Transformasi Pendidikan di Kepulauan: AI, Coding, dan Tantangan Sekolah di Maluku

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 02 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Transformasi Pendidikan di Kepulauan: AI, Coding, dan Tantangan Sekolah di Maluku

Malra,Kabarsulsel-Indonesia.web.id. 

Oleh: Gerry Ubra, S.Pd., CPSE

Transformasi pendidikan di era digital tidak lagi dapat dihindari. Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan coding membuka peluang besar untuk mengubah cara peserta didik belajar, guru mengajar, dan sekolah mengembangkan berbagai inovasi. Namun, ketika berbicara tentang penerapan teknologi pendidikan di Maluku, kita tidak dapat hanya melihatnya dari perspektif sekolah yang memiliki jaringan internet cepat, komputer yang memadai, dan akses listrik yang stabil. Pendidikan di Maluku memiliki realitas yang berbeda. Kondisi geografis kepulauan, keterbatasan infrastruktur, serta keragaman sosial dan budaya harus menjadi pertimbangan utama.

Maluku adalah wilayah kepulauan dengan karakter geografis yang sangat khas. Jarak antarpulau, keterbatasan transportasi, kondisi cuaca, serta akses komunikasi yang belum merata menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan. Ada sekolah yang relatif mudah memperoleh akses internet dan perangkat digital, tetapi ada pula sekolah yang harus berjuang dengan keterbatasan komputer, listrik, bahkan jaringan komunikasi. Dalam kondisi seperti ini, berbicara tentang AI dan coding tidak boleh sekadar menjadi wacana modernisasi pendidikan. Keduanya harus diterapkan berdasarkan kebutuhan dan kemampuan nyata sekolah.

AI sebenarnya dapat menjadi alat bantu pembelajaran yang sangat bermanfaat. Guru dapat memanfaatkannya untuk mencari ide pembelajaran, menyusun bahan ajar, membuat variasi soal, atau mengembangkan aktivitas yang lebih kontekstual. Peserta didik juga dapat diperkenalkan pada AI sebagai alat untuk mencari informasi, menganalisis data, mengembangkan kreativitas, dan menyelesaikan masalah. Namun, AI tidak boleh menggantikan peran guru. Guru tetap menjadi pendidik, pembimbing, dan teladan yang membantu peserta didik menggunakan teknologi secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.

Demikian pula dengan coding. Pembelajaran coding tidak harus selalu dimulai dengan laboratorium komputer yang lengkap. Konsep berpikir komputasional dapat diperkenalkan melalui aktivitas sederhana tanpa komputer. Peserta didik dapat belajar menyusun langkah-langkah penyelesaian masalah, mengenali pola, membuat algoritma sederhana, dan memecahkan persoalan kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan seperti ini, coding tidak hanya dipahami sebagai kemampuan menulis program, tetapi sebagai cara berpikir sistematis dan logis.

Justru kondisi kepulauan Maluku dapat menjadi sumber pembelajaran coding dan AI yang sangat kaya. Peserta didik dapat diajak mengidentifikasi persoalan di lingkungan mereka sendiri. Misalnya, bagaimana membuat sistem sederhana untuk mencatat hasil tangkapan nelayan, memetakan kondisi pantai, mengelola sampah, memantau cuaca, mengembangkan informasi pariwisata, atau mendokumentasikan budaya lokal. Dengan demikian, teknologi tidak hadir sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan masyarakat, tetapi menjadi alat untuk memahami dan menyelesaikan persoalan lokal.

Namun, transformasi pendidikan tidak boleh berhenti pada penyediaan perangkat. Memberikan komputer kepada sekolah tanpa memastikan ketersediaan listrik, internet, pelatihan guru, pemeliharaan perangkat, dan dukungan teknis tidak akan menghasilkan perubahan yang berkelanjutan. Pemerintah perlu membangun ekosistem pendidikan digital yang sesuai dengan karakter kepulauan. Infrastruktur harus dibangun secara bertahap dan berdasarkan prioritas kebutuhan masing-masing daerah.

Guru juga menjadi kunci utama transformasi ini. Sebagus apa pun teknologi yang tersedia, tanpa guru yang memiliki kompetensi digital dan pedagogis, teknologi tersebut tidak akan memberikan dampak maksimal. Karena itu, pelatihan AI dan coding bagi guru di Maluku perlu dilakukan secara berkelanjutan. Pelatihan sebaiknya tidak hanya mengajarkan cara menggunakan aplikasi, tetapi juga bagaimana mengintegrasikan teknologi dengan kurikulum, pembelajaran kontekstual, budaya lokal, serta karakter peserta didik.

Di sisi lain, kita harus menjaga agar transformasi digital tidak menghilangkan identitas masyarakat Maluku. Pendidikan berbasis teknologi harus tetap memberikan ruang bagi bahasa daerah, budaya, adat istiadat, sejarah, lingkungan, dan kearifan lokal. AI dan coding seharusnya membantu generasi muda mendokumentasikan dan mengembangkan kekayaan daerah, bukan membuat mereka kehilangan akar budayanya.

Transformasi pendidikan di kepulauan bukanlah perlombaan untuk menjadi sekolah paling digital. Transformasi yang sesungguhnya adalah ketika teknologi mampu membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna, membuka akses pengetahuan yang lebih luas, dan membantu peserta didik memecahkan persoalan di lingkungannya. Sekolah di pusat kota maupun sekolah di pulau-pulau kecil harus memperoleh kesempatan yang adil untuk berkembang.

Maluku memiliki tantangan, tetapi juga memiliki potensi besar. Laut, pulau, budaya, masyarakat, dan berbagai persoalan lokal dapat menjadi laboratorium pembelajaran yang luar biasa. AI dan coding dapat menjadi bagian dari perjalanan tersebut jika diterapkan secara realistis, inklusif, dan kontekstual.

Pada akhirnya, masa depan pendidikan Maluku bukan ditentukan oleh seberapa banyak komputer yang dimiliki sekolah, tetapi oleh bagaimana teknologi digunakan untuk membangun manusia yang berpikir kritis, kreatif, berkarakter, dan mampu memberikan solusi bagi daerahnya. Dari kepulauan Maluku, transformasi pendidikan dapat tumbuh bukan dengan meninggalkan realitas lokal, tetapi justru dengan menjadikan realitas lokal sebagai sumber kekuatan untuk menghadapi masa depan.

(Elang)