Gelombang Kegeraman Publik Menguat, Kepemimpinan Bupati Ricky Jauwerissa Disorot Tajam

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 06 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Gelombang Kegeraman Publik Menguat, Kepemimpinan Bupati Ricky Jauwerissa Disorot Tajam

Jakarta, KabarsulselIndonesia.web.id | Kegeraman publik terhadap kepemimpinan Ricky Jauwerissa kian memuncak. Berbagai kritik keras bermunculan, menyoroti gaya kepemimpinan yang dinilai semakin menjauh dari prinsip transparansi, akuntabilitas, dan keberpihakan pada rakyat.

Sejumlah suara dari masyarakat Tanimbar menilai pola kepemimpinan yang dijalankan cenderung tertutup dan terpusat, dengan kecenderungan menyingkirkan ruang kritik. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius akan arah tata kelola pemerintahan daerah yang dinilai semakin tidak sehat.

“Yang terlihat sekarang adalah kekuasaan yang seolah ingin dipertahankan dengan segala cara. Kritik tidak lagi dianggap sebagai masukan, tetapi seperti ancaman,” ujar seorang pemuda Tanimbar yang vokal mengawal isu pemerintahan.

Kritik tersebut bukan tanpa alasan. Sejumlah pihak menyoroti adanya kecenderungan pengambilan keputusan yang tidak partisipatif, serta munculnya lingkaran kekuasaan sempit yang dinilai lebih mengutamakan loyalitas dibandingkan kapasitas.

Situasi ini memantik pertanyaan besar: apakah jabatan masih dijalankan sebagai amanah rakyat, atau telah bergeser menjadi alat untuk mempertahankan pengaruh dan kehormatan pribadi?

Pengamat menilai, jika pola seperti ini terus dibiarkan, dampaknya tidak hanya pada stagnasi birokrasi, tetapi juga berpotensi merusak kepercayaan publik secara luas. Pemerintahan yang tertutup dan anti kritik adalah pintu masuk bagi krisis yang lebih besar.

Lebih memprihatinkan lagi, sejumlah suara kritis di tingkat lokal mengaku kerap tidak mendapatkan ruang. Aspirasi yang disampaikan seolah hilang tanpa respons, menciptakan kesan adanya pembungkaman secara tidak langsung terhadap masyarakat.

Dalam konteks ini, masyarakat Tanimbar dihadapkan pada situasi yang tidak bisa lagi dipandang biasa. Kontrol publik menjadi kunci, karena tanpa pengawasan yang kuat, kekuasaan berisiko melenceng jauh dari tujuan awalnya.

Kepemimpinan sejatinya bukan soal siapa yang paling berkuasa, tetapi siapa yang paling mampu menjaga amanah. Ketika kekuasaan mulai dipertahankan dengan cara-cara yang dipertanyakan, maka alarm bagi masa depan daerah seharusnya sudah berbunyi nyaring.

(*****)