YAI dan Dinas Perkebunan Fakfak Satukan Data, Buka Jalan Hilirisasi Pala Tomandin dan Investasi Berkelanjutan

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 18 Juni 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

YAI dan Dinas Perkebunan Fakfak Satukan Data, Buka Jalan Hilirisasi Pala Tomandin dan Investasi Berkelanjutan

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Upaya menjadikan Pala Tomandin sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat Fakfak memasuki babak baru. Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak bersama Yayasan Akape Inma (YAI) memperkuat sinergi untuk membangun database petani dan perkebunan yang lebih komprehensif sebagai fondasi perencanaan pembangunan, peningkatan investasi, serta pengembangan hilirisasi komoditas unggulan daerah tersebut.

Komitmen itu mengemuka dalam audiensi dan diskusi yang berlangsung di Kantor Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak. Pertemuan tersebut tidak sekadar membahas pendataan petani, tetapi juga menyentuh isu-isu strategis yang menjadi penentu masa depan sektor perkebunan daerah, mulai dari pemetaan potensi lahan, penguatan kelembagaan petani, pemberdayaan masyarakat adat, hingga peluang investasi dan pengembangan industri berbasis pala.

Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST., MT, menegaskan bahwa ketersediaan data yang akurat merupakan prasyarat utama bagi pembangunan perkebunan yang terarah dan berkelanjutan. Menurut dia, setiap investor yang datang ke Fakfak selalu membutuhkan gambaran yang jelas mengenai luas areal perkebunan, jumlah petani, kapasitas produksi, hingga kondisi sosial masyarakat di wilayah pengembangan.

“Pembangunan yang baik harus dimulai dari data yang baik. Ketika kita memiliki data yang akurat, pemerintah dapat menyusun program secara tepat sasaran, sementara investor memperoleh kepastian untuk menanamkan modalnya di Fakfak,” ujar Widhi.

Ia menjelaskan, penyusunan database perkebunan secara menyeluruh memang memerlukan sumber daya dan anggaran yang tidak sedikit. Karena itu, Dinas Perkebunan saat ini melakukan pengumpulan data secara bertahap melalui berbagai program yang langsung menyentuh kelompok tani dan masyarakat pekebun di lapangan.

Menurut Widhi, setiap kegiatan yang dilaksanakan pemerintah dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat inventarisasi data petani dan lahan perkebunan. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang menuju tersedianya sistem data perkebunan yang terintegrasi dan dapat diandalkan sebagai dasar pengambilan kebijakan.

“Memang belum sempurna, tetapi proses ini terus berjalan. Yang terpenting adalah membangun fondasi data yang kuat agar arah pembangunan perkebunan Fakfak ke depan semakin jelas dan terukur,” katanya.

Dalam pertemuan itu, Ketua Yayasan Akape Inma (YAI), Anton Tanggahma, menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Pemerintah Kabupaten Fakfak dalam memperkuat basis data sektor perkebunan.

Menurut Anton, data perkebunan modern tidak cukup hanya memuat angka-angka statistik mengenai luas lahan atau volume produksi. Lebih dari itu, data harus mampu merekam realitas sosial masyarakat, wilayah adat, karakter petani, pola pengelolaan lahan, serta potensi ekonomi yang dimiliki setiap kampung.

“Data yang berkualitas harus mampu menggambarkan kondisi masyarakat dan potensi daerah secara utuh. Dengan begitu, pemerintah memiliki dasar yang kuat dalam merumuskan kebijakan pembangunan, sementara investor memperoleh gambaran yang komprehensif sebelum mengambil keputusan investasi,” ujarnya.

Anton menegaskan, Yayasan Akape Inma siap mengambil bagian dalam proses tersebut melalui pendekatan pemetaan partisipatif, pendampingan masyarakat, penguatan kelembagaan petani, serta pengembangan sistem informasi perkebunan yang berkelanjutan.

Kolaborasi ini, kata dia, merupakan langkah penting untuk memastikan bahwa pembangunan ekonomi daerah tetap berpijak pada kepentingan masyarakat adat dan kesejahteraan petani sebagai pelaku utama sektor perkebunan.

Selain penguatan database, diskusi juga menyoroti pentingnya peningkatan mutu dan kualitas Pala Tomandin Fakfak yang selama ini dikenal sebagai salah satu komoditas unggulan dengan nilai historis dan ekonomi yang tinggi.

Widhi menjelaskan bahwa kualitas produk menjadi faktor penentu daya saing dan harga jual pala di tingkat petani. Karena itu, pemerintah terus mendorong penerapan praktik budidaya dan pascapanen yang lebih baik, termasuk memastikan buah dipanen pada tingkat kematangan optimal serta menerapkan standar mutu yang konsisten.

“Kami ingin petani memperoleh nilai tambah yang lebih besar dari hasil kebunnya. Kualitas menjadi kunci. Semakin baik mutu pala yang dihasilkan, semakin tinggi pula nilai ekonomi yang diterima petani,” ujarnya.

Untuk mendukung upaya tersebut, Dinas Perkebunan terus mengembangkan berbagai inovasi, di antaranya pembangunan rumah pengering (solar dryer), rumah produksi, serta penerapan teknologi pascapanen yang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.

Tak hanya itu, pemerintah daerah juga mulai mendorong pemanfaatan daging buah pala yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Ke depan, bagian buah yang kerap dianggap limbah tersebut diharapkan dapat diolah menjadi pupuk organik maupun berbagai produk turunan bernilai ekonomi, sehingga seluruh bagian pala dapat memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi hilirisasi yang tengah didorong Pemerintah Kabupaten Fakfak untuk menciptakan rantai nilai yang lebih panjang dan memberikan keuntungan lebih besar bagi petani.

Widhi menegaskan bahwa percepatan pembangunan sektor perkebunan tidak mungkin dilakukan oleh pemerintah semata. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan masyarakat adat, lembaga pendamping, dunia usaha, perguruan tinggi, hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya.

“Kami membutuhkan mitra yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat dan komoditas unggulan daerah. Ketika pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak bergerak bersama, maka pembangunan perkebunan akan berlangsung lebih cepat, lebih kuat, dan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” katanya.

Sinergi antara Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak dan Yayasan Akape Inma menjadi penanda semakin kuatnya komitmen membangun sektor perkebunan berbasis data, partisipasi masyarakat, dan nilai tambah ekonomi. Dengan fondasi tersebut, Pala Tomandin tidak hanya diproyeksikan sebagai komoditas unggulan daerah, tetapi juga sebagai penggerak investasi, hilirisasi industri, serta peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat Fakfak secara berkelanjutan.

Di tengah semakin ketatnya persaingan pasar global, Fakfak tampaknya memilih langkah yang paling mendasar namun strategis: membangun masa depan dari data yang akurat, kolaborasi yang kuat, dan keyakinan bahwa Pala Tomandin layak menjadi ikon kebangkitan ekonomi daerah dari Tanah Papua Barat.

 

Writter & Editor : Den