Diskusi PMII Timika Memanas: Kapolres Absen, Pemuda Soroti Seriusnya Krisis Dialog dan Keamanan
TIMIKA, Kabarsulselindonesia.web.id Diskusi publik yang digelar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Timika di Café Ceko, Distrik Mimika Baru, berubah menjadi forum kritik terbuka terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan terutama keamanan di Kabupaten Mimika.02/05/2026
Mengusung tema “Menjawab Problem Sosial, Keamanan, dan Ekonomi di Kabupaten Mimika”, kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial.
Forum justru berkembang menjadi ruang konsolidasi gagasan sekaligus pelampiasan keresahan generasi muda terhadap situasi daerah yang dinilai semakin kompleks.
Namun, di tengah upaya membangun dialog lintas sektor, absennya Kapolres Mimika menjadi sorotan paling tajam.
Ketua PMII Cabang Timika, Abdullah Rahman Bugis, secara terbuka menyampaikan kekecewaannya. Ia menilai ketidakhadiran pihak kepolisian bukan sekadar persoalan teknis, melainkan mencerminkan lemahnya komitmen dalam membangun komunikasi dengan masyarakat.
“Forum ini adalah ruang strategis untuk menyatukan gagasan dan mencari solusi. Ketika pihak keamanan tidak hadir, maka publik berhak mempertanyakan keseriusan aparat dalam menjawab problem daerah,” tegasnya.
Kekecewaan serupa juga disuarakan oleh organisasi kepemudaan yang tergabung dalam kelompok Cipayung Mimika.
Mereka menilai absennya Kapolres sebagai bentuk ketidakpekaan terhadap ruang dialog yang melibatkan elemen masyarakat sipil.
Di sisi lain, diskusi berlangsung dinamis dan bahkan memanas. Berbagai kritik mengemuka, terutama terkait belum optimalnya penanganan persoalan keamanan serta dampaknya terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Akademisi Michael Hatarua Rajagukguk dalam pemaparannya menegaskan bahwa pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam situasi ini. Ia mendorong generasi muda untuk tampil sebagai kekuatan intelektual yang mampu menawarkan solusi nyata.
“Pemuda harus menjadi produsen gagasan, bukan sekadar pengamat. Tanggung jawab pembangunan daerah tidak bisa dilepaskan dari peran aktif generasi muda,” ujarnya.
Forum ini dihadiri oleh berbagai elemen, mulai dari OKP/OK, kelompok Cipayung Mimika, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), hingga Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Kehadiran lintas elemen ini mempertegas bahwa persoalan Mimika tidak bisa diselesaikan secara parsial.
Diskusi ditutup secara simbolis dengan pemotongan tumpeng, namun substansi yang tertinggal jauh lebih penting: meningkatnya kegelisahan publik sekaligus tuntutan agar negara hadir lebih serius.
PMII Mimika menegaskan bahwa kritik yang disampaikan bukan bentuk serangan, melainkan dorongan agar aparat, khususnya kepolisian, lebih terbuka, responsif, dan hadir dalam ruang-ruang dialog publik.
Jika kondisi seperti ini terus berulang—di mana forum publik diabaikan dan komunikasi tersumbat—maka yang dipertaruhkan bukan hanya efektivitas penyelesaian masalah, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.
"Elang Kei'

























Komentar via Facebook