Kemarau Menguji Pala Tomandin, Tanaman Remaja Paling Rentan
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Musim kemarau mulai meninggalkan jejak di kebun-kebun pala Fakfak. Di sejumlah kampung, tanaman pala yang masih muda mulai layu, pertumbuhannya tertekan, bahkan sebagian dilaporkan mati. Pemerintah Kabupaten Fakfak kini menyiapkan langkah rehabilitasi untuk menjaga keberlanjutan kebun pala masyarakat.
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, S.T., M.T turun langsung menemui kelompok petani pekebun pala di sejumlah wilayah terdampak. Ia melihat kondisi tanaman sekaligus mendengar keluhan petani mengenai perubahan kondisi kebun selama periode kering yang berlangsung cukup panjang.
“Kami melihat langsung kondisi kebun dan mendengar apa yang dialami oleh petani pekebun pala. Kekeringan telah memberikan dampak terhadap sejumlah tanaman pala, terutama tanaman remaja,” kata Widhi.
Menurut dia, tanaman pala pada fase remaja menjadi kelompok yang paling rentan ketika ketersediaan air menurun. Sistem perakaran tanaman yang belum berkembang sekuat tanaman dewasa membuatnya lebih cepat mengalami tekanan ketika tanah kehilangan kelembapan.
Gejalanya mulai terlihat dari tanaman yang layu, pertumbuhan yang melambat, daun menguning atau menggugur, tajuk mengering, hingga kematian tanaman apabila tekanan kekeringan berlangsung terus-menerus.
Kondisi itu tidak ditemukan secara seragam di seluruh Fakfak. Sejumlah wilayah masih relatif aman, sementara wilayah lain mengalami kekeringan lebih awal.
Dinas Perkebunan memberi perhatian terhadap sejumlah sentra perkebunan pala, antara lain Distrik Teluk Patipi, Furwagi, Kokas, Kayauni, Mbahamdandara, beberapa kampung di wilayah Fakfak bagian timur, serta Distrik Karas.
“Dampaknya tidak terjadi secara merata. Ada wilayah yang relatif masih aman, tetapi ada pula beberapa kampung yang lebih dahulu mengalami kekeringan,” ujar Widhi.
Bagi Fakfak, persoalan tersebut bukan sekadar soal tanaman yang kehilangan air. Pala merupakan tanaman tahunan yang membutuhkan waktu panjang untuk tumbuh dan memasuki masa produksi. Kehilangan tanaman pada fase pertumbuhan berarti kehilangan pula waktu yang telah diinvestasikan petani untuk membangun kebunnya.
Karena itu, Dinas Perkebunan meminta petani tidak membiarkan tanaman yang masih hidup kehilangan kesempatan untuk diselamatkan.
Petani diminta mempertahankan kelembapan tanah dengan menjaga bahan organik di sekitar tanaman, mempertahankan tutupan tanah, serta menghindari pembersihan lahan secara berlebihan. Sumber air yang masih tersedia juga diharapkan dimanfaatkan secara bijaksana.
Pemerintah tidak ingin seluruh persoalan ditumpukan pada bantuan setelah tanaman mati. Perawatan di tingkat kebun dinilai menjadi pertahanan pertama untuk menjaga tanaman yang masih memiliki peluang bertahan.
Di tengah kondisi kering itu, Widhi juga mengingatkan ancaman lain yang dapat memperbesar kerugian petani: kebakaran kebun.
Ia meminta masyarakat tidak membersihkan kebun dengan cara membakar semak, rumput kering, sisa tebangan maupun bahan organik lainnya.
“Jangan membersihkan kebun dengan cara membakar, apalagi pada kondisi kemarau seperti sekarang. Lahan yang kering sangat mudah terbakar dan api bisa dengan cepat menyebar ke tanaman pala maupun kebun masyarakat lainnya,” katanya.
Menurut Widhi, tanaman yang telah mengalami tekanan akibat kekeringan akan menghadapi risiko lebih besar jika kemudian terkena kebakaran. Kerusakan tidak hanya mengancam tanaman pala, tetapi juga dapat mengganggu lingkungan dan sumber penghidupan masyarakat pekebun.
Karena itu, ia meminta petani tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan dan memastikan api benar-benar padam ketika aktivitas yang menggunakan api tidak dapat dihindari.
“Jangan sampai karena kelalaian kita, kebun yang selama ini dirawat bertahun-tahun justru rusak karena kebakaran. Saat ini yang paling penting adalah menjaga kebun tetap aman,” ujarnya.
Dinas Perkebunan selanjutnya akan melakukan pendataan setelah periode kemarau berlalu. Pendataan tersebut akan mencakup lokasi kebun, luas areal terdampak, jumlah tanaman yang mati, serta tanaman yang masih dapat dipulihkan.
Data itu akan menjadi dasar pemerintah dalam menentukan kebutuhan intervensi dan rehabilitasi.
Widhi meminta petani segera melaporkan apabila menemukan tanaman pala yang mengalami kerusakan berat atau mati akibat kekeringan.
Langkah tersebut dipandang penting untuk menjaga populasi tanaman pala di kebun masyarakat. Tanaman yang mati tidak boleh dibiarkan menciptakan ruang kosong yang pada akhirnya dapat mengurangi kepadatan tanaman dan produktivitas kebun pada masa mendatang.
Bagi Pemerintah Kabupaten Fakfak, menghadapi kemarau bukan hanya soal melewati satu musim kering. Tantangannya adalah memastikan kebun pala tetap bertahan sebagai aset ekonomi masyarakat dan menjaga Pala Tomandin tetap hidup sebagai komoditas unggulan sekaligus bagian dari identitas Fakfak.
Widhi mengatakan rehabilitasi akan dilakukan setelah kondisi memungkinkan dan diarahkan secara bertahap, terutama pada kebun yang mengalami kehilangan tanaman dalam jumlah signifikan.
“Tanaman yang mati jangan dibiarkan menjadi lahan kosong. Setelah kondisi memungkinkan, kita harus tanam kembali,” katanya.
Dengan demikian, musim kemarau menjadi semacam ujian bagi keberlanjutan kebun pala Fakfak. Pemerintah kini berupaya memastikan tanaman yang masih hidup dapat bertahan, sementara tanaman yang benar-benar hilang nantinya dapat digantikan melalui program rehabilitasi yang berbasis pada kondisi riil di lapangan.
Writter & Editor : Den

























Komentar via Facebook