak, Werba, dan Wagom Utara.

 

Writter & Editor : Den